Pernyataan resmi mujahidin JNIM atas serangannya terhadap posisi penjajah Perancis di Mali

Duniaekspress.com. (21/2/2019). — Mali — Pada 9 Februari lalu, Jama’at Nusrat al-Islam wal Muslimin (JNIM) telah berhasil melakukan serangan bom mobil kepada tentara Perancis yang menjajah Mali. Serangan tersebut menghancurkan kendaraan lapis baja, membunuh dan melukai beberapa tentara Perancis. Berikut laporannya:

قَاتِلُوهُمْ يُعَذِّبْهُمُ اللّهُ بِأَيْدِيكُمْ وَيُخْزِهِمْ وَيَنصُرْكُمْ عَلَيْهِمْ وَيَشْفِ صُدُورَ قَوْمٍ مُّؤْمِنِينَ

“Perangilah mereka, niscaya Allah akan menghancurkan mereka dengan (perantaraan) tangan-tanganmu dan Allah akan menghinakan mereka dan menolong kamu terhadap mereka, serta melegakan hati orang-orang yang beriman.” (Q.S. At-Taubah: 14).

Melanjutkan sumpah (JNIM) sebelumnya untuk meningkatkan operasinya di seluruh Mali melawan pasukan tentara salib Perancis dan anak buahnya yang menjajah wilayah tersebut, seorang pencari kesyahidan ‘Abdullah al-Barbuchi al-Ansari’, pada tanggal 04 Jumadal Akhira 1440 Hijriyah / 09 Februari 2019 M, pada pukul 09.00 pagi, mampu meledakkan bom mobilnya pada patroli tentara tersebut.

Di mana patroli tersebut terdiri dari 3 Kendaraan Lapis Baja dari tentara salib Perancis, yang masing-masing kendaraan tersebut membawa 6 orang tentara Perancis. Ketika mereka menuju ke selatan kota Timbuktu, saudara kita yang mencari kesyahidan tersebut (semoga Allah menerimanya), mencegat mereka degnan mobilnya, sehingga terjadilah tabrakan dengan satu kendaraan, dan membakar kendaraan lainnya. Amaliyah tersebut membunuh serta melukai para pasukan penjajah Prancis. Diperkirakan 5 orang tewas dan lainnya luka-luka.

Segera setelah serangan tersebut, seluruh konvoi tentara Perancis bergegas untuk mendirikan barisan keamanan. Di mana hal tersebut mencegah siapapun untuk datang ke Tempat Kejadian Perkara atau mengambil foto di sana. Para tentara kemudian mengumpulkan sisa-sisa kendaraan militer mereka dan sisa-sisa prajurit mereka yang terluka.

Upaya tersebut adalah upaya mereka untuk menyembunyikan adanya ‘kehilangan’ dalam pasukan mereka, sehingga mereka bisa mengirim peti-peti mati tentara mereka pulang kembali ke Perancis secara diam-diam. Namun usaha tersebut sia-sia. Menteri Pertahanan pemerintah Macron yang gagal, tidak malu untuk berbohong di hadap institusi tertinggi di Perancis, negara tentara salib.

Ia mengklaim bahwa Syaikh Muhammad al-Kufa (semoga Allah melindunginya) telah terbunuh, dan ia tidak malu untuk menyembunyikan kerugian yang telah mereka derita. Namun, desas-desus tetap menyebar melalui pers kuning yang mempekerjakan para jurnalis yang telah menjual diri mereka kepada para tentara salib penjajah, dan mengkhianati urusan bangsa dan rakyatnya sendiri, bahkan mereka juga bekerja sebagai gerbang bagi para tentara salib dan meninggalkan profesionalisme dalam pekerjaan mereka.

Kami memberikan kabar gembira kepada Perancis dan agen-agennya di antara para penguasa regional, dan juga kepada para tentara mereka, bahwa perang kami dengan mereka tidak akan berhenti. Dan kami juga tidak akan mundur atau beristirahat sampai kami berhasil membuat mereka keluar dari Mali sebagai pihak yang kalah, Insya Allah. Sehingga kami akan hidup di bawah naungan Syari’at dari Allah dan menikmati kekayaan alam negeri-negeri kami yang telah dijarah oleh Perancis tanpa perhitungan.

Allahu Akbar, segala kemenangan dan kemuliaan hanyalah milik Allah, milik Rasul-Nya, dan milik orang-orang yang beriman, tetapi orang-orang munafik itu tidaklah mengetahui. (RR).

Sumber : Jihadology

 

Baca juga, AQIM SERANG PASUKAN PBB DI MALI TEWASKAN 10 PERSONIL