Duniaekspress.com (7/3/2019)- Pihak keluarga dari ulama yang ditahan pihak kerajaan Saudi mengatakan, pemerintah Saudi “diam-diam” mengadakan pengadilan in absentia untuk Shaikh Salman Al-Audah.

“Kali ini, otoritas negara tidak membiarkan ayah saya [Al-Audah] menghadiri persidangan,” kata Abdullah putra dari Shaikh Salman al-Audah dalam twittnya, seperti yang dikutip Memo, Kamis (7/3/2019).

Baca Juga:

SYAIKH SALMAN AL-AUDAH DITUNTUT HUKUMAN MATI

SAUDI PINDAHKAN AL-AUDAH KEPENJARA AL-HAIR

Abdullah menambahkan bahwa jaksa Saudi menegaskan kembali pada putusan sebelumnya untuk membunuh Al-Audah.

Al-Audah adalah asisten sekretaris jenderal Persatuan Cendekiawan Muslim Internasional, yang dianggap Riyadh sebagai organisasi teroris. Dia ditangkap pada 10 September 2017 sebagai bagian dari kampanye penahanan besar-besaran, yang diprakarsai di bawah perintah Pangeran Mahkota Saudi Mohammad Bin Salman, terhadap penentang kebijakan kerajaan mengenai blokade di negara Teluk Qatar.

Baca Juga:

WILAYAH TEREBUT, INILAH KONDISI PENGUNGSI DI KAMP AL-HOL

Sebelumnya, Jaksa Penuntut Umum telah menghukum Al-Audah dengan 37 tuduhan dan menuntut “hukuman mati sebagai hukuman diskresi.”

Selama periode terakhir, putra ulama Al-Audah, Abdullah Al-Audah, mengatakan bahwa ayahnya telah ditahan dalam kondisi yang buruk. Dia telah diikat kaki, diborgol, ditutup matanya, dan disiksa, yang menyebabkan kerusakan besar pada kondisi kesehatannya.

Menurut putranya Abdullah, Al-Audah ditangkap karena ia memposting Tweet berdoa kepada Tuhan “untuk bergabung dengan hati mereka demi kebaikan rakyat mereka” tanpa menjelaskan siapa mereka. Pihak berwenang Saudi menafsirkan Tweet sebagai penolakan terhadap embargo yang dikenakan pada Qatar, yang meningkatkan kemarahan mereka dan menyebabkan penangkapannya.

Ulama yang dipenjara itu dilaporkan telah ditangkap dari rumahnya tanpa surat perintah beberapa jam setelah memposting tweet yang bereaksi terhadap krisis Teluk, di mana ia berkata: “Semoga Tuhan menyelaraskan di antara hati mereka untuk apa yang baik bagi rakyat mereka.”

Pada November 2017, otoritas kerajaan menangkap sekelompok Shaikh senior, cendekiawan, pengusaha, orang-orang kaya dan menteri, dalam apa yang dikatakan sebagai “perang melawan korupsi,” yang dianggap sebagai upaya untuk mendapatkan kontrol penuh atas panggung politik. Lusinan Islamis, penulis dan akademisi yang mengkritik kebijakan luar negeri Riyadh juga ditangkap. [fan]