Duniaekspress.com (11/3/2019)- Setidaknya sembilan warga sipil, termasuk wanita dan anak-anak, telah tewas dalam operasi militer Afghanistan di provinsi Wardak, Afghanistan tengah.

“Insiden itu terjadi ketika pasukan keamanan Afghanistan membom tempat yang diduga persembunyian pejuang Thaliban di distrik Sayed Abad di Wardak,” kata anggota dewan provinsi Masoud Shanizai, seperti yang dikutip Al Jazeera, Ahad (11/3).

Namun juru bicara kepala polisi Wardak, Hekman Durrani, hanya mengkonfirmasi enam kematian warga sipil dalam operasi itu.

Baca Juga:

AKSI MASSA ANTI PEMERINTAH DI AL-JAZAIR SEMAKIN BRUTAL DAN MEMBESAR

AMIR ISIS, ABU BAKAR AL-BAGHDADI MEMBUBARKAN KHILAFAHNYA

Bulan lalu, ratusan warga Afghanistan memprotes di provinsi Helmand selatan terhadap serangan mematikan terhadap warga sipil.

Razia oleh pasukan keamanan selama dua bulan terakhir terhadap tempat yang diduga persembunyian Thaliban di distrik Sangin di Helmand menewaskan sedikitnya 30 warga sipil dan melukai banyak orang, termasuk wanita dan anak-anak.

Serangan udara di Sangin selanjutnya telah menewaskan 21 warga sipil, kata para pejabat.

Misi Bantuan PBB di Afghanistan (UNAMA) menyatakan “keprihatinannya yang kuat” atas meningkatnya jumlah korban sipil dari serangan udara pada tahun 2018.

Dikatakan pemboman udara menewaskan 149 warga sipil dan melukai lebih dari 200 lainnya pada paruh pertama 2018, naik 52 persen dari periode yang sama tahun lalu.

Baca Juga:

MUJAHIDIN TALIBAN BONGKAR PENGKHIANATAN REZIM KABUL TERHADAP RAKYAT AFGHANISTAN

KEMENANGAN TALIBAN ATAS AMERIKA SERIKAT, MEMBAWA ANGIN SEGAR PADA MUJAHIDIN

Di Kunduz pada April tahun lalu, serangan udara Afghanistan pada pertemuan keagamaan menewaskan atau melukai 107 orang, kebanyakan anak-anak, kata UNAMA dalam laporannya mengenai insiden itu.

Pemerintah Afghanistan dan militer mengatakan serangan itu menargetkan pangkalan Thaliban di mana anggota senior kelompok itu diduga merencanakan serangan.

Pasukan Afghanistan berjuang untuk memerangi Thaliban, yang menguasai hampir setengah dari negara itu dan melakukan serangan hampir setiap hari terhadap pasukan keamanan.