Duniaekspress.com (12/3/2018)- Dua perempuan Belgia yang bergabung dengan kelompok yang menyebut diri mereka Negara Islam (ISIS) di Suriah, mengaku kehabisan harapan untuk bisa kembali pulang ke Belgia, setelah pengadilan negara itu membatalkan keputusan untuk repatriasi keduanya dan enam anak mereka.

Tatiana Wielandt dan Bouchra Abouallal, keduanya berusia 26 tahun, mengungkapkan kepada Reuters bahwa mereka ingin anak-anak mereka dibawa ke Belgia agar bisa hidup “lebih baik”.

“Apa yang saya harapkan? Tiket pulang,” kata Abouallal di pengungsian Ain Issa, di utara Suriah.

“Saya paham orang-orang takut… Mereka pasti penuh prasangka, padahal mereka tidak tahu, tidak kenal kami.”

Baca Juga:

MESIR TAHAN JENAZAH PARA TAHANAN POLITIK

REZIM ASSAD SERANG KELOMPOK RELAWAN KEMANUSIAAN DI IDLIB

Negara-negara Eropa saat ini kewalahan mencari cara bagaimana menangani milisi dan keluarga mereka yang ingin pulang ke Eropa, setelah semakin tergerusnya wilayah ISIS.

Ide repatriasi untuk para pengikut ISIS jadi perdebatan hangat di Brussels dan berbagai ibukota negara-negara Eropa lainnya. Umumnya warga menolak karena trauma terhadap berbagai serangan yang dilakukan ISIS masih pekat membekas.

Tahun lalu, seorang hakim pengadilan Belgia memutuskan bahwa Wielandt dan Abouallal, serta anak-anak mereka dengan para milisi, boleh pulang ke Belgia. Namun, pemerintah Belgia mengajukan banding karena takut akan menjadi preseden buruk. Banding ini pun dimenangkan oleh pemerintah Februari lalu. [fan/DBS]