Duniaekspress.com (14/3/2019)- Petahanan Sipil Suriah, mengatakan, pasukan rezim Bashar al-Assad menyerang wilayah Idlib selatan yang masuk kedalam zona aman dengan bom fosfor putih yang dilarang sebagai senjata.

Mustafa Haj Yousuf, kepala Petahanan Sipil yang dikenal juga dengan sebutan Helm Putih kepada mengatakan, pasukan rezim yang dibantu para para pejuang asing yang didukung Iran dikerahkan di desa Abu Dali di provinsi Hama.

“Serangan itu dilakukan dua kali. Di keduanya, sekitar 40 bom yang dimuat dengan fosfor putih dilemparkan,” kata Haj Yousuf, seperti yang dikutip Anadolu Agency, Rabu (13/3/2019). Ia menambahkan bahwa kelompoknya gagal mendapatkan informasi korban sampai sekarang.

Baca Juga:

ULAMA PALESTINA SERUKAN KAUM MUSLIMIN BERGERAK BELA AL-AQSHA

UZBEKISTAN BERIKAN DUKUNGAN KEMERDEKAAN PADA IMARAH ISLAM AFGHANISTAN

Pasukan rezim Bashar al-Assad dengan jelas menggunakan fosfor putih yang dilarang berdasarkan hukum internasional, yang dapat dilihat dalam rekaman yang diperoleh oleh Anadolu Agency.

Fosfor, yang meracuni orang ketika terhirup, menyebabkan kerusakan besar pada otak dan paru-paru dan menyebabkan kematian.

Daerah yang menjadi sasaran bom sebagian besar diungsikan karena serangan rezim yang intensif di wilayah tersebut. Diperkirakan pemboman itu tidak menyebabkan korban.

Rezim terakhir menggunakan bom fosfor putih Maret lalu di Ghouta Timur.

Serangan rezim di zona eskalasi Idlib diperkirakan telah menewaskan sedikitnya 124 warga sipil – dan melukai lebih dari 362 lainnya – sejak awal 2019.

Pada bulan September 2018, Turki dan Rusia sepakat untuk mengubah Idlib menjadi zona demiliterisasi setelah pertemuan antara Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dan mitranya, Vladimir Putin, di Sochi, Rusia.

Ankara dan Moskow menandatangani nota kesepahaman yang menyerukan stabilisasi situasi di zona de-eskalasi Idlib, di mana tindakan agresi dilarang.

Suriah telah dikunci dalam perang saudara yang ganas sejak awal 2011, rezim Assad menindak protes pro-demokrasi dengan keganasan yang tak terduga.

Sejak itu, ratusan ribu orang telah terbunuh dan lebih dari 10 juta lainnya mengungsi, menurut pejabat PBB.