AQIM Serukan Pemerintah Al-jazair untuk Terapkan syari’at Islam dalam menjalankan Pemerintahannya

Duniekspress.com. (19/3/2019). —  Mali — Pada 9 dan 10 Maret, saluran media sosial Al Qaidah mempublikasikan pidato terbaru dari Abu Ubaidah Yusuf al-Anabi, seorang petinggi di Al Qaidah Islamic Maghreb (AQIM).

Pidato Syaikh al-Anabi berjudul, “Aljazair, Keluar dari Ruang Kegelapan”. Pidato tersebut dimaksudkan untuk memanfaatkan gelombang demo terhadap Presiden Abelaziz Bouteflika dan pemerintahan korupnya. AQIM tidak memicu demo tersebut, tetapi AQIM berusaha memasukkan agenda jihadnya ke dalam demo yang terjadi.

Departemen Luar Negeri AS menunjuk Syaikh al-Anabi sebagai ‘teroris’ pada tahun 2015. Syaikh Al-Anabi sendiri adalah orang Aljazair. AS mencantumkan al-Anabi sebagai ‘pemimpin Dewan Tokoh AQIM,” dan menjabat sebagai “Kepala Media AQIM.” Saluran media Al Qaidah menggambarkan beliau sebagai sosok yang religius.

Di masa lalu, Syaikh al-Anabi menyerukan jihad melawan Perancis, serta pasukan penjajah lainnya. Namun dalam pidato terbarunya, ia menyatakan nada yang berbeda. Dia berupaya memanfaatkan kemarahan masyarakat pada Bouteflika dan pasukan keamanannya. Syaikh Al-Anabi menggambarkan presiden Aljazair sebagai “mumi”, karena ia adalah penguasa tidak sah, baik menurut syariat Islam atau ‘konstitusi Aljazair yang seharusnya’. Syaikh Al-Anabi menunjuk ke kondisi politik dan sosial ekonomi yang buruk di negara itu sebagai sebuah akibat dari ‘tirani dan geng penjahatnya.’

Kritik Syaikh al-Anabi tentang kondisi kehidupan di Aljazair tidak jauh berbeda dari kritik masyarakat terhadap pemerintah yang berkuasa, kecuali di satu poin kunci. Dia dan AQIM ingin agar rakyat Aljazair menyerukan penerapan pemerintahan Islam di Aljazair.

Pandangan Al Qaidah, seperti yang diungkapkan oleh Syaikh Ayman al-Zawahiri dan lainnya, bahwa Arab Spring pertama pada 2010 dan 2011 telah gagal karena mereka tidak mengarah kepada pemerintahan Islam yang benar. Al Qaidah menggunakan kekosongan politik sementara yang disebabkan oleh pemberontakan, untuk memperluas basisnya. Tetapi para jihadis belum berhasil menciptakan Imarah Islam yang stabil di Afrika Utara ataupun Timur Tengah.

Syaikh Al-Anabi tampaknya memiliki kritik seperti ini dalam pikirannya, ketika ia menawarkan saran kepada rakyat Aljazair. Ia memulai pidatonya dengan merujuk pada kondisi-kondisi yang akan mengarahkan pada pembentukan sebuah Imarah Islam yang tepat. Di mana Imarah Islam tersebut hanya boleh dipimpin oleh seorang tokoh yang berpikiran religius dan memerintah menurut Syari’ah. Orang ‘kafir atau murtad asli’ tidak boleh memimpin umat Islam, dan harus dikeluarkan dari posisi otoritas di mana pun.

Kemudian, dalam rekomendasi pertamanya, Syaikh al-Anabi menganjurkan rakyat Aljazair untuk menggantikan pemerintahannya. Hal itu adalah tujuan utamanya, sampai pemerintahan Aljazair tergantikan sepenuhnya. “Tujuan akhirnya adalah membuat Aljazair diatur berdasarkan aturan Islam, dan Islam satu-satunya.” Hal itu berarti bahwa Al Qaidah bermaksud menekankan pada aspek agama dan hukum. Itu menunjukkan bahwa AQIM bukan hanya ingin untuk menggulingkan pemerintahan boneka Bouteflika, tetapi juga menggantikan seluruh sistem pemerintahannya.

Syaikh Al-Anabi menginginkan rakyat Aljazair bersatu sebagai Muslim, dan menolak segala identitas wilayah atau kesukuan yang bisa memecah belah mereka. Semua orang adalah ‘putra-putra Islam’, katanya. Mereka juga harus berpikir bahwa tidak ada perbedaan antara orang Arab dan orang asing, selama mereka memiliki aqidah yang sama. Hal inilah yang kontras dengan sistem kepresidenan Aljazair yang lama, karena ia loyal kepada orang-orang Yahudi dan Kristen.

Syaikh Al-Anabi mendorong rakyat Aljazair agar memperhatikan tuntutan agama ini, dan agar mereka mau menggunakan akhlak Islami dan etika Syari’at dalam demonstrasi mereka, sambil menghindari bentuk-bentuk kriminal, seperti penjarahan maupun pembakaran.

Syaikh Al-Anabi mengatakan kepada audiens yang dituju bahwa mereka harus mengendalikan diri mereka sendiri dalam bentuk kelompok-kelompok dan komite-komite, agar dapat memastikan bahwa mereka terhindar dari penyusup yang dapat menabur kekacauan dan menindas serta menyiksa mereka dengan dalih layanan keamanan.

Petinggi AQIM tersebut menyatakan komentar yang menarik tentang potensi terjadinya kekerasan di Aljazair. Ia mengatakan bahwa pemerintah Aljazair bisa saja melakukan kejahatan yang kemudian dituduhkan sebagai perbuatan Mujahidin. Dengan kata lain, Syaikh Al-Anabi menyangka bahwa pasukan keamanan Aljazair berniat untuk melakukan operasi ‘false flag’ yang akan mendiskreditkan para pengunjuk rasa dan mencegah demonstrasi agar tidak berjalan dengan baik.

Syaikh Al-Anabi tidak menyatakan apa yang akan dilakukan AQIM terkait demonstrasi tersebut. Tetapi ia mendukung pendekatan jihadis yang bersifat merakyat, karena para mujahidin tidak akan melakukan tindakan kriminal apapun yang dapat membahayakan kehidupan rakyat maupun harta benda mereka. Senjata para Mujahidin telah dan hanya ditujukan kepada para geng kriminal yang telah menebarkan permusuhan kepada rakyat.

Pejabat AQIM tersebut menyimpulkan dalam catatan harapannya, bahwa kerusuhan yang terjadi saat ini adalah bagian dari ‘pertempuran yang sama’ yang diperjuangkan oleh para Mujahidin di Aljazair selama berpuluh-puluh tahun. Dia memotivasi rakyat agar berpartisipasi dalam jihad tersebut.

Ia juga menggambarkan jihad tersebut sebagai perlawanan terhadap pemerintah Aljazair yang korup dan pro-Yahudi dan Nasrani. Tetapi ia memperingatkan bahwa rakyat harus bersabar ketika berjihad, karena sekarang adalah saat untuk menyebarkan lingkaran perjuangan dan menyebarkannya ke seluruh penjuru negeri. Syaikh Al-Anabi mengklaim bahwa kemenangan di bawah pertolongan Allah sangatlah dekat, karena ‘tanda-tanda kemenangan’ telah muncul di seluruh negeri.

Pesan Syaikh Al-Anabi tersebut dirilis beberapa hari sebelum Bouteflika mengumumkan bahwa ia tidak akan mencalonkan diri sebagai presiden untuk yang kelima kalinya. Nampaknya AQIM sudah menanggapi gejolak politik di Aljazair ke depannya.

Pada Februari 2011, AQIM mengeluarkan sebuah pesan yang mengatakan bahwa pesan tersebut akan diterbitkan untuk membela rakyat Libya, yang kemudian berusaha untuk menjatuhkan pemerintahan Muammar Gaddafi. AQIM memperluas perannya di Libya selama bulan-bulan berikutnya. AQIM sering bekerja melalui potongan-potongannya, termasuk kelompok Anshar al-Syariah. AQIM menggunakan kelompok-kelompok semacam itu untuk menyebarkan ajaran jihad. Bergantung pada bagaimana situasi akan berlangsung di Aljazair, AQIM mungkin dapat menggunakan model yang sama sekali lagi.

Ketika AQIM memperoleh keuntungan di Libya, Tunisia, dan negara-negara lainnya, namum Mujahidin gagal untuk meraih kekuatan politik secara total. Al-Anabi jelas mengetahui sejarah terkini dengan sangat baik. (RR)

Sumber :   longwarjournal

 

Baca juga, CABANG AL-QAIDAH AFRIKA TINGKATKAN SERANGAN PADA PENJAJAH DAN ANTEK-ANTEKNYA DI MALI