Duniaekspress.com (22/03/2019)- Aksi teror penembakan yang dilakukan oleh Brenton Tarrant (28), seorang warga Australia, terhadap dua masjid di Kota Christchurch, Selandia Baru menimbulkan pertanyaan besar bagi warga setempat. Sebab, komunitas muslim di sana sudah pernah mengadu kepada pemerintah soal kekhawatiran tentang meningkatnya aksi kekerasan dan rasisme selama lima tahun belakangan.

Seperti dilansir Associated Press, Kamis (21/3), seorang komisioner hubungan antar-ras Selandia Baru, Susan Devoy, menyatakan umat Islam di negara itu memang menghadapi kejahatan kebencian, pelecehan, dan ekstremisme selama bertahun-tahun.

Menurut Susan, seharusnya polisi jangan melupakan pihak ekstrem kanan dan bukan cuma kelompok radikal lainnya.

“Jangan bilang kejadian 15 Maret adalah kejutan. Kebencian hidup di Selandia Baru. Dan kemarin ia berjalan di Christchurch membawa senjata otomatis,” kata Susan.

Baca Juga:

SERANGAN NEW ZELAND, BUKTI KEBENCIAN KAFIR TERHADAP ISLAM

TERORIS TEMBAKI JAMAAH SHALAT JUMAT

Paul Spoonley, pakar politik sayap kanan dari Universitas Massey mengungkap sisi lain Christchurch. Ternyata kota itu lekat dengan sejarah dan menjadi basis gerakan supremasi kulit putih dan ultra nasionalisme.

Menurut Spoonley, di Christchurch terdapat sejumlah gerakan ekstrem kanan dengan sekitar 250 pendukung garis keras. Mereka terdiri dari tiga organisasi. Yakni Front Nasional Selandia Baru, Pergerakan Persemakmuran, dan Perlawanan Sayap Kanan.

Front Nasional Selandia Baru berbagi ideologi ultra nasionalisme yang sama dengan organisasi induknya di Inggris. Sedangkan Gerakan Persemakmuran menyasar kalangan remaja dengan menebar pemikiran ‘Nasionalisme Eropa’.

Sedangkan Perlawanan Sayap Kanan didirikan oleh mantan ketua Front Nasional, Kyle Chapman, pada 2009. Idenya adalah menebarkan pemikiran supremasi kulit putih.

Spoonley juga menyayangkan selama ini pemerintah Selandia Baru sangat sedikit mengumpulkan data tentang gerakan ekstrem kanan itu.

Menurut riset Spoonley, pada akhir 1980-an terdapat sekitar 70 kelompok sayap kanan di Selandia Baru. Mereka terdiri dari kalangan skinhead, neo-Nazi, dan ultra nasionalis.

Sedangkan menurut pakar sosiologi dan geng dari Universitas Canterbury, Jarrod Gilbert, Pakeha atau Pulau Selatan memang punya sejarah panjang soal rasisme sejak 1970-an. Sebab, mayoritas warga kulit putih menetap di sana. Sedangkan di Pulau Utara lebih terbuka dengan perbedaan ras.