Demonstran anti rezim terus berlanjut, tuntut presiden Al-jazair mundur

Duniaekspress.com. (24/3/2019) — Al-jazair — Ratusan ribu warga Aljazair, Jumat (22/03/2019), kembali turun ke jalan mendesak Presiden Abdelaziz Bouteflika segera mengundurkan diri. Aksi protes anti pemerintah di Aljazair telah berjalan selama sebulan.

Reuters melaporkan bahwa massa melakukan aksinya dengan damai namun polisi berupaya membubarkan mereka dengan tembakan gas air mata. Massa juga dihalau untuk tidak mendekat istana presiden.

Meskipun hujan lebat dan cuaca sangat dingin, jumlah peserta yang ikut aksi ini sama besarnya seperti Jumat lalu. Jumat dijadikan waktu untuk demonstrasi karena hari libur dan massa mudah berkumpul setelah pelaksanaan Shalat Jumat.

“Kami akan tinggal di sini sampai seluruh rezim lenyap,” kata Mahmoud Timmar (37), salah satu pengunjuk rasa yang berprofesi guru.

“Kami semakin dekat dengan kemenangan. Rezim akan terpecah dengan sendirinya,” kata pemilik sebuah restoran, Rashid Zamir (55), demonstran lainnya.

Tayangan televisi menunjukkan demonstrasi di kota-kota lain, termasuk Skikda, Alwadi dan Setif.

Demonstran anti pemerintah di al-jazair

Militer di Belakang Demonstran

Dalam perkembangan paling dramatis selama sebulan protes, kepala staf militer Letnan Jenderal Ahmed Kayed Saleh menegaskan bahwa tentara di belakang para demonstran. Ia mengatakan bahwa para demonstran memiliki “tujuan mulia.”

Pernyataan militer ini merupakan kemunduran besar bagi Bouteflika, yang telah mengkonsolidasikan posisinya selama bertahun-tahun dengan bantuan militer dan para pemimpin bisnis yang membiayai kampanyenya.

Para Demonstran yang turun ke jalan pada Jumat itu pun meneriakkan slogan bahwa tentara dan rakyat adalah saudara. Seorang pria yang membawa bungkusan paket ke FedEx Cargo, menempelkan gambar Bouteflika dan menempelkan di sampingnya tulisan “kembali ke pengirim.”

Militer sendiri terus memantau perkembangan demonstrasi dengan penuh kesabaran. Para prajurit masih di barak mereka.

Tentara melakukan intervensi sebelumnya di masa-masa kritis, termasuk pembatalan pemilihan umum yang dimenangkan oleh kelompok Islamis pada tahun 1992, yang memicu perang saudara yang menewaskan sekitar 200.000 orang. (RR)

Sumber : Reuters

 

Baca juga, AQIM SERUKAN PEMERINTAH AL-JAZAIR UNTUK TERAPKAN SYARI’AT ISLAM DALAM MENJALANKAN PEMERINTAHANNYA