Duniaekspress.com (25/3/2019)- Pemimpin partai sayap kanan Denmark Starm Kurs, Rasmus Paludan, membakar kitab suci Al-Quran, pada Jumat (22/3). Hal itu dia lakukan sebagai bentuk protes dan provokasi kepada sejumlah kaum Muslim yang menunaikan Shalat Jumat di depan gedung parlemen negara tersebut.

Dilaporkan laman Anadolu Agency, sejumlah Muslim di Denmark menggelar aksi solidaritas untuk para korban penembakan dua masjid di Christchurch, Selandia Baru, pekan lalu. Mereka berkumpul dan sempat menunaikan Shalat Jumat di muka gedung parlemen Denmark.

Baca Juga:

DEWAN ISLAM SURIAH KUTUK PEMBANTAIAN DI BAGHOUZ

DEMONSTRAN ANTI REZIM TERUS BERLANJUT, TUNTUT PRESIDEN AL-JAZAIR MUNDUR

Aksi itu diprovokasi tersebut dilakukan oleh kelompok sayap kanan ekstrem Denmark. Mereka mendatangi lokasi tempat para Muslim menunaikan shalat sambil membawa bendera Israel. Rasmus Paludan, yang juga berupaya menghasut, kemudian membakar salinan Alquran.

Kepolisian Kopenhagen segera mengambil langkah-langkah pengamanan intensif. Mereka menangkap dan menahan enam orang yang terlibat dalam aksi provokasi tersebut. Namun kepolisian tak merilis identitas mereka. Tak ada informasi pula apakah Puludan adalah salah satu orang yang ditangkap.

Partai Paludan, yakni Stram Kurs, memang dikenal sebagai partai anti-imigran dan anti-Muslim. Pada Jumat pekan lalu, dua masjid di Christchurch menjadi sasaran penembakan brutal. Insiden itu menyebabkan 50 orang meninggal dan puluhan lainnya luka-luka.

Sejumlah diberitakan pria bersenjata memasuki dua masjid dan mulai menembaki jamaah shalat Jumat di kota Christchurch, ibukota Selandia Baru. Polisi setempat mengatakan ada banyak korban yang tewas. Peristiwa itu terjadi di Masjid Al Noor di Jalan Dean dan Masjid Linwood di Jalan Linwood.

Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern mengatakan bahwa peristiwa ini adalah salah satu hari paling gelap di Selandia Baru. “Kami sedang menghadapi situasi yang sangat mengerikan di Selandia Baru. Ini, dan akan menjadi salah satu hari tergelap di Selandia Baru,” kata Jacinda Ardern.