duniaekspress.com, 27 Maret 2019. PBB telah mengirim satu tim penyelidik ke wilayah Mopti, Mali, tempat lebih dari 150 orang tewas, lebih dari 50 orang luka-luka akhir pekan ini, kata seorang jurubicara, Selasa.
pembantaian massal itu terjadi pada hari Sabtu di desa Ogossagou, rumah bagi komunitas penggembala Fulani, dekat kota Mopti di Mali tengah.
Di wilayah Mopti saja, serangan telah menyebabkan “sekitar 600 kematian wanita, anak-anak dan pria, serta ribuan orang terlantar” sejak Maret 2018, katanya kepada wartawan.
Lebih dari sepertiga dari mereka yang tewas telah meninggal sejak awal 2019, ia menambahkan.
PBB telah mengirim tim yang terdiri dari 10 petugas hak asasi manusia, seorang petugas perlindungan anak dan dua penyelidik TKP ke wilayah Mopti untuk menyelidiki serangan hari Sabtu, kata Shamdasani.
Sebuah kelompok bersenjata pada kelompok etnis Dogon – komunitas berburu dan bertani yang memiliki sejarah ketegangan dengan etnis Fulani atas akses tanah – melakukan serangan pembersihan etnis pada Sabtu kemarin.
Pada hari Minggu, pemerintah Mali mengumumkan pembubaran satu milisi Dogon.
Shamdasani mengatakan bahwa “dalam banyak kesempatan, serangan dimotivasi oleh keinginan untuk membasmi individu-individu yang terkait dengan kelompok-kelompok ekstremis yang kejam”

Etnis Fulani, yang sebagian besar beragama Islam, dituduh mendukung seorang ulama radikal, Amadou Koufa, yang menjadi terkenal di Mali tengah.

Lalu muncullah apa yang disebut sebagai “kelompok pertahanan diri” di komunitas Dogon dengan tujuan memberikan perlindungan terhadap kelompok bersenjata Fulani.
“Dengan stigmatisasi ini … Mereka sengaja ditargetkan, “kata Shamdasani.
Ibrahim Aboubakar Keita, presiden Mali, berjanji pada hari Senin untuk meningkatkan keamanan selama kunjungan ke daerah tersebut. “Keadilan akan ditegakkan,” dia bersumpah.
Amadou Diallo, seorang anggota dewan lokal yang mengecam serangan itu sebagai “pembersihan etnis”, mengatakan kepada AFP bahwa jumlah korban telah melonjak menjadi 160 dan “mungkin akan lebih tinggi lagi”.
Seorang wartawan AFP pada hari Senin mengatakan banyak rumah di desa itu telah terbakar habis dan tanah penuh dengan mayat.

(AZ dari al-jazeera)
Baca juga,

PUSAT PENDIDIKAN ISLAM DI NEWCASTLE DIRUSAK