Duniaekspress.com (29/03/2019)- Kementerian Luar Negeri memastikan akan memverikasi lebih dahulu pengakuan adanya WNI yang menyebut pernah bergabung dengan ISIS di Suriah yang menyatakan ingin pulang ke Indonesia.

Puluhan orang, di antaranya anak-anak dan kaum perempuan, yang mengaku warga Indonesia itu ditemukan berada di antara ribuan petempur asing ISIS, yang saat ini berada di kamp pengungsi di Al-Hol, Suriah timur.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri, Armanatha Nasir menyatakan, seperti saat proses pemulangan kembali atas 17 WNI dari Suriah pada 2017, verifikasi membutuhkan proses panjang dan memakan waktu lama, baik di Suriah maupun Indonesia.

“Apakah mereka benar-benar WNI. Setelah itu ada tahap selanjutnya, yaitu melihat situasi mereka, keadaan mereka, terkait psikologisnya, radikalisme mereka dan sebagainya, itu terus kita kawal, sampai nanti ada keputusan bagaimana kita bisa membantu mereka,” jelas Armanatha dalam jumpa pers di Jakarta, Kamis (28/03), seperti yang dikutip BBC.

Baca juga:

ANGGOTA ISIS ASAL BANDUNG DI BAGHOUZ SAYA INGIN PULANG KE INDONESIA

Kemenlu belum bisa memastikan kapan tahap-tahap tersebut bisa dilakukan, katanya.

Yang pasti, menurutnya, proses akan melibatkan pihak Imigrasi, kepolisian, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme BNPT, hingga keluarganya di Indonesia.

Mengapa proses verifikasi sulit dilakukan?

Lebih lanjut Armanatha menambahkan sebagian besar yang pergi ke Suriah tidak memiiki dokumen yang sah.

“Kita tidak bisa bilang bila mereka tidak punya dokumen yang sah, adalah warga dari negara tertentu,” lanjut Armanatha.

Baca Juga:

MENYERAH, RATUSAN ISIS TINGGALKAN BAGHOUZ

Karena itulah, Kemenlu akan berkoordinasi dengan berbagai pihak. “Ini merupakan hal yang terus dibahas oleh berbagai sektor,” imbuhnya.

Ada sejumlah faktor yang menurutnya menyulitkan pemerintah Indonesia untuk mengecek dan melakukan verifikasi karena kondisi Suriah yang hancur.

“Akses ke mereka pun sulit, karena mereka bukan ada di Damaskus, kalau WNI yang ada di Damaskus lebih gampang untuk diakses,” tambah Armanatha.

Pendataan jumlah WNI pun sulit dilakukan karena semua yang berangkat ke Suriah dan bergabung ke ISIS tidak melapor kepada pemerintah.

“Kalau saya ditanya berapa jumlah WNI di Suriah yang tidak melapor diri, ya tidak ada, karena memang kalau mereka tidak melapor diri mereka tidak punya datanya,” tegasnya.