Duniaekspress.com (4/4/2019)- Rezim Suriah telah menangkap seorang wanita dan empat putrinya, yang dilaporkan telah menelpon anggota keluarga terlantar yang tinggal di kubu oposisi utara Idlib.

Menurut Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia, penduduk setempat memberi tahu para jurnalis bahwa intelijen militer menangkap keluarga itu di kampung halaman mereka di Al-Rahiba, di provinsi Qalamoun, timur laut Damaskus pekan lalu.

Menurut beberapa informan intelijen yang dikuitip Memo, alasan penangkapan adalah upaya mereka untuk melakukan kontak dengan kerabat yang terlantar yang meninggalkan Qalamoun untuk Idlib karena kekerasan yang sedang berlangsung.

Baca Juga:

MEDIA ISIS UNGKAP PEMBUNUHAN AHLI GEOLOGI WN KANADA

Para pejabat yang berbicara secara anonim lebih lanjut menuduh bahwa pasukan Rusia, yang telah dikerahkan di kota, telah memasang perangkat penyadapan untuk memantau komunikasi warga dengan aktivis oposisi. Namun ini adalah kali pertama penangkapan dilakukan atas tuduhan tersebut.

Wilayah Qalamoun berhasil direbut kembali oleh pasukan rezim Suriah, bersama dengan milisi Hezbollah pada tahun 2017, dengan pasukan oposisi mundur ke utara dan pejuang Daesh (ISIS,red) digulingkan ke timur Sungai Eufrat.

Daerah yang direbut kembali oleh Damaskus telah menyaksikan kampanye penangkapan sewenang-wenang dalam beberapa bulan terakhir, dalam upaya untuk menghalangi dukungan bagi kelompok-kelompok oposisi di utara dan mengkonsolidasikan kontrol atas daerah-daerah yang pernah menyerukan pemindahan Presiden Suriah Bashar Al-Assad.

Penggerebekan dan penahanan menjadi semakin umum di Ghouta Timur, Homs dan Daraa, dengan anggota unit penyelamatan sipil Helm Putih juga ditangkap, meskipun tindakan tersebut melanggar ketentuan perjanjian rekonsiliasi.

Baca Juga:

PERNYATAAN SIKAP DR IYAD QUNAIBI TENTANG TEROR DI SELANDIA BARU

Ketakutan atau pembalasan dari pemerintah adalah salah satu faktor paling signifikan yang menghalangi kembalinya pengungsi, meskipun pemerintah menganggap Suriah sekarang aman dan menyerukan orang-orang terlantar untuk kembali dari negara-negara tetangga.

Tahun lalu seorang menteri pemerintah Lebanon mengklaim bahwa 20 pengungsi yang kembali dari Libanon dibunuh oleh rezim, dimotivasi oleh sektarianisme dan tuduhan bahwa mereka mendukung faksi utara. Laporan lain menunjukkan bahwa pemerintah Suriah menolak kembalinya keluarga Sunni ke Qalamoun dan Al-Qusayr dan pedesaannya.

Pada bulan Februari, LSM Libanon Sawa untuk Pembangunan dan Bantuan menemukan bahwa pengungsi Suriah yang melakukan perjalanan pulang ke rumah melarikan diri kembali ke Libanon setelah menemukan rumah mereka dihancurkan atau ditempati oleh orang lain, dengan sedikit bantuan yang ditawarkan oleh pemerintah.

Perang di Suriah, sekarang mendekati tahun kesembilan, telah menewaskan lebih dari 560.000 orang, sebagian besar oleh pasukan sekutu rezim.