Kisah Tiga sapi dan Singa dalam perang Suriyah ala Al-Qaidah

Duniaekspress.com. (2/6/2019). – Afghanistan – Buletin As-Sahab devisi media pusat Al-Qaidah merilis (edisi 25) seruan kepada umat Islam di Suriah untuk bersatu dan menghentikan pertikaian dan bentrokan bersenjata antar mereka, serta membawa persoalan tersebut ke meja mahkamah syariah.

Buletin tersebut memulai dengan mengutip pepatah yang cukup terkenal tentang kisah narasi Singa dalam mengelabui sekelompok sapi coklat, hitam dan putih yang lalai, ‘Celakah, sungguh saya akan dimangsa sebagaimana sapi putih di mangsa.’

Dalam kisah narasi tersebut diceritakan bahwa singa yang sadar tidak mampu menghadapi tiga sapi tersebut sekaligus dengan cerdik memangsa mereka satu persatu. Target pertama singa adalah sapi putih. Singa pun datang kepada masing-masing sapi coklat dan hitam dengan mengatakan bahwa antara ia dan mereka tidak ada pertikaian dan mereka berdua adalah temannya, serta mengingatkan bahwa jika mau ia bisa memangsa mereka bertiga sekaligus. Ia hanya ingin memangsa sapi putih, calon korbannya.

Karena mereka tidak diganggu, singa itu pun berhasil memangsa sapi putih yang sedang sendirian dan tidak mendapat pertolongan dari kelompoknya. Tidak lama kemudian, singa melakukan hal sama untuk memangsa sapi coklat. Hingga pada akhirnya singa pun berhasil memangsa ketiga sapi yang lalai tersebut.

Kemudian buletin tersebut mengingatkan bahwa pertikaian dan bentrokan bersenjata antar fraski merupakan ‘dukungan terbaik’ yang persembahkan kepada rezim penguasa Suriah. Al-Qaidah juga berpesan untuk mengambil pelajaran dari berbagai eksperimen yang telah terjadi, dan tidak lupa menasehati untuk bersatu dan mengakhir berbagai pertikaian dan fokus menghadapi rezim dan aliansi-aliansinya.

ALANGKAH BAIKNYA SEKIRANYA KAUMKU MENGETAHUI

‘Ketahuilah, sungguh saya akan dimangsa sebagaimana sapi putih di mangsa.’ Ungkapan tersebut merupakan sebuah pepatah dalam kisah naratif terkenal tentang kecerdasan singa dalam memangsa aliansi tiga sapi yang lalai.
Sungguh, di antara sunnah kauniyah Allah yang tidak akan berubah dan berganti yaitu, perpecahan, pertikaian, dan perselisihan akan mengakibatkan kegagalan, kelemahan, dan lenyapnye kekuatan. Sebagaiman firman Allah Ta’ala, “Dan taatilah Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berselisih, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan kekuatanmu hilang dan bersabarlah. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar” [QS. Al-Anfal: 46].

Perselisihan dan bentrokan senjata yang terjadi hari ini di antara fraksi-fraksi perjuang di Utara Suriah merupakan ‘dukungan terbaik’ yang disuguhkan fraksi-fraksi tersebut kepada rezim (Assad) dan aliansi-aliansinya. Karena bentrokan senjata akan menyebabkan hasil-hasil (yang buruk). Sementara hasil-hasil tersebut hadir bersama pemicu-pemicunya, dan perselisihan akan memantik persoalan-persoalan lainnya. Bahkan suatu dilema tersebut hampir tidak pernah berakhir dan selalu muncul dengan penampilan baru, yang detilnya terwujud dalam suatu interaksi khusus dan di bawah (payung) fatwa-fatwa baru yang tidak kalah cepat dan ‘berani’ dari sebelum-sebelumnya, serta sudah pasti di tengah-tengah ketergesa-gesaan—sebagian penuntut ilmu pemula—dalam mengeluarkan fatwa-fatwa yang sekiranya hal itu diajukan kepada Umar (bin Khaththab) niscaya ia akan mengumpulkan kaum Muhajirin dan Anshar untuk memutuskannya.

Akibatnya, mereka seluruhnya—kecuali yang dirahmati Allah—menjadi terkotak-kotak. Wala’(loyalitas) dan bara’ (disloyalitas) pun beralih ditujukan pada fraksi-fraksi, dan person-person, serta pada setiap seruan-seruan jahiliah. Hal ini sebagaimana yang dikabarkan Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Barang siapa yang menyerukan seruan-seruan jahiliah maka ia merupakan di antara bahan bakar neraka Jahannam” [HR. Ibnu Hibban].
Tatkala orang-orang Anshar berseru kepada sesama Anshar, “Wahai Anshar”, dan orang-orang Muhajiran berseru kepada sesama Muhajirin, “Wahai Muhajirin”, mengetahui hal itu, Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam –bersabda, “Mengapa (kalian menyerukan) seruan orang-orang Jahiliah?” Kemudian beliau bersabda, “Tinggalkanlah (seruan Jahiliah) itu, karena ia adalah (seruan) yang buruk.” Padahal menisbatkan diri pada kedua golongan tersebut (Muhajirin dan Anshar) merupakan suatu kemuliaan, sebagaimana yang disebutkan Syaikhul Islam—rahimahullah.

Sedangkan menurut manhaj Ahlus Sunnah wal Jamaah, wala’ Anda itu harus berdasarkan  (perintah) agama, permusuhan itu berdasarkan (perintah) agama, Anda mencintai (sesuatu) harus berdasarkan (perintah) agama, dan membenci (sesuatu) harus berdasarkan (perintah) agama.
Abdullah bin Mas’ud—radhiyallahu anhu—berkata, Rasulullah bersabda, “Wahai Abdullah! Ikatan Islam mana yang paling kokoh?” Ia lalu menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lah yang lebih mengetahui.” Beliau lalu bersabda, “Mencintai kerana Allah, dan membenci karena Allah” [HR. Al-Baihaqi].
Setiap Muslim akan senantiasa berorbit bersama kebenaran di mana pun ia mengorbit; bukan bersama fraksi dan kelompok, serta bukan bersama person tertentu.

Imam Syafi’i—rahihamullah—menuturkan, “Umat Islam telah berijma’ bahwa barang siapa yang dengan jelas mengetahui bahwa sautu merupakan Sunnah Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—maka ia tidak boleh mengabaikannya karena perkataan seseorang.’ [I’lamul Muwaqqi’in/Madarijus Salikin].
Syaikhul Islam—rahimahullah—juga menuturkan, “Seseorang tidak boleh menolak kebenaran dan mengikuti selainnya karena mengikuti hawa nafsunya, atau kelompok dan fraksinya. Justru, maksud dan tujuaanya harus dalam rangka hanya beribadah kepada Allah semata dan menaati Rasul-Nya, mengikuti kebenaran, dan menegakkan keadilan. Inilah di antara detil dari persoalan-persoalan wala’ dan bara’.”
Syaikhul Islam—rahimahullah—juga mengingatkan, “Barang siapa yang menggantungkan diri pada perintah kelompoknya, yaitu ketuanya, jika hal itu merupakan suatu kebaikan maka  itu terpuji. Namun jika hal itu buruk maka itu tercela.”

“Adapun ketua fraksi yang merupakan ketua kelompok yang menjadi fraksi-fraksi tersebut, jika mereka berkumpul berdasarkan yang Allah dan Rasul-Nya perintahkan dengan tanpa menambah atau mengurangi, maka mereka adalah orang-orang beriman. Mereka akan mendapat kebaikan berdasarkan kebaikan (yang mereka lakukan), dan mendapat keburukan berdasarkan keburukan (yang mereka kerjakan). Tetapi jika mereka menambahi-nambahi dan mengurang-ngurangi (perintah Allah dan Rasul-Nya) seperti bersikap fanatik (ashabiyyah) kepada orang yang masuk ke dalam kelompoknya, baik dalam hal kebenaran dan kebatilan, dan menolak apa pun dari orang yang bukan kelompoknya baik berupa kebenaran dan kebatilan, maka inilah bagian dari bercerai-berai yang dicela oleh Allah Ta’ala dan Rasul-Nya. Padahal Allah dan Rasul-Nya memerintahkan untuk bersatu dan bersepakat, melarang berpecah belah dan bertikai; memerintahkan tolong menolong dalam kebaikan dan ketakwaan, dan melarang tolong menolong dalam dosa dan permusuhan” [Al-Fatawa dan Rasail wa Masail Ibni Taimiyyah].

Dan di antara bentuk fanatisme kelompok yang paling buruk yaitu yang bertujuan menumpahkan darah umat Islam, padahal dalam waktu yang sama musuh telah mengepung kita dari segala penjuru serta menanti-nanti bara bahaya menimpa kita, serta menanti sebagian kita menghancurkan sebagian yang lain dengan membunuh pasukan, menghancurkan artileri-artileri, dan mengurus logsitik-logistik (fraksi lain). Saat itulah kita akan menyesal, sementara penyesalan pada saat itu tidak akan berarti apa pun.
Jihad di Syam masih sebagaimana fase awalnya. Penjajah yang lalim masih terus menumpahkan darah dan menodai kehormatan Ahlus Sunnah dan mengusir mereka dari wilayah-wilayah mereka, terkhusus benteng umat Islam di Ghouta yang terus mengalami pembantaian yang mengerikan

Kita harus mengambil pelajaran dari eksperimen ini, yang membuktikan bahwa solusinya hanya semuanya saling tolong menolong dengan meningkatkan kesungguhan, memperkecil pertikaian, dan fokus melawan musuh, selama kita masih sama-sama umat Islam.
Kita harus menyeru kepada semuanya untuk menghentikan bentrokan senjata dan segera berhukum kepada syariat Allah dan berpegang teguh pada tali (agama) Allah. Allah berfirman, “Maka demi Rabbmu, mereka tidak beriman sebelum mereka menjadikan engkau (Muhammad) sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, (sehingga) kemudian tidak ada rasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang engkau berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” [QS. An-Nisa: 65]. Dan firman-Nya, “Dan berpegang teguhlah kamu dengan tali (agama) Allah dan janganlah bercerai-berai” [QS. Ali Imran: 103].
Kami mengingatkan seluruh saudara-saudara (kami) di berbagai fraksi dengan sabda Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam–,  “Sungguh darah, harta, dan kehormatan kalian diharamkan atas sesama kalian.” {HR. Al-Bukhari, no. 67} Dan juga sabdanya, “Muslim yang satu dengan yang lainnya haram darahnya, hartanya dan kehormatannya” [HR. Muslim, no. 2564].

Kami berpesan kepada seluruh saudara-saudara kami yang tidak ikut terlibat dalam bentrokan bersenjata tersebut hendaknya kalian tetep konsisten dengan sikap kalian. Sungguh, Sa’ad bin Abi Waqqash mengambil sikap tidak memihak pada siapa pun saat terjadi bentrokan bersenjata yang terjadi antara Ali dan Muawiyah—radhiyallahu anhuma. Padahal orang yang paling  mulia dalam kedua pasukan tersebut adalah Ali.  

Berusahalah untuk mendamaikan antar berbagai fraksi, mendorong mereka kepada mahkamah syariat, dan memfokuskan kekuatan untuk melawan Nushairi dan aliansi-aliansinya. Inilah peran kalian, kemuliaan dan kehormatan kalian.
Kami memohon kepada Allah Yang Mahatinggi Mahakuasa agar mengembalikan tipu daya para pengadu domba; menyatukan hati hamba-hamba-Nya yang berjihad; mengumpulkan kalimat mereka di atas kebenaran dan hidayah; serta menurunkan pertolongan-Nya yang nyata buat mereka. (RR)

Sumber:  As-Sahab Telegram

 

Baca juga, SYAIKH HAMZAH GENERASI HARAPAN KEJAYAAN ISLAM