duniaekspress.com, 4 Juni 2019. Pada hari ini sebagian ummat islam merayakan hari raya iedul fitri 1440H berdasarkan pengumuman pemerintahan Arab Saudi dan beberapa negara timur tengah lainnya pada dini hari tadi malam, bahwa telah terlihatnya hilal di sana, walau sebagian negara timur tengah lainnya tidak melihatnya dan memutuskan bahwa iedul mubarok jatuh pada hari Rabu, 5 Juni 2019.

Sementara daerah Asia Tenggara, seperti Indonesia, Brunei dan Malaysia memastikan tidak melihat hilal dan memutuskan bahwa umat Islam di negaranya merayakan iedul fitri 1440H pada Rabu, 5 Juni 2019, atau shaum digenapkan menjadi 30 hari. Hal ini disepakati oleh kelompok atau organisasi kaum muslimin yang besar, seperti Muhammadiyah, NU, dan lain-lain.

Beberapa jama’ah atau kelompok jihad seperti islamic state (ISIS), NII (Negara Islam Indonesia), Hizbut Tahrir, dan lain-lain, memiliki metode yang berbeda dengan kebanyakan umat di tempatnya. Seperti kelompok islamic state dan pendukungnya, mereka menunggu-nunggu keputusan dari pemimpin mereka tentang kapan iedul fitri jatuh melalui kabar yang dikeluarkan oleh media resmi mereka. Sedangkan jama’ah lain dan pendukungnya memutuskan untuk menunggu khabar dari wilayah negeri kaum muslimin lainnya, seperti wilayah timur tengah apakah melihat hilal pada Senin malam kemarin. Dan ternyata, setelah kabar dari Arab saudi, Uni Emirat Arab, dan beberapa negara Arab lainnya saat dini hari tadi malam, maka iedul fitri jatuh pada hari selasa ini, sehingga seperti yang kita saksikan tadi pagi beberapa tempat terlihat pelaksanaan sholat ied.

Permasalahan di atas sebenarnya adalah adanya perbedaan tempat hilal, atau yang disebut dengan perbedaan mathla’, dan sikap mayoritas ikhwah adalah tidak adanya batasan mathla’, sehingga di negeri jauh manapun melihat hilal maka berlaku bagi semuanya. Dan ini adalah pendapat madzhab Maliki, Hanafi, dan Hambali, dan sebagian kecil syafi’i (Al baghawi dan abu Thayib). Dasar yang digunakan ikhwah untuk mewajibkan mengikuti hasil hilal di negeri kaum muslimin lainnya meskipun di lokal setempat tidak melihat hilal adalah:

Hadits Shahih Riwayat Ibnu ‘Umar (Abdullah bin Umar bin Khatab) radhiyallahu ‘anhu yang dikeluarkan oleh Imam Abud Daud dalam Sunannya. Ibnu Umar meriwayatkan bahwa, “Orang-orang berusaha melihat hilal. Lalu aku mengabari Rasulullah, aku melihatnya (hilal). Maka Rasulullah berpuasa dan memerintahkan manusia untuk berpuasa”. (HR. Abud Daud)

Hadits Riwayat Ibnu ‘Abas (‘Abdullah bin Abbas) radhiyallahu ‘anhuma yang juga dikeluarkan oleh Imam Abu Daud, “Seorang A’rabi (orang Arab dusun) datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu mengatakan, ‘Sungguh, aku melihat hilal [Ramadhan]’. “Apakah kamu bersyahadat La Ilaha Illallah?’’, tanya Rasul. “Iya’’, jawabnya. “Apakah kamu bersyahadat Muhamad Rasulullah?”, tanya Nabi lagi. “Iya”, jawabnya kembali. Nabi bersabda, “Wahai Bilal, umumkan kepada manusia untuk berpuasa besok”. (HR. Abu Daud)

“Puasalah karena melihatnya (hilal) dan berbukalah karena melihatnya. Jika awan menghalangi kalian sempurnakanlah tiga puluh hari. Jika dua orang saksi mempersaksikan (ru’yah hilal) maka berpuasalah dan berbukalah kalian karenanya.” (HR. An-Nasa’I 4/132, Ahmad 4/321, Ad-Daruquthni, 2/167, dari Abdurrahman bin Zaid bin Al-Khattab dari sahabat-sahabat Rasulullah, sanadnya Hasan. Demikian keterangan Syaikh Salim Al-Hilali serta Syaikh Ali Hasan. Lihat Shifatus Shaum Nabi, hal. 29)

Dari Abu Umairah Ibnu Anas Ibnu Malik Radliyallaahu ‘anhu dari paman-pamannya di kalangan shahabat bahwa :

“Suatu kafilah telah datang, lalu mereka bersaksi bahwa kemarin mereka telah melihat hilal (bulan sabit tanggal satu), maka Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam memerintahkan mereka agar berbuka dan esoknya menuju tempat shalat mereka. (HR Ahmad dan Abu Daud)

Ditafsirkan bahwa Hadis-hadis di atas konteks kalimatnya kepada semua kaum muslimin bukan hanya kepada satu negeri atau kampung tertentu, dan ini diklaim sebagai pendapat jumhur ‘ulamaa.

Imam As-Syaukani membantah pendapat-pendapat yang menyatakan bahwasanya ru’yah hilal berkaitan dengan jarak, iklim dan negeri dalam kitabnya Nailul Authar 4/195.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ Fatawa berkata : “Orang-orang yang menyatakan bahwa ru’yah tidak digunakan bagi semuanya (negeri-negeri) seperti kebanyakan pengikut-pengikut madzhab Syafi’i, diantaranya mereka ada yang membatasi dengan jarak qashar shalat, ada yang membatasi dengan perbedaan mathla’ seperti Hijaz dengan Syam, Iraq dengan Khurasan, kedua-duanya lemah (dha’if) karena jarak qashar shalat tidak berkaitan dengan hilal…. Apabila seseorang menyaksikan pada malam ke 30 bulan Sya’ban di suatu tempat, dekat maupun jauh, maka wajib puasa. Demikian juga kalau menyaksikan hilal pada waktu siang menjelang maghrib maka harus imsak (berpuasa) untuk waktu yang tersisa, sama saja baik satu iklim atau banyak iklim.” (Majmu’ Fatawa Juz 25 hal 104-105).

Adanya Madzhab yang Menyelisihi Pendapat di Atas

Pendapat tidak adanya batasan tempat mathla’ sebagai perbedaan hilal di atas (ru’yah global) tidak dipungkiri adalah pendapat mayoritas yang dibawa oleh ketiga madzhab, namun mayoritas madzhab Syafi’i berpendapat berbeda (menggunakan ru’yah lokal). Bahkan sebagian membolehkan perbedaan hilal jika sampai jarak qashar sholat. Pendapat ini didasarkan pada hadis dari Kuraib sebagai berikut:

“Sesungguhnya Ummu Fadl binti Al-Haarits telah mengutusnya menemui Mu’awiyahdi Syam. Berkata Kuraib : Lalu aku datang ke Syam, terus aku selesaikan semua keperluannya. Dantampaklah olehku (bulan) Ramadlan, sedang aku masih di Syam, dan aku melihat hilal (Ramadlan) padamalam Jum’at. Kemudian aku datang ke Madinah pada akhir bulan (Ramadlan), lalu Abdullah bin Abbasbertanya ke padaku (tentang beberapa hal), kemudian ia menyebutkan tentang hilal, lalu ia bertanya ;”Kapan kamu melihat hilal (Ramadlan) ?  Jawabku : “Kami melihatnya pada malam Jum’at”.Ia bertanya lagi : “Engkau melihatnya (sendiri) ?”  Jawabku : “Ya ! Dan orang banyak juga melihatnya, lalu mereka puasa dan Mu’awiyah Puasa”.Ia berkata : “Tetapi kami melihatnya pada malam Sabtu, maka senantiasa kami berpuasa sampai kamisempurnakan tiga puluh hari, atau sampai kami melihat hilal (bulan Syawwal) “. Aku bertanya : “Apakahtidak cukup bagimu ru’yah (penglihatan) dan puasanya Mu’awiyah?  Jawabnya : “Tidak ! Begitulah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, telah memerintahkan kepada kami”. (HR Muslim, Abu Dawud, An-Nasa’i, At-Tirmidzi, Ibnu Khuzaimah, Ad-Daruquthni, Al-Baihaqy dan Ahmad, semuanya dari jalan : Ismail bin Ja’far, dan Muhammad bin Abi Harmalah dari Kuraib dari Ibnu Abbas. Berkata Imam At-Tirmidzi : Hadits Ibnu Abbas hadits : Hasan-Shahih Gharib. Berkata ImamDaruquthni : Sanad (Hadits) ini Shahih.

Dari hadis di atas bahwa ternyata Ibnu Abbas kemudian tidak menyamakan awal/akhir Ramadhan dengan penduduk Syam setelah persaksian Kuraib. Dan beliau mengatakannya sebagai perintah Rasul SAW. Apalagi mayoritas umat islam indonesia dan asia tenggara adalah menganut madzhab syafi’i sehingga menggunakan ru’yah lokal.

Perintah Berpuasa Ramadhan dan Sholat Ied sesuai Mayoritas Umat 

Disamping permasalahan dalil ru’yah lokal di atas ada juga dalil perintah untuk berpuasa dan berbuka bersama mayoritas umat.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

الصَّوْمُ يَوْمَ تَصُوْمُوْنَ, وَالْفِطْرُ يَوْمَ تُفْطِرُوْنَ, وَاْلأَضْحَى يَوْمَ تُضَحُّوْنَ

“Puasa itu adalah di hari kalian (umat Islam) berpuasa, hari raya adalah pada saat kalian berhari raya, dan berkurban/ Idul Adha di hari kalian berkurban.”

(HR. At Tirmidzi no. 697,   Imam At tirmidzi mengatakan: hasan gharib. Syaikh Al Albani menshahihkan dalam Ash Shahihah No. 224)

Hadits ini  menjelaskan bahwa hendaknya kita berpuasa, Idul Fitri, dan Idul Adha ketika manusia  melakukannya, jangan menyendiri.

Imam At Tirmidzi menjelaskan: Dan sebagian ahli ilmu menafsirkan hadits ini, mereka berkata : makna hadits ini adalah berpuasa dan berbuka adalah bersama jama’ah dan mayoritas orang. Senada dengan yang dikatakan imam Al munawi.

Kemudian Lajnah Daimah Saudi sendiri  menganjurkan berhari raya bersama manusia di negerinya masing-masing.   Misalnya Fatwa Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin Rahimahulla ketika  ditanya: jika terjadi perbedaan hari Arafah disebabkan oleh perbedaan negara yang berbeda mathla’ hilalnya apakah kita berpuasa mengikuti ru’yah negara tempat kita berada, ataukah mengikuti ru’yah Haramain (Makkah dan Madinah)?

Syaikh menjawab: Jawaban pertanyaan ini adalah berdasarkan perbedaan pendapat ulama, apakah ru’yah hilal itu satu di seluruh dunia ataukah berbeda menurut perbedaan mathali’ (tempat terbitnya hilal)? Yang benar adalah ru’yah itu berbeda sesuai perbedaan mathali’. Misalnya jika hilal telah di ru’yat di Makkah dan tanggal hari ini di Makkah adalah tanggal 9 Dzulhijjah, lalu di negeri lain hilal telah dilihat sehari sebelum ru’yat Makkah, sehingga hari ini di tempat itu adalah tanggal 10 Dzulhijjah, maka penduduk negeri tersebut tidak boleh berpuasa hari ini karena bagi mereka ini adalah Idul Adha.

Begitu juga jika ditakdirkan hilal terlihat di negeri tersebut sehari setelah ru’yah di Makkah, sehingga tanggal 9 di Makkah adalah tanggal 8 di negeri mereka, maka mereka tetap berpuasa esok hari (tanggal 9 di negeri mereka) bertepatan dengan tanggal 10 Dzulhijjah di Makkah. Inilah pendapat yang raajih (kuat). Karena Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Jika kamu melihatnya (hilal), maka berpuasalah, dan jika kamu melihatnya maka berharirayalah). Mereka yang di negerinya hilal belum muncul tidak bisa melihatnya, sebagaimana manusia (kaum muslimin) sepakat bahwa mereka menggunakan terbit fajar dan terbenamnya matahari sendiri-sendiri sesuai lokasi negeri mereka, begitu pula dengan penetapan waktu bulanan ia seperti penetapan waktu harian.

(Majmu’ Fatawa wa Rasail No. 405. Darul Wathan – Dar Ats Tsarayya)

Sikap Toleran terhadap Perbedaan ini

Dengan demikian maka sikap memaksakan dan memvonis terhadap Perbedaan ini menurut kami adalah sikap berlebihan. Ada kaidah dalam ushul fiqih bahwa suatu ijtihad tidak dapat dibatalkan dengan ijtihad. Dan sikap tidak toleran terhadap Perbedaan ini menimbulkan perpecahan di antara umat.

Apalagi yang berkembang dalam perbedaan penentuan hilal ini dikait-kaitkan dengan loyalitas (wala’) kepada pemerintah zolim, pemerintah thoghut dan sebagainya maka menurut kami hal tersebut sudah di luar jalur. wallohu a’lam bis showab

(AZ)

Baca juga,

KISAH TIGA SAPI DAN SINGA DALAM PERANG SURIYAH ALA AL-QAIDAH