duniaekspress.com, 9 Juni 2019. Hubungan antara afiliasi IS di Sinai dengan Hamas yang semula saling bantu berubah menjadi seperti sekarang ini terkuak sudah dengan penemuan bukti dokumen surat yang ditulis Abu Maram Al-Jaza’iri  dan video klip ISS (IS wilayah Sinai) yang mengeksekusi anggotanya yang memberikan bantuan senjata kepada Hamas.

Dokumen berupa korespondensi antara tokoh pusat IS dengan afiliasi IS di Sinai tersebut, yang ditulis oleh Abu Maram Al-Jaza’iri, pertama kali diterbitkan oleh MEMRI (the Middle East Media Research Institute), sebuah Lembaga Penelitian tentang timur tengah, dokumen tersebut autentik karena diterbitkan juga oleh chanel Media IS yang diasuh oleh al-Nadhzir al-Uryan, seorang tokoh ghulat  (ekstremist) di tubuh daulah (IS).

Sejarah Awal IS Wilayah Sinai.

Sebelum berbaiat kepada Abu Bakar al-Baghdadi, kelompok ini awalnya bernama Jama’ah Anshar Baitul Maqdis (JABM). Wilayah operasi kelompok ini adalah gurun Sinai dan Gaza. Kelompok ini awal berdiri saat Presiden Mesir, Husni Mubarak lengser pada 2011, namun kelompok ini belum terkenal. Manhaj JABM mengikut manhaj Al-qaeda, meskipun secara resmi tidak pernah menjadi bagian /afiliasi dari Al-qaeda.

Kelompok ini memfokuskan diri untuk menyerang aparat pemerintah dan keamanan Mesir setelah presiden Mesir, Muhammad Mursi dilengserkan dan penangkapan serta pembunuhan para aktivis Islam yang mendukung Mursi, sehingga serangan mereka adalah bentuk dari balas dendam atas kezaliman pemerintah pengkudeta Mesir terhadap aktivis Islam.

JABM pertama kali mendapat pengakuan internasional pada Juli 2012 ketika menyerang jaringan pipa Mesir yang mengekspor gas ke Yordania dan Israel

Sebelum berbaiat kelompok ini mengutus dua orang utusan ke Suriah untuk menghadap langsung kepada Abu Bakar al Baghdadi untuk menawarkan apakah IS berkeinginan membantu secara materi (uang dan senjata) kepada kelompok ini sebelum berbicara tentang baiat. Lalu pada bulan selanjutnya, November 2014, JABM menyatakan berbaiat kepada Abu Bakar al-Baghdadi melalui tayangan klip video yang muncul di tweet resmi mereka.

Hubungan dengan Ikhwanul muslimin dan Hamas

Awalnya JABM mendapatkan suplai senjata dan peralatan dari dua sisi, sebelah barat dari kelompok jihad di Libya, sedangkan dari timur dari terowongan-terowongan perbatasan Mesir dengan Gaza. Aktivitas amaliyat kelompok ini meningkat drastis sejak presiden Mursi dilengserkan, bahkan beberapa perwira Mesir, Tunisia, dan peneliti Barat menyebutkan adanya hubungan JABM dengan Ikhwanul Muslimin Mesir.

Pada bulan September 2013 misalnya, setelah serangan terhadap Menteri Dalam Negeri Mesir, Mayor Jenderal Ahmad ‘Abd al-Halim menjelaskan bahwa “Anshar Bait al-Maqdis adalah sebuah organisasi dari 15 organisasi yang bertindak dan bekerja di Gaza dan termasuk dalam lingkup al- Qaeda dan Hamas.” Sementara Hamas, merupakan sayap militer ikhwan berdasarkan artikel kedua organisasi tersebut, dan ini tidak terbantahkan.

Namun pernyataan beberapa pejabat Mesir ini tentu saja tidak dapat kita terima mengingat adanya upaya “menterorisasikan” ikhwanul muslimin, sampai akhirnya terkuak hubungan keduanya melalui dokumen yurisprudensi antara tokoh penting IS (Abu Maram Al-Jaza’iri) dengan IS wilayah sinai.

 

Siapakah Abu Maram Al-Jaza’iri?

Abu Maram berasal dari Aljazair. Dia belajar agama di Aljazair dan juga di wilayah Hijaz Arab Saudi selama beberapa waktu sebelum kembali ke Aljazair. Dengan didikan ini, ia fasih dalam manhaj Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab. Dia akhirnya bermigrasi ke Suriah dan bergabung dengan Negara Islam (IS), melayani untuk waktu yang singkat sebagai anggota Maktab al-Buhuth wa al-Dirasat. Dia kemudian dipindahkan di antara ‘posisi-posisi Syari’i’ yang tidak disebutkan namanya (yaitu posisi-posisi dalam urusan agama) sebelum bertugas di ‘komite manhaj’ (= Lajnah Manhajiyah, yaitu sebuah badan yang berurusan dengan arah ideologis Negara Islam). Dia sempat memimpin Lajnah Mufawwadhah IS, sebuah lembaga tertinggi di bawah khalifah yang bertugas membawahi semua diwan, media dan berbagai gubernur wilayah, sebelum akhirnya diturunkan oleh Abu Bakar al-Baghdadi setelah menerbitkan memo 17 Mei 2017 yang kontroversial.

Isi Surat yang Ditulis Abu Maram

penulis mengkritik khususnya tentang hubungan Negara Islam Sinai (IS-Sinai) dengan Hamas melalui diskusi panjang di dua bagian. Pertama, dalam keadaan apa, jika bisa, seseorang dibolehkan meminta bantuan orang-orang kafir asli untuk menghadapi orang-orang kafir lainnya? Yang kedua, dalam keadaan apa, jika mungkin, bolehkah seseorang meminta bantuan orang murtad untuk melawan orang-orang kafir?

Namun semua hal di atas adalah pembahasan fiqih meminta pertolongan terhadap berbagai kelompok kafir atau murtad. Yang mana Abu Maram merujuk kepada paham madkholi. Bagian penting dari kritik Abu Maram adalah pada 3 lembar terakhir, dimulai bagian tiga, sebagai berikut:

Bagian Tiga: Komentar tentang hubungan Hamas Pada awalnya kami mengatakan bahwa kekufuran pemerintahan Hamas itu zohiroh (nyata), dan bukan khofi (samar) bagi ikhwah seperti di Sinai, tetapi mereka adalah kondisi dimana orang-orang sangat mengerti akan keadaan mereka berdasarkan menjadi tetangga, dan saya telah berbicara tentang berbagai jenis kemurtadan di mana Hamas telah jatuh ke dalamnya di dalam Buku ‘Pengkhianat Muslim’, sehingga mereka tidak termasuk orang yang harus diudzur oleh jahil haal.

Dan setelah meniliti secara ditail korespondensi antara yang ditunjuk  oleh ikhwah di sinai dengan Batalyon al-Qassam (sayap militer pemerintah Hamas yang murtad), menjadi jelas bahwa orang yang ditunjuk untuk berkomunikasi dengan mereka tidak baro’ (mengingkari) mereka atau menyatakan takfir kepada mereka, melainkan dia ramah dan berdamai terhadap mereka, dan dia tidak dalam keadaan ikrah atau paksaan, melainkan dia berada di tempat tamkin dan tanah jihad. Memang Hamas murtad lebih membutuhkan hubungan tersebut dan lebih antusias daripada ikhwah, dikarenakan ketiadaannya dianggap merupakan akibat pengepungan terhadapnya. Dan kurangnya pendekatan takfir, lalu rasa bersahabat terlihat  jelas dari pemberian salam dan menggambarkan mereka sebagai saudara yang terhormat, dan menggambarkan pekerjaan mereka dengan penerimaan dan doa untuk mereka agar Alloh tidak menahan pahala mereka, dan menggambarkan dari mereka yang terbunuh sebagai syuhada.

Dan ada pernyataan bahwa kerja sama tersebut baik untuk umat dan sejenisnya. Memang, ketika diskusi beralih ke rumor yang menyebar bahwa ikhwah di Sinai menyatakan takfir pada Hamas, juru bicara dari pihak ikhwah di Sinai mengutuk pembicaraan tentang beberapa pemimpin di Hamas – ‘klaim mereka’ – yang mana ikhwah menyatakan takfir pada mereka dan dia menganggapnya sebagai upaya untuk mengganggu kemurnian hubungan di antara mereka, maka pihak Hamas menanggapi mereka bahwa belum sampai ke telinga mereka bahwa ada ikhwah yang menyatakan takfir kepada mereka dan bahwa pembicaraan itu hanyalah distorsi untuk mengganjal dan menggagalkan hubungan yang didirikan atas agama dan akhlak !!

Berkata Abdullah dan al-Husseinl, dua putra Syekh Muhammad bin Abd al-Wahhab : “Manusia tidak bisa menjadi Muslim kecuali  dia mengetahui Tauhid, dan mengakuinya dan beramal sesuai dengan itu, percaya kepada Rasulullah (SAW) dalam apa yang dia kabarkan, menaati dia dalam apa yang dia larang dan perintahkan, dan mengimani padanya dan apa yang dia bawa. Jadi orang yang mengatakan: Aku tidak memusuhi para penyembah berhala, atau memusuhi mereka dan tidak menyatakan takfir pada mereka, atau mengatakan: Saya tidak menentang umat yang mengatakan tidak ada Ilah selain Alloh, walaupun mereka melakukan kekufuran dan penyembahan berhala dan memusuhi agama Alloh, atau mengatakan: Saya tidak menentang tempat pemujaan para kudus. Orang ini bukan Muslim, tetapi dia adalah salah satu dari mereka yang tentangnya Alloh berfirman : “Dan mereka berkata; ‘kami beriman pada sebagian dan ingkar pada sebagian yang lain’. Dan mereka berharap untuk mengambil jalan di antaranya. “Dan Allah Yang Mahatinggi dan Mahakuasa adalah Dia – telah membuat permusuhan wajib kepada para penyembah berhala, dan baro’dari mereka dan menyatakan takfir pada mereka. Karena Dia berfirman:” Kamu tidak akan menemukan orang yang beriman kepada Alloh dan Hari Akhir yang bersahabat dengan orang yang menentang Alloh dan Rasul-Nya, walau mereka adalah ayah atau anak laki-laki atau saudara mereka atau klan mereka. ”  Dan Yang Mahakuasa berfirman :” wahai, orang-orang yang beriman, jangan mengambil Musuh Ku dan musuh kalian sebagai sekutu dan bersikap ramah terhadap mereka karena mereka tidak beriman pada apa yang datang kepada kalian dari kebenaran “- dan Alloh Maha tahu yang terbaik” – (Majmu’at al-Rasa’il 1/73).

Dan sebagai kesimpulan, kami menegaskan perlunya menundukkan ikhwah yang menghubungi Hamas yang murtad dan siapa pun di belakang mereka dari amir hingga ke pengadilan: siapa di antara mereka yang masih hidup. * Dan kami menegaskan perlunya memberi tahu amir ikhwah tentang kebenaran hubungan antara mereka dan Hamas yang murtad dan cara berurusan dengan mereka seperti yang telah ditegaskan sebelumnya, sambil menjelaskan kepada mereka kekufuran mereka dan menegaskan kemurtadan mereka dan mengingkari mereka seperti yang dikatakan oleh Yang Mahakuasa:

“Telah ada bagi kamu contoh yang baik pada Ibrahim dan orang-orang yang bersamanya, ketika mereka berkata kepada kaum mereka: sesungguhnya kami mengingkari kamu dan apa yang kamu sembah selain Alloh. Kami telah mengingkari kamu dan telah muncul di antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian selamanya sampai kamu beriman pada Alloh semata. Kecuali kata-kata Ibrahim kepada ayahnya: Aku pasti akan meminta maaf kamu (kepada alloh), tetapi saya tidak memiliki apa pun dari Alloh untuk Anda: Tuhan kami, atas Engkau kami tawakkal, kepada Engkau kami telah kembali, dan kepada Engkau adalah tujuannya. ” Dan Tuhan tahu yang terbaik dan yang terakhir dari panggilan kita adalah puji bagi Alloh, Robb semesta alam dan sholawat dan salam Robb  bagi sayyid kami Muhammad (SAW), keluarganya, sahabat dan pengikutnya.

Ditulis oleh Abu Maram al-Jaza’iri

Semoga Tuhan mengampuninya.

Kesimpulan yang Dapat ditarik

Dari surat tersebut dapat kita tarik hal-hal sebagai berikut:

1. Antara Hamas dan Negara Islam wilayah Sinai sebelum perintah dalam surat ini telah terjadi hubungan dan kerjasama yang baik, dalam hal ini hamas diwakili oleh sayap militernya: brigade ‘izzudien al qossam

2. Pihak wilayah Sinai menganggap Hamas adalah ikhwan dan tidak mengkafirkan atau memurtadkannya. Ini terlihat dari pernyataan Abu Maram bahwa wakil yang ditunjuk untuk berkomunikasi dengan Hamas mendoakan Hamas, menjawab salam, dan menganggap yang meninggal di kalangan Hamas sebagai syuhadaa.

3. Meskipun ada sebagian ikhwan-ikhwan pada IS wilayah Sinai yang mengkafirkan tokoh-tokoh Hamas namun hal ini diredam karena dianggap kontraproduktif terhadap hubungan kedua pihak, bahkan dari pihak Hamas juga pura-pura tak mendengar dan mengabaikan hal ini.

4. IS pusat menghendaki agar wilayah Sinai menganggap Hamas sebagai kelompok murtad, bahkan mengadili orang-orang Hamas yang tertawan dan masih hidup, bersikap baro’ dan memusuhi mereka.

Eksekusi  Terhadap Anggota IS Sinai 

Ada sebuah peristiwa penting pada kelompok IS Sinai, saat mereka mempublikasikan hukuman eksekusi terhadap anggotanya yang bernama Musa Abu Zumaath pada awal Januari 2018. Dimana vonis mati dikarenakan Musa atau Abu Aisyah telah melakukan penyelundupan senjata kepada Brigade al qasam, sayap militer Hamas yang disebut qodli IS Sinai ini sebagai bentuk membantu kaum musyrikin. Bertindak sebagai qodli bernama Hamzah Zamli, dan eksekutor adalah Muhammad al Dajani, keduanya adalah mantan aktivis hamas. Setelah video ini tersebar, ayah Hamzah sangat menyesali kelakuan anaknya, sementara paman al dajani bahkan ingin membunuh dajani dengan tangannya sendiri.

Berikut videonya:

Melihat kejadian ini dapat disimpulkan bahwa IS Sinai  telah mengikuti alur yang diinginkan Abu Maram al-Jaza’iri, tokoh ghullat, yang pada bulan September 2017 telah dipecat oleh abu Bakar al-Baghdadi (khalifah IS) dari posisi ketua lajnah Mufawwadhah IS, lalu kabur ke luar negeri. Dan Abu Bakar al-Baghdadi tidak pernah merevisi instruksi yang diberikan abu Maram Al-Jaza’iri, sehingga instruksi ini sebenarnya sejalan dengan yang dipahami oleh baghdadi.

Secara hukum syar’i eksekusi terhadap Musa melanggar hukum islam secara bertingkat-tingkat. Dimulai dari praktik kafir berantai, sampai pada pengkafiran atas tindakan seorang Musa yang melakukan penyelundupan itu sebagai bentuk kepedulian atas palestina dan usahanya untuk menyudutkan zionis atau menolong agama Alloh itu sendiri.

(AZ)

Baca juga,

MUJAHIDIN BERHASIL REBUT WILAYAH STRATEGIS DI BARAT LAUT HAMA