duniaekspress.com, 22 Juni 2019. Setelah Amerika mengembargo program pesawat tempur F 35 karena Turki membeli sistem rudal darat ke udara S 400 milik Rusia, Turki tidak tanggung-tanggung berinisiatif membuat sendiri pesawat tempur modern generasi ke-lima yang mengimbangi F 35, yang diberi nama sementara TF-X. Proyek ini dilaksanakan oleh Turkey Aerospace Industries (TAI), dan merupakan program pertama kali dilakukan secara sendirian. Ini karena sebelumnya Turki selalu membuat pesawat tempur dalam bentuk konsorsium atau kerjasama dengan negara lain. Termasuk dalam program jet tempur siluman F 35, TAI memproduksi bagian tengah badan pesawat, saluran masuk udara, dan cantelan senjata. TAI juga memproduksi F 16 di bawah lisensi amerika. Akibat embargo program F 35 Turki, amerika akan memulangkan semua personel angkatan udara Turki pada akhir Juli ini, menjual sisa F 35 yang tadinya diperuntukkan bagi Turki kepada negara lain, dan menghentikan TAI sebagai produsen bagian-bagian F 35.

Sebelum memutuskan untuk membangun sendiri pesawat tempur canggihnya, Turki sempat mengajukan kerjasama dengan Korea dan Swedia (SAAB). Banyak pesawat tempur generasi kelima saat ini telah terbukti mahal dan memakan waktu:  F-35 Joint Strike Fighter punya amerika telah dikembangkan selama hampir dua puluh tahun dan masih belum memasuki tingkat produksi penuh sementara Rusia, juga tidak bungkuk dalam bisnis pesawat tempur, telah menghabiskan sembilan tahun bekerja keras untuk Sukhoi Su-57. Bagaimana Turki akan mengembangkan unit-unit yang kompleks seperti radar yang dipasang di hidung, sistem peperangan elektronik, antarmuka kokpit, dan sistem integrasi tidak diketahui pasti. Turki memilih mesin F-110 General Electric, yang digunakan untuk memotori F-16 sebagai mesin awal dalam menyalakan TF-X sampai mesin domestik dikembangkan.

TF X adalah singkatan dari Turkey Fighter Xperimental, akan berupa pesawat siluman dengan kecepatan maksimum mach 2 (mach 1= 1 × kecepatan suara atau kira-kira 330 m/s), dengan ketinggian maksimal 55.000 kaki, bermesin ganda dengan daya dorong 20 ton, berat maksimum take off 30 ton, dan radius tempur 690 mil.

Presiden dan CEO TAI, Temel Kotil mengatakan bahwa perkiraan TAI dapat membuat mesin sendiri pada 2023, dan memasuki uji terbang pertama pada 2025 serta masuk masa penggunaan pada 2028. “Pesawat ini akan menjadi jet tempur terbaik di Eropa, mampu membawa rudal Meteor – yang merupakan rudal Eropa terbaik saat ini- di arsenal persenjataan,” katanya. “Semoga ini juga menjadi jet tempur yang terbaik untuk NATO dan sekutu NATO.”

(RF dari berbagai sumber)

Baca juga,

‘ERA BARU PERANG DRONE’ DALAM KONFLIK TIMUR TENGAH