Amerika Serikat Batal serang Iran dengan alasan tidak ingin jatuh korban jiwa

Duniaekspress.com. (25/6/2019). – Washington – Kamis malam pekan lalu (20/06/2019) adalah momen kekhawatiran banyak orang sejak beberapa waktu sebelumnya akan kemungkinan terjadinya perang antara AS dengan Iran. Dalam perkembangannya, pada Jumat (21/06/2019) Presiden Trump diduga meninjau kembali setelah berdiskusi beberapa hal dengan jajarannya sebelum akhirnya Trump betul-betul mem batal kan serangan hanya 10 menit sebelum perang pecah dan menjadi kenyataan.

Trump merilis perintah serangan terhadap Iran pada hari Kamis (20/06) sebelumnya hingga pada tahap jet-jet tempur AS dalam kondisi siap siaga di udara dan dalam perjalanan untuk menyerang 3 target Iran, sebelum pada akhirnya Trump mengubah keputusan. Pejabat-pejabat militer, para diplomat, dan pejabat terkait AS lainnya saat itu pun berada dalam menit-menit terakhir menunggu serangan yang ujung-ujungnya tidak pernah terjadi.

Sepuluh menit di Jumat itu merupakan detik-detik krusial, dan cara Trump membuat rencana dan keputusan juga bermasalah. Nampaknya yang terjadi adalah, Trump mulai menanyakan kembali di jam-jam terakhir secara spesifik kira-kira berapa jumlah korban di pihak Iran yang akan tewas akibat perintah serangannya tersebut. Dan para jenderal militer menjawab sekitar 150 orang.

Inilah jawaban yang mengubah permainan. Trump pada awalnya hanya memerintahkan untuk melakukan serangan balasan atas jatuhnya sebuah pesawat drone AS yang ditembak Iran, dan untuk saat ini pertimbangan Trump benar bahwa membunuh 150 orang sangat tidak sebanding dengan kehilangan 1 unit drone. Di menit-menit terakhir inilah Trump batal kan serangan, sekali lagi hanya berselang 10 menit sebelum rudal pertama ditembakkan.

Seperti sedang kebingungan, Trump kemudian beralih ke isu lain yang “tidak nyambung” dengan mengatakan di Twitter bahwa Iran tidak akan pernah dibolehkan memiliki senjata nuklir. Tentu saja, rencana serangan yang hampir menyebabkan perang terbuka AS-Iran itu tidak ada hubungannya dengan isu ini. Trump lalu membeberkan ulang betapa besar resiko yang terjadi akibat sanksi Washington terhadap Iran, dan betapa Iran sudah melemah akibat sanksi tersebut.

Meski agak rumit dan bermasalah, para politisi hawkish atau pendukung perang di pemerintahan Trump bagaimanapun juga sudah berhasil “memprovokasi” Trump untuk menandatangani sebuah perintah perang pada hari Kamis. Dan, pernyataan Trump berikutnya di Twitter menunjukkan bahwa kerugian 1 unit drone bukan merupakan masalah besar yang bisa menyeret ke sebuah perang terbuka. Pembatalan perang pada hari Jumat lalu oleh Trump tetap menyisakan kekhawatiran bahwa Trump bisa jadi akan memerintahkan serangan lain yang berskala kecil dan bisa dilancarkan sewaktu-waktu, atau setidaknya membalas dengan sesuatu yang berbeda dengan rencana serangan pada hari Kamis pekan lalu yang ia tidak harus kembali menanyakan berapa jumlah korbannya. (RR).

Sumber : Antiwar

 

Baca juga, IRAN SESUMBAR SIAP PERANG DENGAN AS SETELAH TEMBAK JATUH PESAWAT DRONE AS