PBB : Imarah Islam Afghanistan (Taliban) “Rumah Besar” bagi para Jihadis Dunia

Duniaekspress.com. (25/6/2019) – Washington – Tim pemantau Dewan Keamanan PBB melaporkan bahwa Al-Qaidah dan Taliban masih menjadi sekutu dekat. Al-Qaidah telah tumbuh dan beroperasi lebih kuat di bawah naungan Taliban di Afghanistan, dan lebih aktif daripada beberapa tahun sebelumnya.

Beberapa orang menggambarkan Taliban sebagai organisasi yang murni nasionalis, namun PBB mencatat bahwa Taliban adalah rekan utama bagi seluruh kelompok jihad asing yang beroperasi di Afghanistan, kecuali ISIS cabang Khurasan, yang berupaya untuk menghancurkan legitimasi Taliban.

“Para anggota al-Qaidah berperan sebagai instruktur dan guru agama bagi para personil Taliban dan anggota keluarga mereka.” Serta, “Sejumlah aktivis al-Qaidah dilaporkan telah berada di Afghanistan dari Mesir.” Mesikpun PBB tidak mengidentifikasikan kapan orang-orang Mesir ini tiba di Afghanistan.

PBB menilai bahwa Taliban bekerjasama dan mempertahankan hubungan yang kuat dengan al-Qaidah, AQIS (al-Qaidah di anak benua India), Jaringan Haqqani, Lashkar e-Tayyiba, Gerakan Islam Uzbekistan (IMU), dan Gerakan Islam Turkistan Timur (TIP). Taliban juga bekerjasama dengan hampir 20 kelompok jihad lainnya yang berfokus secara regional maupun global.

Jaringan Al-Qaidah Tumbuh dan Berkembang di Bawah Kekuasaan Taliban

“Sebagai imbalan untuk perlindungan wilayah dan perlindungan kepentingan, para pejuang asing terus beroperasi di bawah otoritas Taliban di beberapa provinsi di Afghanistan, dan tidak berkurang,” kata PBB.

Mengomentari laporan sebelumnya, PBB mengatakan bahwa al-Qaidah tetap memandang Afganistan sebagai markas bagi pemimpin mereka, berdasarkan pada hubungan kuat yang sudah lama terjalin dengan Taliban.’ Pemimpin al-Qaidah, Ayman al-Zawahiri, Hamzah bin Laden, dan para pemimpin Taliban telah berulangkali menekankan pentingnya aliansi antara kedua kelompok tersebut.

Para analis PBB memberikan gambaran geografis singkat tentang jejak al-Qaidah. Mereka mengatakan bahwa kelompok tersebut ‘berusaha untuk memperkuat kehadirannya di provinsi Badakhshan, terutama di distrik Shighnan, yang masih berbatasan dengan Tajikistan.’ Partai Islam Turkistan (TIP), yang merupakan bagian dari jaringan internasional al-Qaidah, juga memiliki kehadiran yang perlu diperhitungkan di Badakhshan.

Di tempat lain, al-Qaidah ‘sangat ingin memperluas kehadirannya di distrik Barmal di provinsi Paktika, yang didominasi oleh Jaringan Haqqani.’

Al-Qaidah juga telah ‘mengintensifkan pusat konsentrasi mereka ke wilayah perbatasan Afghanistan-Pakistan, dalam sebuah kerjasama yang kuat dengan Lashkar e-Tayyiba dan Jaringan Haqqani.’

PBB menyampaikan perkiraan kekuatan al-Qaidah dan kelompok lainnya dengan mengatakan, “Diperkirakan ada total 8,000 hingga 10,000 pejuang asing di Afghanistan.” Angka ini sudah termasuk sekitar 2,500 hingga 4,000 jihadis yang loyal kepada ISIS, “Sementara sisanya merupakan loyalis Taliban dan al-Qaidah.”

PBB mengatakan bahwa para pejabat Afghanistan menghitung sekitar 240 orang anggota al-Qaidah, dengan jumlah paling signifikan terletak di provinsi Badakhshan, Kunar, dan Zabul. “Para pemimpin dan mentor kader al-Qaidah juga sering dilaporkan terlihat aktif di Helmand dan Kandahar.”

Seperti yang telah disampaikan sebelumnya, sangat sulit untuk mendapatkan perkiraan kekuatan yang akurat untuk para organisasi jihadis. Kehadiran al-Qaidah di Afghanistan berulang kali diremehkan. Hal ini menjadi lebih sulit dengan adanya kenyataan bahwa sejumlah kelompok yang disebutkan dalam laporan PBB, diketahui merupakan sekutu dekat al-Qaidah.

Faktanya, garis pemisah antara al-Qaidah dengan kelompok-kelompok lainnya seringkali hanya samar-samar, karena para jihadis sering menggunakan nama yang berbeda-beda, milik lebih dari satu kelompok pada saat yang bersamaan.

Pada bulan September 2018, Taliban mengumumkan wafatnya Jalaluddin Haqqani, seorang ideolog dan panglima perang yang berperangaruh dan merupakan salah satu kawan pertama Usamah bin Laden di Afghanistan. Para pejabat Afghanistan menyatakan bahwa, “Sebenarnya Haqqani telah meninggal beberapa tahun sebelumnya karena penyakit yang berkepanjangan.” Namun, hal ini tidak akan berdampak besar di medan peperangan.

Salah satu alasannya adalah karena Jalaluddin menyerahkan kendali operasinya kepada putranya, Sirajuddin, sudah sejak lama. Sirajuddin Haqqani telah menjadi wakil pemimpin umum Taliban, alias orang nomor dua, sejak tahun 2015. Seperti ayahnya, Sirajuddin juga merupakan sekutu al-Qaidah.

Jaringan Haqqani milik Taliban menjalankan jaringan penggalangan dana yang membentang ke Teluk (sumber uang jangka panjang bagi para jihadis). Meskipun Taliban memiliki sejumlah aliran pendapatan, namun sumbangan yang mereka dapatkan masih signifikan.

PBB mengatakan bahwa, “Yayasan amal di negara-negara Teluk memberikan sekitar $60 juta per tahun kepada Jaringan Haqqani.” Salah satu istri Sirajuddin Haqqani merupakan warga negara Arab Saudi, dan berperan sebagai ‘mediator dalam urusan ini.’

Menurut para pejabat Afghanistan, PBB melaporkan bahwa ada sekitar 1,800 hingga 2,000 pejuang yang tergabung dalam Jaringan Haqqani yang memimpin operasi Taliban di provinsi Khost, Paktia, dan Paktika. Pengaruh Haqqani dapat dilihat pada fakta bahwa mereka menguasai seluruh posisi pemerintahan bayangan di wilayah ini, termasuk posisi pemerintahan provinsi bayangan dan pemerintahan kabupaten bayangan di ketiga provinsi tersebut.

Seorang pejabat Afghanistan yang tidak disebutkan namanya mengatakan kepada PBB bahwa, “Jaringan Haqqani telah mempengaruhi pencalonan 22 gubernur bayangan provinsi yang merupakan anggota Taliban di seluruh negeri.” Jika benar, maka Jaringan Haqqani memegang kendali besar atas struktur pemerintahan bayangan Taliban, yang dimaksudkan untuk menyaingi dan menggantikan pemerintah Afghanistan yang didukung AS.

Saat ini, Taliban Pakistan diperkirakan memiliki lebih dari 3,500 pejuang di Kunar, Paktia, dan Paktika. Dua provinsi terakhir merupakan benteng bagi Jaringan Haqqani seperti yang disebutkan di atas.

Amir kelompok Taliban Pakistan, Mullah Fazlullah, telah terbunuh bersama empat bawahannya dalam sebuah serangan drone pada bulan Juni 2018 di distrik Marawah di Kunar. Mufti Noor Wali Mehsud, seorang sarjana agama dan pejuang veteran, disebut sebagai penerus Fazlullah.

PBB melaporkan bahwa Mehsud, yang berasal dari Waziristan Selatan, sebelumnya pernah memimpin operasi Taliban Pakistan di Karachi, Pakistan. Ia dikenal karena penentangannya yang keras terhadap kampanye vaksinisasi polio. Penunjukan Mehsud kemungkinan dimaksudkan untuk menghasilkan persatuan yang lebih besar dalam kelompok tersebut.

Kelompok sempalan Taliban Pakistan, Jamaat-ul-Ahrar, juga terdapat di provinsi Nangarhar, Afghanistan. Para pejabat Afghanistan mengatakan kepada PBB bahwa Jamaat-ul-Ahrar telah terpecah menjadi dua faksi, dan beberapa pejuangnya bergabung dengan organisasi yang baru, Jamaat Hizbi Ahrar, yang dipimpin oleh Mawlawi Omar Khurasani. Faksi sempalan ini juga terus beroperasi sebagai Jamaat-ul-Ahrar.

Bersambung …

 

Baca juga, KOMITE IMARAH ISLAM (TALIBAN) ULTIMATUM MEDIA LOKAL MAUPUN ASING DI AFGHANISTAN YANG NISTAKAN JIHAD DAN MUJAHIDIN