Mujahidin Taliban Unjuk eksistensinya di kota-kota besar Afghanistan yang telah berhasil direbut dari kaum Penjajah AS

Duniekspress.com. (4/7/2019). – Afghanistan – Mujahidin Imarh Islam Afghanistan (Taliban) telah melancarkan beberapa serangan besar di seluruh Afghanistan selama beberapa hari terakhir, termasuk serangan terhadap kementrian pertahanan rezim boneka Afghanistan di ibukota Kabul, dan satu lagi terhadap para pegawai pemilu di Kandahar. Di Paktia dan Kunduz, Mujahidin Taliban berhasil menewaskan puluhan personel keamanan rezim boneka Afghanistan.

Kabul

Para pejuang Mujahidin Taliban terus menembaki pasukan keamanan rezim boneka Afghanistan yang kemudian menanggapi serangan tersebut. Para pejuang Mujahidin Taliban dikatakan telah mengambil posisi di sebuah bangunan yang sedang dibangun yang terletak dekat dengan fasilitas pertahanan.

Ini adalah taktik umum yang telah digunakan oleh Mujahidin Taliban dalam berbagai serangan di Kabul selama dekade terakhir.

Juru bicara Mujahidin Taliban, Syaikh Zabihullah Mujahid menyebutkan serangan tersebut dalam twitternya dan berkata, “Banyak para pencari syahid yang sedang memasuki gedung pertahanan, dan bertempur dengan tentara bayaran yang tersisa.”

Kandahar

Di Maruf, Kandahar, Mujahidin Taliban melancarkan serangkaian serangan besar-besaran terhadap pusat distrik tersebut, dan menewaskan 11 tentara dan 8 lainnya. Mujahidin Taliban menggunakan empat Humvee milik AS yang dikemas dengan bahan peledak. Kompleks gubernur distrik di sana dilaporkan telah mengalami rusak parah selama serangan.

Mujahidin Taliban mendapatkan pujian atas serangan tersebut dan menyatakan bahwa mereka telah menyerbu pusat distrik Maruf. Selain itu, Mujahidin Taliban menyatakan bahwa pusat distrik Maruf saat ini sedang dibangun kembali, setelah sebelumnya kehilangan kendali wilayah tersebut. Dari situs Voice of Jihad, situs resmi milik Mujahidin Taliban, menyatakan:

Di tengah-tengah operasi al-Fath yang sedang berlangsung, tadi malam mujahidin melakukan serangan terkoordinasi pada pusat administrasi distrik Maruf karena tahun lalu, distrik Maruf dikuasai oleh mujahidin. Mujahidin Taliban terakhir menguasai Maruf pada Oktober 2017 (beberapa kali terjadi perpindahan tangan antara pemerintah dan Taliban sejak 2014).

Mujahidin Taliban menyatakan bahwa pusat distrik telah dipindahkan, tetapi hal ini belum bisa diverifikasikan secara independent, bukan preseden. Pada Maret 2017, pasukan Resolute Support Mission, bawahan NATO di Afghanistan, berhasil mengevakuasi pasukan rezim boneka Afghan dari pusat distrik Sangin, kemudian membubarkan pusat distrik tersebut setelah mereka tidak mampu mengeluarkan mujahidin Taliban dari sana.

Pusat distrik Sangin yang baru kemudian dibangun kembali beberapa mil dari pusat distrik yang lama. Hal ini dianggap sebagai kemenangan, terlepas dari kenyataan bahwa Mujahidin Taliban mampu menahan senjata gabungan militer AS dan Afghanistan dan mempertahankan posisi mereka.

Paktia dan Kunduz

Di provinsi Paktia, Afghanistan Timur, (yang merupakan rumah bagi sub kelompok Mujahidin Taliban yang kuat dan berpengaruh, Jaringan Haqqani), para mujahidin berhasil menewaskan 18 personel keamanan rezim boneka Afghanistan dan melukai 17 lainnya, menurut Pajhwok Afghan News. Serangan tersebut terjadi di distrik Ahmadabad.

Di Kunduz, Mujahidin Taliban menewaskan 14 pasukan polisi dan menangkap 20 lainnya selama serangan terjadi di distrik Iman Sahid, lapor Pajhwok.

Gubernur distrik tersebut memerintah dari luar distrik mereka.

Serentetan serangan terjadi sebagaimana yang media TOLONews melaporkan bahwa 64 distrik di 19 provinsi di Afghanistan tidak diatur dari pusat distrik yang ada. Laporan tersebut mengkonfirmasi bahwa pusat distrik Maruf di Kandahar telah dipindahkan atau dikelola dari luar pusat distrik (Maruf secara eksplisit terdaftar sebagai salah satu distrik yang bermasalah).

Menurut laporn media ToloNews, survei menunjukkan bahwa unit administrasi di 64 distrik dari 19 provinsi, beroperasi di luar lokasi distrik tersebut, atau telah dipindahkan.

Provinsi yang paling terkena dampaknya adalah Faryab, yang memiliki sembilan distrik yang tidak diperintah dari pusat distrik aslinya, kemudian Ghazni (8), lalu Helmand dan Farah (masing-masing 7). Penilaian ini sesuai dengan analisis tentang situasi keamanan di distrik-distrik di Afghanistan.

Keempat provinsi tersebut juga termasuk yang paling tidak stabil. LWJ juga menilai bahwa 52 distrik dikendalikan oleh Mujahidin Taliban. Kegagalan rezim boneka Afghanistan untuk mengelola sebuah distrik dari pusatnya adalah indikasi yang jelas bahwa Taliban mengontrol distrik tersebut. (RR)

Sumber : Longwarjournal

 

Baca juga, REZIM BONEKA AMERIKA DI KABUL SABOTASE HUBUNGAN POLITIK IMARAH ISLAM AFGHANISTAN DENGAN SEJUMLAH NEGARA KAWASAN DAN DUNIA