Duniaekspress.com (11/7/2019)– Serangan udara rezim Bashar al Assad yang disokong sekutu utamanya Rusia pada hari Rabu (10/7), sedikitnya menewaskan 11 warga sipil termasuk empat anak-anak dan membuat sebuah rumah sakit tidak berfungsi.

Penyerangan tersebut adalah yang terbaru rezim bersama Rusia yang mematikan sejak akhir April di wilayah yang dikelola para pejuang Suriah di Idlib, meskipun kesepakatan gencatan senjata telah berlangsung selama berbulan-bulan.

Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia mengatakan, serangan udara rezim telah menewaskan tujuh warga sipil termasuk tiga anak-anak di kota Jisr al-Shughur di provinsi Idlib.

“Tiga warga sipil tewas setelah rumah sakit itu dihantam, sementara empat orang tewas di tempat lain di kota itu,” kata kepala Observatory Rami Abdel Rahman, seperti yang dikutip Zaman Wasl, Rabu (10/7).

Baca Juga:

PEJUANG SURIAH REBUT KENDALI KOTA AL-HAMAMIYA DARI REZIM ASSAD

YAMAN KECAM KIRIMAN SENJATA DARI REZIM SYI’AH IRAN KEPADA SYI’AH HOUTHI

Petugas penyelamat yang dikenal sebagai White Helmets mengatakan rudal menargetkan rumah sakit dan lingkungan perumahan di Jisr al-Shughur.

Seorang dokter di sana mengatakan fasilitas kesehatan telah rusak parah setelah generator dihancurkan, dan yang terluka telah dipindahkan ke rumah sakit lain untuk perawatan.

“Kami tidak memiliki generator lagi untuk mengoperasikan rumah sakit. Ini satu-satunya generator untuk Jisr al-Shughur dan desa-desa tetangga,” kata Bassam al-Khattab kepada AFP.

Seorang koresponden AFP melihat tiga generator yang hancur dan ambulans yang rusak tertimpa puing-puing.

Lebih jauh ke selatan, serangan udara Rusia menghantam sekelompok orang terlantar, menewaskan empat warga sipil termasuk satu anak di luar kota Maaret Hurma di provinsi Hama, kata Observatory.

Baca Juga:

HRW SEBUT PENAHANAN OLA AL-QARADAWI MELANGGAR HUKUM

BRUTAL, INILAH KEJAHATAN PERANG YANG DILAKUKAN PENJAJAH DI AFGHANISTAN

Lebih dari 550 warga sipil tewas dalam serangan rezim dan Rusia di Suriah barat laut sejak akhir April, kata Observatory.

Perserikatan Bangsa-Bangsa mengatakan 25 fasilitas kesehatan di kawasan itu telah terpukul, kendati ada kesepakatan September antara Rusia dan pendukung pemberontak Turki untuk mencegah serangan rezim besar-besaran di sana.

Lonjakan kekerasan telah menyebabkan 330.000 orang meninggalkan rumah mereka sejak 1 Mei, kata PBB.

Perang Suriah telah menewaskan lebih dari 370.000 orang dan jutaan orang terlantar sejak dimulai pada 2011 dengan penumpasan brutal terhadap protes anti-pemerintah.