Duniaekspress.com (11/7/2019)– Human Rights Watch mengatakan 22 negara Barat telah mengeluarkan pernyataan yang mendesak Cina untuk mengakhiri penahanan sewenang-wenang massal dan pelanggaran lainnya terhadap warga Uighur dan Muslim lainnya di wilayah Xinjiang.

Kelompok advokasi memuji pernyataan “penting” di Dewan Hak Asasi Manusia yang didukung PBB, yang merupakan langkah simbolis menuju ekspresi yang lebih besar dari keprihatinan tentang kebijakan Cina di Xinjiang.

Para penandatangan mengeluarkan pernyataan sebagai “surat” pada dewan, dan meminta dewan berhenti mencari resolusi lain, sebuah bukti tantangan membangun dukungan terhadap Cina yang semakin berpengaruh.

Baca Juga:

KALAP, SEBUAH RUMAH SAKIT JADI SASARAN SERANGAN UDARA REZIM ASSAD

PEJUANG SURIAH REBUT KENDALI KOTA AL-HAMAMIYA DARI REZIM ASSAD

Kelompok-kelompok hak asasi manusia dan Amerika Serikat memperkirakan hingga 1 juta Muslim dapat ditahan secara sewenang-wenang di Xinjiang.

Gambar terkait

Sebelumnya juga, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melaporkan sekitar 1 juta orang Uighur ditahan di pusat perlawanan ekstremisme. Selain itu, jutaan lainnya ditempatkan di kamp pendidikan ulang untuk indoktrinasi politik dan budaya.

Baca Juga:

CINA PISAHKAN ANAK-ANAK UIGHUR DARI ORANG TUA MEREKA

UPAYA CINA TUTUPI KEJAHATANNYA DI XINJIANG GAGAL

Orang-orang Uighur adalah kelompok etnis mayoritas Muslim yang berbahasa Turki di Cina Barat. Sementara daerah otonom Uighur, Xinjiang, memiliki beberapa aturan mandiri yang semakin ketat di bawah aturan polisi negara pemerintahan Cina.

Tindakan keras untuk Uighur terjadi pada masa pendirian komunis Cina di bawah Mao Zedong. Namun, beberapa pakar menyebut beberapa bentuk pengawasan baru seperti teknologi pengenalan wajah juga diberlakukan saat ini.