Duniaekspress.co, (11/7/2019)- Singapura akan mendeportasi sejumlah warga Myanmar yang diduga menjadi simpatisan pejuang bersenjata Rohingya, Tentara Arakan (AA).

Kementerian Dalam Negeri Singapura menyatakan bahwa salah satu warga Myanmar yang mereka tahan “memiliki hubungan langsung dengan pemimpin tinggi Arakan Army (AA).”

“Atas nama pemimpin AA, dia secara aktif memobilisasi dukungan di antara komunitas Arakan lokal dan mengoordinasikan penggalangan dana AA di sini,” demikian pernyataan Kementerian Dalam Negeri yang dikutip Channel NewsAsia.

Baca Juga:

22 NEGARA DESAK CINA AKHIRI PENAHANAN MUSLIM DI XINJIANG

KALAP, SEBUAH RUMAH SAKIT JADI SASARAN SERANGAN UDARA REZIM ASSAD

Kementerian Dalam Negeri Singapura tak menjabarkan lebih lanjut individu yang dimaksud. Namun, situs berita Myanmar, The Irrawady, melaporkan bahwa salah satu dari enam orang yang ditahan adalah saudara kepala AA, Tun Myat Naing.

Kementerian hanya menjelaskan bahwa para warga Myanmar yang ditahan itu merupakan anggota Asosiasi Arakan-Singapura (AAS).

Dalam situsnya, AAS dideskripsikan sebagai “organisasi sosial yang memberikan kontribusi bantuan dari Singapura untuk orang Arakan yang terlantar di Rakhine.”

Para warga Myanmar ini pun dilaporkan memberikan dukungan finansial ke Arakan Army. Salah satu di antaranya bahkan menyalurkan kontribusi secara rutin sebulan sekali.

Baca Juga:

PEJUANG SURIAH REBUT KENDALI KOTA AL-HAMAMIYA DARI REZIM ASSAD

YAMAN KECAM KIRIMAN SENJATA DARI REZIM SYI’AH IRAN KEPADA SYI’AH HOUTHI

Arakan Army sendiri merupakan salah satu milisi bersenjata yang mengklaim memperjuangkan hak-hak orang Rohingya di tengah deraan persekusi di Myanmar.

Namun, perlawanan mereka dianggap mulai mengkhawatirkan karena menewaskan puluhan polisi dalam sejumlah serangan.

“AA adalah kelompok bersenjata yang melakukan serangan di Myanmar, termasuk dua serangan di pos polisi pada Januari dan Maret 2019, di mana pejuang Arakan mengaku mengambil banyak amunisi dari pos polisi itu,” tulis Kementerian Singapura.

Lebih lanjut Kementerian Dalam Negeri Singapura (MHA) pun menegaskan bahwa warga asing seharusnya tak “mengimpor” masalah dalam negeri mereka ke Singapura.

“MHA akan menindak tegas siapapun yang mendukung, melakukan, atau mempersiapkan kejahatan bersenjata, tak peduli seberapa rasional kekerasan itu secara ideologi, atau di mana kejahatan itu terjadi,” bunyi pernyataan MHA.