Duniaekspress.com (16/7/2019)- Irak telah mendeportasi 33 anak-anak Rusia yang diduga menjadi bagian dari militan ISIS ke Rusia, kabar tersebut disampaikan oleh Kementerian Luar Negeri negara itu pada hari Senin (1/7).

“Anak-anak yang dilahirkan oleh wanita Rusia dikirim kembali ke Rusia minggu lalu dalam koordinasi dengan Kedutaan Besar Rusia di Baghdad,” kata jurubicara kementerian Ahmed Sahaf dalam sebuah pernyataan seperti yang dikutuip Anadolu Agency, Senin (15/7).

Baca Juga:

KISRUH PANJI HITAM DI AKHIR ZAMAN

Dia mengatakan pemerintah Irak telah mendeportasi 473 anak-anak dari anggota asing kelompok militan ISIS yang dalam akronim arab disebut sebgai Daesh ke negara asal mereka.

Pada bulan Maret, Human Rights Watch (HRW) yang bermarkas di New York menuduh pihak berwenang Irak secara sewenang-wenang menangkap dan menyiksa ratusan anak yang dicurigai berafiliasi dengan ISIS.

Kelompok hak asasi itu mengatakan sekitar 2.000 anak-anak dan 1.000 wanita dari 46 negara ditahan di penjara di Irak dan Libya serta tiga kamp di Suriah timur laut karena ikatan keluarga mereka dengan anggota atau diduga menjadi anggota ISIS.

Laporan setebal 53 halaman yang dikeluarkan HRW menyatakan pada akhir tahun 2018, pemerintah Irak dan Kurdi menahan sekitar 1.500 anak-anak karena terkait ISIS.

Paling tidak 185 anak asing dihukum atas tuduhan terorisme dan dihukum penjara, kata HRW dengan mengutip pemerintah Irak.

Dokumen HRW menuduh pemerintah setempat:

  • Sering kali menangkap dan mempersekusi anak-anak yang dipandang terkait ISIS
  • Melakukan penyiksaan untuk memaksakan pengakuan
  • Terduga pelaku diajukan ke pengadilan yang diadakan tergesa-gesa dan tidak adil

“Pendekatan menyamaratakan saat menghukum ini bukanlah keadilan dan akan menciptakan dampak negatif bagi kebanyakan anak-anak ini,” kata Joe Becker, direktur advokasi hak anak HRW.

Baca Juga:

WARGA SELANDIA BARU SERAHKAN SENPI KE PEMERINTAH

HRW pada laporannya yang dirilis bulan November menyatakan, HRW mewawancarai 29 anak-anak yang ditahan atas dugaan terkait ISIS.

Sembilan belas dari meraka dilaporkan menjadi korban penyiksaan, termasuk pemukulan dengan menggunakan pipa plastik, kabel listrik dan tongkat.

Salah satunya, anak laki-laki berumur 17 tahun yang ditahan Irak, mengatakan dia berulang kali digantung pada pergelangan tangannya selama 10 menit, kata laporan itu.

Kebanyakan dari orang yang diwawancarai mengatakan mereka bergabung dengan ISIS karena kebutuhan ekonomi, tekanan lingkungan atau keluarga.