Kisruh Panji Hitam di Akhir Zaman

Duniaekspress.com. (13/7/2019). Sekarang ini muncul orang-orang atau kelompok yang gencar dan gandrung membahas nubuwah akhir zaman. Bahkan mereka membahasnya terlalu dalam, dan terpeleset dalam penafsiran yang super yakin, lalu menempatkannya pada posisi dalil dalam melegalkan atau membenarkan manhaj kelompok tertentu. Diantaranya adalah perihal panji hitam (royatu suud).

Penggunaan dalil panji hitam sebagai pembenaran kelompok tertentu atau kepentingan politik praktis bukan hanya dilakukan oleh Daesh/ISIS atau daulah IS seperti yang terjadi sekarang ini, akan tetapi ternyata hal tersebut sudah terjadi berabad-abad lampau saat abbasyah memberontak melawan kekhalifahan mua’wiyah berujung pada terjadinya kekhalifahan abbasyah, juga dipakai saat kelompok syi’ah memberontak melawan abbasyah. Dan sanad hadisnya banyak dipengaruhi oleh tokoh syi’ah maupun yang condong pada syi’ah.

Hadis-Hadis Tentang Kemunculan Panji Hitam di akhir zaman

Hadis-Hadis tentang panji hitam tidak diriwayatkan oleh Bukhari maupun Muslim. Hadis-hadis tersebut adalah sebagai berikut:

1)

يَقْتَتِلُ عِنْدَ كَنْزِكُمْ ثَلَاثَةٌ ، كُلُّهُمْ ابْنُ خَلِيفَةٍ ، ثُمَّ لَا يَصِيرُ إِلَى وَاحِدٍ مِنْهُمْ ، ثُمَّ تَطْلُعُ الرَّايَاتُ السُّودُ مِنْ قِبَلِ الْمَشْرِقِ فَيَقْتُلُونَكُمْ قَتْلًا لَمْ يُقْتَلْهُ قَوْمٌ – ثُمَّ ذَكَرَ شَيْئًا لَا أَحْفَظُهُ – فَقَالَ : فَإِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَبَايِعُوهُ وَلَوْ حَبْوًا عَلَى الثَّلْجِ ، فَإِنَّهُ خَلِيفَةُ اللَّهِ الْمَهْدِيُّ

“Ada tiga orang yang akan saling membunuh di sisi simpanan kalian; mereka semua adalah putera khalifah, kemudian tidak akan kembali ke salah seorang dari mereka. Akhirnya muncullah panji-panji hitam dari arah timur, lalu mereka akan memerangi kalian dengan peperangan yang tidak pernah dilakukan oleh satu kaum pun… (lalu beliau menutur-kan sesuatu yang tidak aku fahami, kemudian beliau berkata:) Jika kalian melihatnya, maka bai’atlah dia! Walaupun dengan merangkak di atas salju, karena sesungguhnya ia adalah khalifah Allah al-Mahdy.” (HR. Ibnu Majah no.4084 dalam “as-sunan”, diriwayatkan juga Al-Bazzaar (2/120) dalam “al-musnad”, oleh Al-Hakim dalam “al mustadrak” (4/510) ).

Jalur Hadis:

Riwayat dari jalur Sufyan Tsauri, dari Khalid Al-Hadza’, dari Abi Qilaabah, dari Abi Asmaa’, dari Tsauban secara marfu’

Diriwayatkan oleh al-Hakim dan al-Baihaqi juga -setelah riwayat sebelumnya – dari jalur ‘Abdul-Wahhab bin Atha’, dari Khalid al-Hadza’, dari Abi Qilaabah, dari Abi Asmaa, dari Tsauban secara mauquf.

Sanad Hadis :

Yang melemahkan dan bahkan memungkarkan Hadis ini:

  • Imam Adz-dzahabi : “hadis mungkar” dalam “mizaanul i’tidaal”  (3/218)
  • Imam Ibnul Jauzi di dalam kitab Al-Ahadits Al-Wahiyah : 1445
  • Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani di dalam kitab Al-Qaulul Musaddad : 45, beliau berkata ; ‘Ali bin Zaid di dalamnya ada kelemahan.’”
  • Syaikh AlBani : “mungkar”, Dia heran atas keshahihan dengan cacatnya. Beliau berkata : “Hadits ini adalah hadits yang mungkar dikeluarkan oleh Ibnu Majah 518-519, Al-Hakim 4/463-464, dari dua jalur dari Khalid Al-Hadza’ dari Abu Qilabah dari Asma’ dari Tsauban secara marfu melalui jalur pertama.
    Dikeluarkan pula oleh Ahmad 5/277 dari Ali bin Zaid. Al-Hakim juga mengelurakan riwayat ini 4/502 dari jalur Abdullah bin Wahhab bin Atho’ dari Khalib bin Al-Hadza’ dari Abu Qilabah. Akan tetapi Ali bin Zaid ia adalah Ibnu Jadz’an tidak menyebut Abu Asma’ di dalam isnadnya, dan ini termasuk dari kewahaman dia.
    Dan dari jalurnya ia juga dikeluarkan oleh Ibnul Jauzi di dalam kitab Al-Ahadits Al-Wahiyah ; 1445 secara ringkas dan dikeluarkan oleh Ibnu Hajar di dalam kitab Al-Qaulul Musaddad ; 45, dan beliau berkata ; ‘Ali bin Zaid di dalamnya ada kelemahan.’” (Silsilah hadits Adh-Dah’ifah : 1/95 hadits no. 85, lihat pula Dha’iful Jami’ hadits no. 6434).

Namun sebagian mensahihkan hadis ini, yaitu:

  • Al-Hakim : “Hadis ini shahih berdasarkan syarat Syaikhain (Bukhari muslim)” sekian kutipan, dan tidak ditemukan dalam Talkhis Adz-Dzahabi
  • Al-Bazzaar
  • Ibnu Katsir : “Hadis ini benar-benar kuat” , dalam An Nihayah Bab Fitan wal Malaahim
  • Al-Qurthubi dalam “Tadzkirah”

 

Tinjauan Secara Matan:

Anggaplah hadits tentang panji hitam ini shahih dan dinukil oleh Imam Ibnu Katsir (sebagaimana keterangan penanya) maka yang dimaksud panji hitam ini bukan panji hitam sebagaimana yang difahami oleh kebanyakan orang. Akan tetapi ia adalah panji hitam yang akan keluar bersama keluarnya Al-Mahdi, Imam Ibnu Katsir berkata :

هذه الرايات السود ليست هي التي أقبل بها أبو مسلم الخراساني فاستلب بها دولة بني أمية في سنة ثنتين وثلاثين ومائة ، بل هي رايات سود أخرى تأتي صحبة المهدي

Panji-panji hitam ini bukanlah yang dibawa oleh Abu Muslim Al-Khurosani yang kemudian menumbangkan Bani Umayah pada tahun 132 H. Akan tetapi ia adalah panji hitam lain yang menyertai keluarnya Al-Mahdi.

(Al-Bidayah Wan-Nihayah : 19/62).

Seperti halnya kasus Abu Muslim al-Khurosani, maka kasus pemanfaatan panji hitam untuk tujuan politik berulang lagi, dan kaum muslimin tidak belajar dari sejarah tersebut.

Disamping itu kalimat    فَيَقْتُلُونَكُمْ قَتْلًا لَمْ يُقْتَلْهُ قَوْمٌ yang artinya ” (Kaum pembawa bendera hitam ini) akan memerangi/membunuhi kalian dengan pembunuhan yang belum pernah dilakukan oleh kaum sebelumnya (yang memerangi kalian)”  menunjukkan bahwa pembawa panji hitam ini boleh jadi bukan kaum yang baik terhadap ummat Islam, atau bahkan musuh umat Islam. Kemudian kalimat selanjutnya adalah فَإِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَبَايِعُوهُ yang maknanya jika kalian melihat (Dia) maka baiatlah (Dia), di sini menggunakan dlomir “Dia” yang artinya adalah Imam Mahdi, bukan “mereka”, dalam arti kaum pembawa bendera, dan mereka pembawa bendera ini boleh jadi tidak ada hubungannya dengan Imam Mahdi karena Tsauban ra mengatakan pada kalimat sebelumnya “…Beliau (Rasulullah SAW) mengatakan sesuatu yang aku tidak aku fahami”. Atau terputusnya /tidak jelasnya hubungan antara pembawa panji dengan Imam Mahdi. Yang jelas bahwa kelompok pembawa panji ini hanyalah sebagai tanda /peristiwa yang menyertai munculnya Imam mahdi. wallohu a’lam bi showaab.

Sementara makna “Di sisi perbendaharaan kalian”, ulama berbeda pendapat tentang maknanya, ada yang mengartikan sebagai perbendaharaan di sisi Ka’bah, sementara yang lainnya adalah harta di Sungai Eufrat.

2)

“Ketika kami berada di sisi Rasulullah (SAW), tiba-tiba datang sekumpulan anak muda dari kalangan Bani Hasyim. Apabila terpandang pada mereka, maka kedua air mata Rasulullah berlinang dan wajah baginda berubah. Aku pun bertanya, “mengapakah kami melihat pada wajahmu sesuatu yang kami tidak sukai?” Baginda menjawab, kami Ahlul Bait telah Allah pilih untuk kami Akhirat lebih dari dunia. Kaum kerabatku akan menerima bencana dan penyingkiran selepasku kelak sehinggalah datang suatu kaum dari sebelah Timur dengan membawa bersama-sama mereka panji-panji berwarna hitam. Mereka meminta kebaikan tetapi tidak diberikannya. Maka mereka pun berjuang dan beroleh kejayaan lalu diberikanlah apa yang mereka minta itu tetapi mereka tidak menerima sehinggalah mereka menyerahkannya kepada seorang lelaki dari kaum kerabatku yang memenuhi bumi dengan keadilan sebagaimana ia dipenuhi dengan kedurjanaan. Siapa di antara kamu yang sempat menemuinya maka datangilah mereka walaupun merangkak di atas salji.” (HR Ibnu Abi Syaiba dalam “Al-Musnad” (7/527), Ibnu Majah dalam “As-sunan” (4082) dari Jalur ‘Ali bin Salih dan Abu Ya’la dalam “Al-Musnad” (9/17) dari Jalur Abu Bakar bin ‘Ayaash dan Thabro’i dalam “Al-Ausath” (6/29) dari Jalur Shabaah bin Yahya al-Mazni dan Ibnu ‘Adi dalam “Al-Kamal” (9/164) dan Ajri dalam “As-syari’ah” (5/2177)

Tinjauan Hadis:

  • Al Mizzi dalam kitab Tahdzibul kamal Juz 32 hal 135 No. 6991 Cet. Muassasatu Ar-Risalah, untuk jalur Ibnu Mas’ūd radliyallāhu ‘anhu terdapat seorang rawi yang lemah yaitu: Yazid bin Abi Ziyad. Semua riwayat yang dikeluarkan oleh banyak Imam Mukharrij bermuara hanya kepadanya:
    عن عَلِيِّ بن صَالِحٍ، عن يَزِيدَ بن أبي زِيَادٍ، عن إبْرَاهِيمَ
    Ia termasuk pembesar Syi’ah dan bukan termasuk rawi yang hafal hadits menurut Imam Ahmad. Ibnu Ma’in menilai hadis-hadisnya tidak bisa dipakai hujjah.
  • Imam Ahmad Bin Hambal : Hadits Ibrahim dari ‘Alqomah dari Abdullah bin Mas’ud “laisa bisyai’” (tidak ada apa-apanya). Aku berkata pada Abdullah (bin Ahmad bin Hambal) : (apakah yang dimaksud) hadits panji–panji hitam? Ia berkata: Iya benar.[ Kitab Ad-Dlu’afa Al-Kabir Lil ‘Uqoily. Juz 4 hal. 381. Cet. Darul Kutub Al-‘Ilmiyyah.]
  • Imam Wakī’ menilai: “Yazid bin Abi Ziyad dari Ibrahim dari Alqomah dari Abdullah Yaitu tentang hadits panji (hitam): (riwayatnya) lemah”.[ Kitab Ad-Dlu’afa Al-Kabir Lil ‘Uqoily. Juz 4 hal. 381. Cet. Darul Kutub Al-‘Ilmiyyah].
  • Abu Usamah: “Andaikan dihadapanku bersumpah 50 orang aku tidak mempercayainya (Yazid bin Abi Ziyad). Apakah ini madzhab Ibrahim? Apakah ini madzhab Alqomah? Apakah ini madzhab ibnu Mas’ud? [ Kitab Ad-Dlu’afa Al-Kabir Lil ‘Uqoily. Juz 4 hal. 381. Cet. Darul Kutub Al-‘Ilmiyyah ]

Yang menguatkan kemungkarannya adalah bahwa Yazid ini disamping seorang rawi yang lemah, ia seorang imam syi’ah dan termasuk pembesar syi’ah

Jalur hadis lainnya :   حَنان بن سُدير، عن عمر بن قيس الملائي، عن الحكم، عن إبراهيم

Hanan bin Sudair, dari ‘Amr bin Qais al-Mala’i, dari al-Hakam, dari Ibrahim

Di jalur ini ada al-Hakam yang sama meriwayatkan dari Ibrahim. Sepintas jalur Yazid diatas saling menguatkan dengan jalur al-Hakam, apalagi al-Hakam seorang rawi tsiqah. Andaikan benar pada jalur Ibrahim ini ada Al-Hakam yang tsiqah maka apa yang dibawa Yazid adalah benar dan tidak sedang membawa kebid’ahannya dari background nya seorang syi’ah. Namun kenyataannya pada jalur ini sebenarnya tidak ada Al-Hakam dari Ibrahim karena pada sanadnya terdapat Hanān bin Sudair. Rawi ini dloif.

Imam Ad-Daraquthny mengatakan dalam kitabnya Al-Mu’talif Wal Mukhtalif dan di kitab Al-‘Ilal: “dia itu (Hanan bin Sudair) termasuk Syaikhnya Syi’ah” (  Kitab Lisanul Mizan; Ibnu Hajar. Juz 3 hal 304 cet. Maktabu Al-Mathbu’at Al-Islamiyyah ).

Bentuk-bentuk riwayat semacam ini perlu diwaspadai karena rawi-rawi ini ada hidup di masa daulah ‘Abbāsiyyah yang sedang subur-suburnya pemalsuan riwayat demi kepentingan politik dan kekuasaannya. Adapun Syaikh Abdurrohman Al-Mu’allimi,  pentahqiq kitab Al-Fawaid Al-Majmu’ah karya Imam Asy-Syaukany berpendapat jalur Hanān ini Ibnu Abi Dārim lah pelaku pemalsuannya. Ia mengomentari:

ابن أبي دارم رافضي كذاب ، وقال الحاكم نفسه : رافضي غير ثقة ، وشيخه وشيخه لم أعرفهما ، وحنان رافضي غال ، والخبر فيما أرى من وضع ابن أبي دارم

“Ibnu Abi Darim seorang Syi’ah rofidloh Kadzzab (pendusta). Dan Imam Al-hakim sendiri mengatakan: “dia seorang Syiah Rofidloh yang lemah. Dan Syaikhnya dan Syaikhnya adalah tidak aku kenal. Dan Hanan seorang Syiah Rofidloh yang berlebihan. Dan kabar tentang ini dari yang aku tahu adalah dari kepalsuan Abu Bakar bin Abi Darim”.[ Kitab Al-Fawaid Al-Majmu’ah Fiel Ahadits Al-Maudlu’at; Asy-Syaukany. Tahqiq Al-Mu’allimy. Hal. 355 cet. Al-Maktab Al-Islamy]

3)

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : تخرج من خرسان رايات سود لا يردها شيء حتى تنصب بإيلياء

”Akan muncul dari khurusan panji-panji hitam, maka tidak ada sesuatu pun yang bisa mencegahnya sehingga panji-panji itu ditancapkan di Eliya’ (Al-Quds; Palestina)”. (Imam At-Tirmidzy. 4/115 No. 2265)

 

Selain Imam At-Tirmidzy mengeluarkan riwayat ini juga dikeluarkan oleh banyak mukharrij lain namun semuanya bermuara ke Risydīn bin Sa’d.

Siapakah Risydīn bin Sa’d ini? Beliau adalah Risydīn bin Sa’d bin Muflih bin Hilal Al-Mury Abu Hajjaj Al-Mishry. Imam Ahmad berharap ia rawi baik, namun Abu Zur’ah menilai ia rawi Dlaif. Abu Hatim menilai “Dia itu rawi Munkar dan ia rawi yang lalai meriwayatkan hadits-hadits dengan kemungkaran dari rawi-rawi yang terpercaya”. Bahkan Imam An-Nasai lebih keras lagi menilai : “Dia rawi Matruk. Haditsnya dloif dan tidak ditulis”(Tahdzibul Kamal No.1911. Tahdzibu At-Tahdzib No. 526)

Atas semua penilaian diatas, Al-Hafidz Ibnu Hajar menyimpulkan di kitabnya at-Taqrīb “dia itu rawi Dloif”.[Kitab Taqribu At-Tahdzib; Ibnu Hajar. Tahqiq Abul Asybal. Hal. 326 cet. Darul ‘Ashimah]

 

4)

إذا رأيتم السود قد أقبلت من خراسان فأتوها ولو حبوا على الثلج ، فإن فيها خليفة المهدي

Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wasallama bersabda: “Apabila kalian melihat panji–panji hitam yang datang dari khurosan maka datangilah (kelompok itu) karena disana terdapat khalifah Allah yakni Al-Mahdi”. (Imam Ahmad; Musnad Imam Ahmad. 37:70 No. 22387)

Dari jalur Katsir bin Yahya, dari Sharik bin Abdullah, dari Ali bin Zaid, dari Abi Qilaabah, dari Abu Asma al-Rahbi, dari Tsauban.

  • Imam Adz-dzahabi : “hadis mungkar” dalam “mizaanul i’tidaal”  (3/218) (mungkar bersamaan dengan hadis “ada tiga orang saling bunuh…”)
  • Syarik bin Abdillah al-Qadhi, hafalannya berubah semenjak ia menjabat sebagai qadhi di Kuffah
  • Ali bin Zaid adalah perawi yang lemah (sudah dibahas di atas), disamping tasayyu’  (condong kepada syi’ah) berlebihan
  • Hadits ini bahkan divonis oleh salah satu Muhaqqiq yang tidak diragukan lagi kredibilitasnya, Syuaib al-Arnauth, sebagai hadits yang dhaif  jiddan, yaitu hadits yang sangat lemah sekali.

 

(Ditulis Oleh Abu Usamah)

(RF)

Baca juga,

“PENJELASAN ATSAR ALI BIN ABI THOLIB TENTANG PANJI HITAM PALSU (IS/ISIS)?”