Duniaekspress.com (1/7/2019)- Penuntutan Keamanan Negara Tertinggi di Mesir telah memutuskan untuk memenjarakan seorang wanita Amerika asal Mesir, Reem Mohammad Al-Dessouki, selama 15 hari karena dianggap mengkritik Presiden Mesir pada akun Facebooknya.

Karena mengkritik rezim Mesir dan Presiden Abdel Fattah El-Sisi di halaman Facebook pribadinya tersebut, pihak berwenang Mesir menghubungkan Reem dengan organisasi Ikhwanul Muslim.

Menurut laporan surat kabar dan aktivis HAM Mesir, Reem ditangkap pada saat kedatangannya di Bandara Internasional Kairo pada 7 Juli, datang dari Amerika Serikat bersama putranya Mustafa, 12 tahun, untuk menyelesaikan beberapa prosedur yang berkaitan dengannya.

Baca Juga:

OPERASI MILITER IMARAH ISLAM AFGHANISTAN, PULUHAN TENTARA REZIM BONEKA TEWAS

OKI AKAN GELAR PERTEMUAN BAHAS PELANGGARAN ISRAEL

Laporan dan aktivis menuduh pemerintah Mesir terlibat dalam penculikan Reem secara selama 7 hari sebelum akhirnya muncul di hadapan Penuntutan Keamanan Negara setelah ditahan dengan putranya di sebuah tempat yang tidak layak di bandara selama 18 jam, tanpa memperhitungkan keadaan psikologis putranya.

Menurut aktivis hak asasi manusia Mesir, Reem dan putranya ditahan di Bandara Kairo dari jam 5 pagi sampai 11 malam tanpa penjelasan. Pihak berwenang menolak untuk mengizinkan anggota keluarga Reem untuk bertemu dengannya atau diyakinkan tentangnya sampai otoritas keamanan mengizinkan anak itu pergi dengan seorang anggota keluarga, dan memberitahukan kepadanya tentang penuntutan ibunya sebelum Penuntutan El-Nozha pada pagi berikutnya.

Sejak penggulingan Angkatan Darat atas terhadap Mohamed Morsi, presiden sipil pertama yang dipilih secara demokratis di negara itu, pada 3 Juli 2013, pihak berwenang Mesir telah menuduh Ikhwanul Muslimin dan anggotanya “menghasut kekerasan dan terorisme.” Pemerintah mengeluarkan pada Desember 2013 resolusi untuk mempertimbangkan kelompok itu sebagai “teroris”.

Sebaliknya, Ikhwanul Muslimin mengatakan pendekatannya “damai” sebagai protes terhadap penggulingan Morsi.