duniaekspress.com, 17 Juli 2019. Seorang pemuda WNI yang sempat hijrah ke wilayah ISIS /IS di Suriah pada 2016 bernama Febri Ramdani, menceritakan kisahnya bagaimana ia dan keluarganya terpedaya oleh media propaganda ISIS.

Keluarga Febri berangkat ke Suriah pada 2015 saat kekhalifahan baghdadi sedang jaya-jayanya. Dengan harapan hidup yang lebih baik di bawah syari’at Islam, keluarga Febri menjual aset-aset mereka seperti rumah dan mobil untuk pembiayaan hijrah ke Suriah. Dari 25 anggota keluarga ini Febri adalah yang termuda, namun dia tidak ikut dalam rombongan keluarganya yang ke Suriah tersebut dengan harapan janji-janji media propaganda ISIS seperti layanan kesehatan dan sekolah.

Febri yang tertinggal di Indonesia memutuskan untuk ikut bergabung dengan keluarganya yang telah terlebih dahulu sampai di Raqqah, Suriah (waktu itu merupakan ibukota daulah IS). Perjalanan menuju mahjar tersebut bukan tanpa rintangan. Melalui penunjuk jalan di Turki ia menempuh jalur Hatay untuk bisa sampai ke perbatasan.

Febri Ramdani saat diwawancara

Setibanya di Hatay, Febri diminta menanggalkan seluruh identitas yang menunjukan statusnya sebagai WNI. Agen penyelundup di perbatasan kemudian mengarahkan sopir bus agar menempuh perjalanan memutari jalur selatan Suriah, menghindari Aleppo yang berbatasan langsung dengan Raqqa.

Para imigran ilegal dalam bus digiring dari Hatay, Turki, melalui jalan tikus ke Kota Idlib dan Hama sebelum tiba di Raqqa. Jarak tempuh ditaksir lebih dari 800 kilometer.

Belum juga masuk Kota Idlib, bus sudah dicegat kelompok Jabhat al-Nusra. Semua penumpang bus dipaksa turun, Febri ikut diinterogasi dan diperiksa kelengkapan identitasnya –yang sudah dia buang di perbatasan Turki.

Kedatangan Febri Ramdani dan rombongan memicu banyak pertanyaan. Febri bungkam mengungkap tujuan menuju Raqqah untuk bergabung ISIS. Rombongan Febri kompak berdalih datang ke Suriah sebatas untuk menjadi warga sipil.

Setelah negosiasi alot selama satu bulan, salah seorang dari rombongan mendapat akses berkomunikasi dengan orang di Idlib yang bisa menjembatani koordinasi dengan ISIS. Baru kemudian Jabhat al-Nusra melepas rombongan Febri menuju Idlib.

Pencegatan itu hanyalah satu dari beberapa kejadian yang dialami oleh rombongan Febri selama perjalanan ilegalnya. Febri Ramdani dan rombongan seiring waktu menghadapi beberapa pengecekan di sepanjang jalur penyelundupan orang tersebut.

Setibanya di Idlib, Febri harus menunggu beberapa bulan sementara agen penyelundup berkoordinasi dengan pihak ISIS. Mereka menungu instruksi melanjutkan perjalanan dari Idlib ke Kota Hama, sebelum masuk jantung pertahanan ISIS di Raqqa. “Hingga akhirnya Februari 2017, saya bisa masuk ke wilayah ISIS di Kota Raqqa,” kata Febri.

Sesampainya di Raqqah, Febri melihat suasana Raqqah yang jauh dari yang dikabarkan media propaganda ISIS, setiap menit dia mendengar dentuman bom dan kota tersebut benar-benar hancur berpuing-puing. Dirinya belum diperbolehkan untuk bertemu keluarganya, dia bahkan dipaksa untuk ikut dalam program kemiliteran. Namun Febri tak kehilangan akal, dia berpura-pura sakit untuk menghindari wajib militer dan agar bisa bertemu keluarganya, dia akhirnya diperbolehkan bertemu ibu dan keluarganya. Ia diberitahu bahwa hanya 19 dari 25 anggota keluarganya yang bisa masuk ke wilayah ISIS, sisanya dideportasi di Turki.

Kondisi kota Raqqah yang hancur lebur

Setelah bertemu ibu dan keluarganya, Febri malah dimarahi dan diomelin ibunya, menyayangkan buat apa dia datang ke wilayah ini sedangkan keluarganya di sana justru sedang mencari-cari jalan untuk kabur dari wilayah ISIS. Hal ini diputuskan karena keluarga tersebut mengalami intimidasi oleh pihak pemerintah daulah selain kenyataan yang dirasakan sangat jauh dari propaganda yang dihembuskan melalui media ISIS. Diantaranya adalah fasilitas yang serba berbayar, termasuk pakaian syar’i, sesama muslim bertetangga selalu terjadi perkelahian sampai lempar-lemparan pisau karena hal-hal yang sepele, sampah dimana-mana, eksekusi yang dilakukan ISIS yang tidak manusiawi seperti kepala orang yang dieksekusi dijadikan permainan bola oleh anak-anak kecil, hingga anak remaja wanita yang baru saja haidh diminta untuk dinikahkan. Satu dari anggota keluarga ini meninggal akibat terkena serpihan bom.

Lewat penyelundup yang dibayar tidak dengan harga yang sedikit, upaya mereka untuk meloloskan diri juga tidak mudah. Karena konsekuensi penyelundup maupun orang yang diselundupkan adalah eksekusi mati, selain khawatir jika penyelundup tersebut adalah mata-mata ISIS. Setelah kesekian kalinya bertemu penyelundup yang amanah (setelah mengalami penipuan oleh penyelundup) Rombongan ditunjukkan jalan menuju Ain Issa, itu sejauh 55 km yang kalau berjalan ditempuh satu hari, mereka sempat ditembaki oleh pasukan SDF karena miskomunikasi.

Selama dua bulan itu mereka diinterogasi oleh interpol. Kelompok perempuan diwawancara oleh wartawan asing, yang kemudian memberitakan tentang pengakuan mereka dipaksa menjadi pelampiasan nafsu para kombatan ISIS selama di Raqqa.

Setelah interogasi panjang dan melelahkan itu, semua kelompok kembali dipertemukan dan diantar ke perbatasan Irak untuk dijemput pemerintah Indonesia.

Di Irak, mereka kembali diinterogasi secara maraton oleh tim intelijen sebelum dibawa ke Qatar untuk pendalaman lanjutan.

“Akhirnya sampai di Indonesia Agustus 2017,” kata Febri.

Di luar para kombatan, lebih dari 11 ribu anggota keluarga ISIS dari negara asing, termasuk sekitar 200 WNI, kini berkumpul di kamp pengungsian Al Hawl, Suriah. Mereka kebanyakan orang sepuh, janda yang ditinggal suami kombatan, serta anak-anak yang dibawa hijrah orang tuanya.

Media Dusta dan Ketidakmampuan Sebagai Khilafah.

Febri dan keluarganya adalah suatu contoh dari korban kedustaan propaganda daulah IS yang menjanjikan hal-hal yang manis dan indah, yang berujung kepada kekecewaan, penyesalan dan kebencian. Sejatinya peran kekhalifahan Islam adalah menjamin keamanan dan kesejahteraan kaum muslimin, inilah yang membedakannya dengan daulah atau jama’ah. Namun yang terjadi justru pemaksaan, ketidakmampuan untuk melindungi dan mensejahterakan warganya, hal ini dapat menjadi fitnah atau pukulan balik yang memburukkan citra agungnya kekhalifahan Islam. Belum lagi tanggung jawab yang dibebankan kepada pengusung kekhilafahan ini yang akan dituntut di akhirat nanti. Wallohu a’lam bishshowaab.

(AZ dari berbagai sumber).  Baca juga,

IRAK DEPORTASI 33 ANAK-ANAK ISIS KE RUSIA