Apa kata Mereka tentang Daulah Abu Bakar al-Baghdadi (ISIS) ?

Duniaekspress.com. (18/7/2019). Nabi Shalallahu’alaihi wassalam memperingatkan ummatnya agar tidak berbuat ghuluw (berlebih-lebihan) dalam beragama. Beliau juga mengabarkan bahwa ghuluw merupakan sebab hancurnya ummat sebelum kita. Rasulallah Shallallahu’alaihi wassalam bersabda : “Janganlah kalian berlebih-lebihan dalam beragama, karena sesungguhnya berlebih-lebihan dalam beragama telah menghancurkan ummat sebelum kalian.” (HR. An-Nasa’i, Ibnu Majah, dan di shahihkan oleh Al-Bani).

Apa yang telah Nabi Peringatkan itu telah terjadi. Ada beberapa kelompok dari ummatnya yang cenderung pada perbuatan ghuluw (ekstrime). Ada banyak macam ghuluw dan pengaruhnya yang tercatat didalam sejarah Islam. Akibat dari perbuaatan ghuluw tersebut ialah pembunuhan terhadap dua khalifah, khalifah Utsman dan Ali Rodhiallahu’anhuma oleh ghulat- orang-orang yang berbuat ghuluw tersebut. Begitu juga pembunuhan terhadap sekelompok shahabat dan putra-putra mereka.

Pasang surut fenomena perbuatan ghuluw ini telah menyebar di tengah sejarah ummat (Islam) hingga masa kini. Diantara fenomena perbuatan ghuluw dan melampau batas terbesar yang dilakukan oleh daulah Abu Bakar al-baghdadi (ISIS), neo khawarij abad ini ialah meremehkan permasalahan takfir (vonis kafir), meremehkan darah kaum muslimin, memecah belah persatuan mujahidin dan merusak barisan mereka, kemudian mengkafirkan mujahidin dan menghalalkan darah mereka.

Karena itu, setelah takfir, vonis kafir, mereka memberlakukan pemboman dan pembunuhan. Mereka melupakan maslahat-maslahat syar’iyah, enggan mengambil dan merujuk pada pendapat ulama yang jujur, membujuk para pemuda, dan mengeksploitasi semangat mereka untuk berjihad di jalan Allah. Maka datanglah orang-orang untuk menasehati mereka, berbicaralah orang yang bersimpati kepada mereka, banyak pula orang yang mewanti-wanti mereka, namun apa daya, semua itu tidak ada jawabannya !

Khawarij abad ini masih dalam kesombongan dan pembangkangannya. Kadang mereka menuduh bodoh dan sesat kepada orang yang berseberangan dengan mereka dan menasehati mereka. Dalam kesempatan lain, mereka melemparkan tuduhan riddah (kemurtadan), khianat dan antek thogut, dalam rangkaian panjang yang berisi tuduhan dalam rangka memberikan jawaban bahwa nasehat yang telah disampaikan tidak diterima.

Persoalan pun menjadi semakin buruk dan menyebarlah fitnah Abu-bakar al-baghdadi dan kekhilafahan mereka yang batil dikalangan kaum muslimin. Karenanya pula, tumpahlah darah yang seharusnya terjaga di tempat di mana fitnah mereka menjangkau. Para mujahidin pun akhirnya merasa dirugikan di setiap bumi jihad karena fitanah daulah ISIS tersebut. Oleh karena itu, diam terhadap fitnah tersebut merupakan pengkhianatan terhadap amanah yang Allah bebankan kepada para ahli ilmu.

“Dan (Ingatlah), ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi kitab (yaitu) ; ‘Hendaklah kamu menerangkan isi kitab itu kepada manusia, dan jangan kamu menyembunyikan’.” (Ali-Imran :187).

Para Ulama yang jujur dan para pemikir yang diakui bangkit untuk menepis fitnah buta ini. Mereka menjelaskan, memperbaiki, memberikan nasehat, menyingkap hakikat daulah al-Baghdadi (ISIS), dan kekhilafahannya yang batil dengan hujjah dan bukti-bukti. Mereka mengerjakan itu sesuai dengan tuntunan amanah ilmu yang Allah bebankan kepada mereka atas apa-apa yang telah diperbuat oleh daulah ISIS yang sesat, seperti penyimpangan-penyimpangan terhadap syari’at misalnya. Setelah itu mereka menjelaskan tentang manhaj Ahlus Sunnah wal-jama’ah.

Dengan penjelasan-penjelasan mereka ini, InsyaAllah tegaklah hujjah atas ummat sehingga orang yang tersesat mendapatkan petunjuk setelah sampai ilmunya, atau ia mati sengsara setelah datangnya penjelasan.

Berikut ini akan dicantumkan penjelasan yang memuaskan dan perkataan yang mencakupi dari para ulama dan tokoh tentang “Daulah Abu Bakar Al-Baghdadi (ISIS) dan khilafah yang batil”.

Bersambung …

Baca juga, MUJAHIDIN BUTUH ILMU KEPEMIMPINAN