Duniaekspress.com (21/7/2019)- Mahkamah Agung Belanda memutuskan bahwa Belanda ikut bertanggung jawab dalam pembantaian 350 Muslim Bosnia yang terjadi di Srebrenica pada tahun 1995.

Mahkamah menyatakan negara Belanda bertanggung jawab sebesar 10%, yang merupakan besarnya peluang kemungkinan tentara-tentara mereka yang bertugas sebagai penjaga perdamaian ketika itu untuk berusaha menghentikan pembantaian.

Gambar terkait

Milisi etnis Serbia di Bosnia ketika itu secara keseluruhan membunuh 8.000 Muslim di kota Srebrenica tahun 1995.

Baca Juga:

AMERIKA TERUS LAKUKAN KEBIADABANNYA DI AFGHANISTAN

KECAM AKSI BRUTAL REZIM DI IDLIB, AKTIVIS SURIAH MOGOK MAKAN

Tentara Belanda sedang bertugas menjaga daerah aman yang ditetapkan oleh PBB ketika daerah itu diserbu.

Sangat jarang suatu negara dianggap bertanggung jawab atas kegagalan dalam misi perdamaian PBB.

Pada tahun 2002 sebuah laporan dirilis mengenai peran Belanda di Srebrenica menyebabkan seluruh pemerintahan negeri itu mengundurkan diri

Menurut putusan pengadilan, jika saja tentara Belanda memberi kesempatan kepada Muslim Srebrenica untuk tetap tinggal di perumahan mereka yang tertutup, peluang mereka untuk tertangkap oleh milisi Serbia hanya sebesar 10%

Dengan ini maka negara Belanda harus bertanggung jawab terhadap proporsi kerugian yang diderita oleh para korban, demikian putusan pengadilan.

Putusan final ini memberi memberi kejelasan akan perang hukum bertahun-tahun yang terjadi antara Pemerintah Belanda dengan kelompok keluarga korban yang dikenal dengan nama ‘Ibu-ibu Srebrenica’.

Kasus ini terangkat hingga ke mahkamah agung karena Belanda ingin dibersihkan dari tanggung jawab ini, para ibu Srebrenica meminta pertanggungjawaban untuk keseluruhan pembantaian sebanyak 8.000 orang.

Baca Juga:

PEMBANTAI MUSLIM BOSNIA DIGANJAR SEUMUR HIDUP

Dalam Perang Bosnia yang terjadi pada tahun 1992 hingga 1995, tentara Serbia terlibat dalam operasi pembersihan etnis.

Ribuan Muslim menyelamatkan diri ke Srebrenica yang berada di bawah perlindungan misi perdamaian PBB dan dijaga oleh tentara Belanda.

Namun pasukan penjaga perdamaian yang kalah persenjataan dipaksa menyerah ketika serangan ke Srebrenica terjadi, dan terpaksa mengeluarkan ratusan orang dari pangkalan PBB. [BBC]