Duniaekspress.com (22/7/2019)- Pusat Studi Tahanan Palestina (PCHR) membenarkan bahwa telah terjadi peningkatan luar biasa dalam jumlah penangkapan yang dilakukan Israel terhadap warga Palestina di Yerusalem sejak awal tahun ini, PCHR memantau lebih dari 900 kasus penangkapan di sekitar Kota Suci.

Riyad Al-Ashqar juru bicara PCHR, mengatakan bahwa penangkapan yang hanya terjadi di Yerusalem merupakan sepertiga dari total penangkapan di seluruh wilayah Palestina yang diduduki selama paruh pertama tahun ini.

Totalnya berjumlah 2.600 kasus penahanan, menunjukkan target yang jelas dari orang-orang Yerusalem untuk mencegah mereka melindungi situs-situs suci dan mempertahankan Masjid Al-Aqsa.

Baca Juga:

SERANGAN UDARA REZIM SURIAH TEWASKAN 11 WARGA SIPIL

Lebih lanjut Al-Ashqar menyatakan bahwa aksi penangkapan terbesar yang menargetkan orang-orang Yerusalem terjadi pada bulan Februari, ketika Gerbang Emas (Bab Al-Rahma) dibuka untuk para jamaah.

“Lusinan orang ditangkap termasuk para pemimpin nasional dan ulama, yaitu Sheikh Abdul Azim Salhab, Kepala Dewan Awqaf Yerusalem dan wakilnya, Najeh Bkerat. Sheikh Raed Dana dipindahkan dari Al-Aqsa selama enam bulan dan direktur Masyarakat Penjara Palestina (PPS) di Yerusalem, Nasser Qaws juga ditangkap,” katanya, seperti yang dikutip MEMO (20/7).

Al-Ashqar juga menggarisbawahi bahwa penangkapan tersebut menargetkan berbagai kelompok orang-orang Yerusalem di semua desa, kota, dan lingkungan kota. Al-Issawiya adalah yang paling terpengaruh oleh penangkapan ini sekitar 295 telah ditahan, diikuti oleh 130 orang di Shu’afat, 120 di Silwan, 105 di Kota Tua dan 65 di kompleks Al-Aqsa.

Penangkapan Anak
Al-Ashqar juga menunjukkan bahwa penangkapan yang menargetkan anak-anak di Yerusalem berjumlah 300 kasus, sepertiga dari penangkapan sejak awal 2019, di antaranya ada lebih dari 17 anak di bawah usia 12 tahun.

Di antara mereka yang ditangkap adalah Ali Taha, seorang anak berusia 16 tahun yang ditembak oleh pasukan Israel di sebuah penghalang jalan di luar kamp pengungsi Shu’afat. Dia ditangkap, diseret ke tanah dan dicegah menjalani perawatan medis. Mohammed Issam Al-Qawasmi yang berusia lima belas tahun ditembak dibagian belakang oleh Mista’arvim (pasukan Israel yang menyamar) di kamp yang sama. Dia terluka serius dan saat ini sedang menjalani perawatan rumah sakit degan tangan tetap terborgol.

Baca Juga:

RISALAH UNTUK SETIAP MUJAHID (PENGIKUT ISIS) YANG IKUT MEMERANGI SAUDARA SESAMA MUJAHID

Israel tidak hanya memerintahkan anak-anak Yerusalem untuk ditangkap tetapi juga menjadikan mereka sebagai tahanan rumah, yang menetapkan bahwa anak tersebut harus tinggal di dalam rumah selama periode waktu tertentu. Dengan demikian, anak dilarang meninggalkan rumah bahkan untuk perawatan atau belajar. Anak-anak lain harus diusir dari rumah mereka dan membayar denda besar setelah dibawa ke pengadilan Israel. Mereka dijatuhi hukuman penjara aktual disertai denda, atau denda sebagai imbalan atas pembebasan mereka.

Menangkap Wanita 
Al-Ashqar menambahkan bahwa aksi penangkapan besar-besaran Israel juga menargetkan wanita, terutama mereka yang tinggal di Masjid Al-Aqsa. Jumlah penangkapan di antara perempuan dan anak perempuan di Yerusalem berjumlah 43, termasuk anak di bawah umur. Sebagian besar dibebaskan dengan syarat tahanan rumah atau pengusiran dari Al-Aqsa.

Di antara para wanita yang ditangkap adalah Ghadeer Al-Amouri, seorang pegawai Komisi Urusan Tahanan. Dia dibebaskan sebagai gantinya selama lima hari tahanan rumah dan denda berat. Fatma Suleiman, 19 tahun, juga ditangkap setelah pasukan Israel menyerbu rumahnya; dia dibebaskan beberapa jam kemudian dengan syarat tahanan rumah. Sementara itu Magda Ahmed Askar yang berusia 17 tahun ditangkap setelah pasukan Israel juga membobol rumah keluarganya.

Baca Juga:

GPGI SAMARINDA GELAR AKSI DAMAI TOLAK RUU P-KS

Perempuan yang tinggal di Masjid Al-Aqsa juga dikenakan penangkapan dan pemanggilan, terutama Aya Abu Nab, Hanadi Halawani, Khadija Khois dan Nazmiya Bkerat, seorang karyawan di Bagian Naskah di Al-Aqsa. Hala Al-Sherif, dari Gerbang Damaskus, ditangkap karena mengibarkan bendera Palestina selama pawai oleh pemukim Israel yang membawa bendera Israel.

Tiga ibu tahanan ditangkap “segera setelah mereka meninggalkan Masjid Al-Aqsa dan menjadi sasaran investigasi di kantor polisi Qishla di Kota Tua Yerusalem”. Mereka adalah Khouloud Al-Awar, ibu dari tahanan Suhaib Al-Awar, Iman Al-Awar, ibu dari tahanan Mohammed Al-Awar, dan Najah Awda.