Duniaekspress.com (26/7/2019)- Kementerian Dalam Negeri Singapura (MHA) mengatakan pada hari Kamis (25/7), telah menahan dua warga Singapura di bawah Undang-Undang Keamanan Dalam Negeri (ISA) karena berniat melakukan perjalanan ke Suriah untuk bergabung dengan kelompok militan ISIS.

Dalam siaran persnya, kementerian mengatakan bahwa kasus pertama melibatkan pemilik penukar uang berlisensi Kuthubdeen Haja Najumudeen yang berusia 36 tahun, yang telah menjadi pengikut pengkhotbah radikal Sri Lanka Zahran Hashim.

Haja ditangkap pada Mei tahun ini.

“Zahran telah diidentifikasi oleh pemerintah Sri Lanka sebagai dalang dan salah satu pelaku bom bunuh diri yang terlibat dalam serangan teroris di Sri Lanka pada 21 April 2019 yang menewaskan lebih dari 250 orang dan melukai 500 lainnya,” kata MHA, seperti yang dilansir CNA, Kamis (25/7/2019).

Baca Juga:

REZIM SYI’AH IRAN SIAP BERPERANG DENGAN MENYASAR PENGKALAN MILITER AS JIKA AS DEKLARASIKAN PERANG

Lebih lanjut MHA mengataka, sejak 2011, Haja telah mendengarkan ceramah online Zahran dan secara teratur menghubunginya untuk bimbingan agama. Dia juga melakukan tiga kali perjalanan ke Sri Lanka antara Mei 2015 dan Oktober 2016 untuk mengunjungi para penceramah dan menyumbangkan dana untuk Zahran dan kelompoknya, yang dikenal dengan nama Jamaah Tauhid.

Investigasi tidak memunculkan indikasi bahwa Haja terlibat atau memiliki pengetahuan sebelumnya tentang serangan 21 April di Sri Lanka, tambah kementerian itu.

Haja mengembangkan minat pada ISIS pada tahun 2013, ketika ia menemukan berita tentang kelompok tersebut secara online. MHA mengatakan dia mendukung apa yang disebut sebagai kekhalifahan ISIS.

“Haja memendam keinginan untuk melakukan jihad bersenjata di Suriah,” kata MHA.

Baca Juga:

TANZHIM DAULAH ISIS TELAH MENYIMPANG DARI KEBENARAN DAN MERAMPAS HAK MUJAHIDIN

Kasus kedua melibatkan Suderman Samikin, mantan asisten pengiriman berusia 47 tahun, yang ditangkap pada bulan Juli.

MHA mengatakan Suderman diradikalisasi setelah mendengarkan ceramah oleh Anwar al-Awlaki, “ideolog Al-Qaeda” yang telah tewas, dan propaganda ISIS saat mencari informasi secara online pada 2013 tentang konflik Suriah.