Duniaekspress.com (26/7/2019)- Tiga ledakan mengguncang Ibu Kota Afghanistan, Kabul, menewaskan sedikitnya 12 orang dan melukai puluhan lainnya.

Ledakan pertama menargetkan sebuah bus yang mengangkut pegawai pemerintah di Kabul timur sekitar pukul 08.10 Kamis (25/7/2019) pagi waktu setempat. Sedikitnya lima orang tewas dan melukai 10 lainnya.

“Pertama, sebuah bom magnet yang ditempelkan ke sebuah minibus meledak, kemudian seorang pembom bunuh diri meledakkan dirinya di dekat lokasi serangan bus dan ledakan ketiga terjadi ketika sebuah mobil diledakkan oleh gerilyawan yang tidak dikenal,” kata juru bicara Kementerian Dalam Negeri Afghanistan Nasrat Rahimi seperti dikutip dari Al Jazeera.

Rahimi mengatakan bus tersebut milik kementerian pertambangan dan perminyakan, sembari menambahkan bahwa jumlah korban tewas bisa meningkat.

Ledakan bunuh diri kedua menewaskan sedikitnya tujuh orang dan melukai 20 lainnya. Sementara itu tidak ada korban jiwa dalam ledakan ketiga, menurut Kementerian Dalam Negeri Afghanistan.

Baca Juga:

BOMBARDIR REZIM, BAYI 7 BULAN MENGGANTUNG DIPUING BANGUNAN

BERNIAT GABUNG KE ISIS, DUA WARGA SINGAPUR DITAHAN

Seorang juru bicara Taliban mengklaim bertanggung jawab atas salah satu pemboman di Kabul, tetapi membantah keterlibatan kelompok itu dalam dua serangan lainnya.

“Sekitar pukul 09:00 waktu setempat, konvoi perwira berpangkat tinggi yang melewati wilayah Spechari di kota Kabul menjadi sasaran serangan syahid,” kata Zabihullah Mujahid, seperti yang dirilis dalam laman resmi Imarah Islam Afghanistan, Kamis (26/7)

“Serangan itu dilakukan oleh pahlawan Imarah Islam, Muhammad Kabuli, menggunakan bom mobil menghancurkan 2 SUV Land Cruiser musuh dan menewaskan 9 penjajah asing senior, menurut informasi awal,” tambahnya.

Zabihullah Mujahid menegaskan bahwa dua serangan bom sebelum di bus mini dan situs yang sama yang terletak di persimpangan Milli tidak memiliki hubungan dengan Mujahidin Imarah Islam.

Kelompok bersenjata terus meluncurkan serangan harian, terutama menargetkan pasukan keamanan, bahkan saat mengadakan negosiasi dengan Amerika Serikat (AS) yang bertujuan untuk mengakhiri perang selama 18 tahun.

AS sedang bernegosiasi untuk kesepakatan yang akan membuat pasukan asing keluar dari negara itu dengan imbalan berbagai jaminan keamanan dari Taliban, termasuk janji bahwa Afghanistan tidak akan menjadi surga yang aman bagi kelompok-kelompok bersenjata.