Duniaekspress.com, (27 Juli 2019). Interpretasi dalil-dalil nubuwah atau berita akhir zaman sering digunakan para pendukung daulah Baghdadi (ISIS) untuk membenarkan manhaj kelompoknya. Diantaranya adalah tentang waktu datangnya kiamat yang dihubungkan dengan waktu deklarasi secara sepihak berdirinya khilafah IS (baca: baghdadi) yang menobatkan Abu Bakar al baghdadi sebagai khalifah.

INTERPRETASI PAKSA DALIL NUBUWAH

Para penyeru daulah Baghdadi mengangkat hadis sebagai berikut:

Dari Abdullah bin Mas’ud RA, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda , “Raha (peperangan) islam akan berkobar pada tahun tiga puluh lima (35), tiga puluh enam (36), atau tiga puluh tujuh (37). Apabila mereka binasa, maka itulah jalan orang-orang yang binasa, namun apabila mereka menegakkan agamanya, maka akan bertahan hingga tahun ke tujuh puluh.” Lalu aku bertanya, “Akankah kurang dari itu atau lebih?” Beliau menjawab, “Lebih dari itu.”
(dikatakan berasal dari Shahih Abu Dawud 4254, Ath-Thahawi, Al-Hakim, Imam Ahmad, Abu Ya’la, Ibnul A’rabi, Ibnu ‘Adi, Al-Khotib, dan Al-Khaththabi dari jalan itu. Dan Al-Hakim shahih sanadnya, terdapat juga di Ash-Shahihah 976)

Dari bunyi hadis itu mereka menyimpulkan bahwa yang dimaksud tahun 35 adalah tahun 1435 H, tahun tepat dimana ISIS dideklarasikan menjadi khilafah. Mereka mengatakan bahwa tidak mungkin tahun yang dimaksud adalah 1535 H karena menurut penafsiran dalil nubuwah yang lain bahwa umur umat Islam tidak akan sampai 1500 tahun atau 1500H.

Bantahan hadis tentang raha:

Sebenarnya hadis tentang raha (peperangan) pada tahun 35.. dst, adalah pemelesetan terhadap makna hadis, karena makna “raha” yang dimaksud hadis tersebut bukanlah peperangan, tapi lebih maknanya lebih kepada “roda pemerintahan”, karena kandungan makna رَحَى   adalah juga طَحَنَ (roda penggilingan gandum), jadi semestinya diterjemahkan sebagai berikut:

“Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Sulaiman Al Anbari berkata, telah menceritakan kepada kami ‘Abdurrahman dari Sufyan dari Manshur dari rib’i bin Hirasy dari Al Bara bin Najiah dari Abdullah bin Mas’ud dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Roda Islam akan berputar (berlangsung) selama tiga puluh lima, atau tiga puluh enam, atau tiga puluh tujuh (tahun). Jika mereka binasa maka itulah jalan orang-orang yang binasa (sebelum mereka), namun jika mereka menegakkan agama, maka mereka akan tetap ada hingga tujuh puluh tahun.” Ibnu Mas’ud berkata, “Aku lalu bertanya, “Dihitung dari pasca tiga puluh lima tahun, atau mulai dari awal ?” beliau menjawab: “Dihitung dari awal.” Abu Dawud berkata, “Siapa yang mengatakan (Rib’i bin) Hirasy, ia telah keliru.” (HR Abu Daud No.3712) .

Kemudian, mengenai Dalil nubuwah yang kemudian disimpulkan bahwa umur umat islam tak lebih dari 1500 tahun yang dimaksud berdasarkan dalil:

Imam Bukhari meriwayatkan dari Abdullah bin Umar ra, bahwa Nabi Bersabda (yang artinya):

“Perumpamaan kalian (umat islam) dibanding umat-umat sebelum kalian, ialah seperti waktu antara shalat ashar hingga tenggelam matahari. Ahli Taurat (Yahudi) diberi kitab Taurat, lalu beramal sehingga tatkala mencapai tengah hari (dhuhur) mereka tak sanggup lagi beramal, lalu diberi pahala seqirat-seqirat. Kemudian Ahli Injil (Nasrani) diberi Injil, lalu beramal hingga masuk waktu shalat Ashar, lalu tidak sanggup melanjutkan, lalu diberi pahala seqirat- seqirat. Kemudian kita diberi Al Qur’an, dan kita beramal (dari Ashar) hingga tenggelam matahari, dan kita diberi pahala dua qirat-dua qirat. Maka kedua ahli kitab (yahudi dan nasrani) bertanya: ‘Wahai Rabb kami, (mengapa) Engkau beri mereka (muslimin) pahala dua qirat, dan kami (hanya) satu qirat, padahal kami lebih banyak amalnya?’ ‘Apakah Aku mengurangi pahala (yang Kujanjikan) bagi kalian?’ Tanya Allah. ‘Tidak,’ jawab mereka. ‘Itulah keutamaan yang Kuberikan kepada siapa yang Kukehendaki,’ jawab Allah.” (HR Bukhari dalam Fathul Baari 2/38 no. 557)

Dalam hadits lainnya, Imam Bukhari meriwayatkan dari Abu Musa Al Asy’ari, bahwa Nabi bersabda yang artinya:

“Perumpamaan kaum muslimin, yahudi, dan nasrani ialah seperti seseorang yang menyewa suatu kaum agar bekerja hingga malam. Maka kaum tersebut bekerja hingga tengah hari dan mengatakan: ‘Kami tak butuh kepada upahmu’. Lalu orang tersebut mengupah kaum lainnya, dan berkata: ‘Lanjutkanlah waktu yang tersisa dari hari ini, dan kalian akan mendapat upah yang kusyaratkan’. Maka mereka pun bekerja hingga tiba waktu shalat ashar, dan berkata: ‘Jerih payah kami adalah untukmu’ (tidak minta upah). Kemudian orang tersebut menyewa kaum lainnya, dan kaum tersebut bekerja mengisi sisa waktu hari itu hingga tenggelam matahari, dan mereka mendapat upah sebanyak upah kedua kaum sebelumnya”. (HR. Bukhari dalam Fathul Baari 2/38 no. 558)

Dari hadis di atas, ada beberapa ulama yang berusaha memprediksi terjadinya kiamat. Diantaranya adalah Imam Ibnu Jarir At-Thabari (wafat 310 H) rahimahullah, beliau menggali berbagai dalil – sekalipun dhaif – dan menyimpulkan bahwa kehancuran dunia setelah 500 tahun setelah kenabian. (Mukadimah Ibnu Khaldun, hlm. 449).

Saat ini telah melewati 1400 pasca-kenabian, dan tidak benar apa yang beliau prediksikan. Ulama lainnya:

1. Ibnu Hajar Asqolani
seorang ulama pakar hadits, kitab beliau yang populer di lndonesia adalah Fathul Bari. Beliau berkata umur umat Islam hanya sampai 1476 H.

2. Imam As-syuyuthi
Beliau mengatakan umur umat Islam hanya sampai 1477 HIJRIYAH

3. Ibnu Hajar Hambali
kata Beliau umur umat Islam lebih dari 1400 H namun tidak sampai
1500 H

Ibnu Hajar juga mengatakan sebelumnya sebagai beriku: Hadits ini juga mengandung isyarat akan singkatnya umur dunia yang tersisa. Jadi, kalkulasi umur umat Islam ialah: Umur Yahudi – Umur Nasrani Alias: 2000 lebih sedikit – 600 tahun = 1400 tahun lebih sedikit.

As Suyuti dlm kitab (الكشف عن مجاوزة هذه الأمة الألف) mengatakan:

“Berdasarkan sejumlah riwayat (atsar), umur umat ini (islam) adalah lebih dari seribu tahun, namun lebihnya tidak mungkin lebih dari 500 tahun (al Kasyf hal 206). Artinya, maksimal umur umat ini adalah 1500 tahun.”

Dari kedua pendapat inilah lantas disimpulkan bahwa umur umat Islam berkisar antara 1400-1500 tahun

 

Bantahan tentang umur umat Islam tak sampai 1500 tahun:

Pertama, Kita saat ini berada pada tahun 1440 H, dan sebagaimana dimaklumi, bila ditambahkan 13 tahun (periode pra hijrah sejak kenabian Rasulullah), berarti umur umat Islam saat ini adalah 1453 tahun… artinya, tempo yang tersisa sehingga umat ini punah ialah 47 tahun saja. Dan bila kita tinjau dari hadits shahih tentang turunnya Isa Al Masih di akhir zaman menjelang kiamat, maka kita dapatkan bahwa Isa Al Masih akan hidup selama 40 tahun di bumi sebelum akhirnya wafat dan dishalatkan oleh kaum Muslimin (HR. Abu Dawud, disahihkan oleh Al Albani). Artinya dalam 7 tahun ke depan Nabi Isa AS harus sudah turun ke bumi. Belum lagi tanda-tanda kiamat lainnya seperti perbandingan laki-laki dan wanita 1:50 harus dilalui dalam waktu yang sangat singkat tersebut!!

Kedua, kedua hadits dalam shahih Bukhari diatas, bukanlah dalam konteks menjelaskan umur umat Islam, namun sekedar membikin perumpamaan, hal ini dijelaskan oleh Ibnu Rojab Al Hambaly (w. 795 H): “Hadits ini disampaikan oleh Nabi sekedar sebagai perumpamaan, dan perumpamaan itu cenderung bersifat longgar.” (Fathul Baari 4/341). Sedangkan Imamul Haramain (w. 478 H) mengatakan: “Hukum-hukum agama tidak boleh diambil dari hadits-hadis yang disampaikan dalam bentuk perumpamaan.” (lihat: Fathul Baari ibn Hajar, 2/50). Jadi, Sabda Nabi, “Perumpamaan eksistensi kalian (umat Islam) dibanding umat-umat sebelum kalian…” jelas dalam rangka membikin perumpamaan, karena menggunakan harfu tasybieh (kaaf), yaitu dalam lanjutan hadits tersebut (كما بين صلاة العصر إلى غروب الشمس) “Seperti waktu antara shalat asar hingga tenggelam matahari”.

Ibnu Hajar mengatakan: “Penyerupaan dan permisalan tidak harus berarti menyamakan dari semua sisi.” (Fathul Baari, 2/50). Artinya, ketika Nabi menyerupakan eksistensi kita dibanding umat-umat sebelumnya ialah seperti tempo antara masuknya waktu ashar hingga terbenam matahari, maka ini sekedar permisalan dengan maksud mubaalaghah (majas hiperbola) dalam menjelaskan dekatnya terjadinya hari kiamat; dan bukan berarti bahwa eksistensi umat akan sesingkat itu. Dari sini, jelaslah bahwa Nabi tidak sedang menjelaskan umur umat islam dalam hadits ini, sebagaimana yang difahami oleh sebagian kalangan.

Oleh karenanya, dalam syarahnya Ibnu Hajar mengatakan: “Mereka yang lebih banyak amalnya (yahudi dan nasrani) tidak harus berarti lebih lama eksistensinya, karena ada kemungkinan bahwa beramal di masa mereka lebih berat – sehingga pahalanya otomatis lebih besar-. Hal ini dikuatkan oleh firman Allah yang artinya: “Wahai Rabb kami, janganlah Kau bebankan kepada kami beban yang berat, sebagaimana yang telah Kau bebankan kepada orang-orang sebelum kami” (Albaqarah : 286). Alasan lain yang menguatkan bahwa yang dimaksud oleh hadits ini ialah sebatas banyak sedikitnya amal tanpa dikaitkan dengan panjang pendeknya tempo masing-masing umat; adalah bahwa mayoritas ahli sejarah mengatakan bahwa selang waktu antara Nabi Isa ‘alaihissalaam dengan Nabi kita adalah 600 tahun, dan ini merupakan pendapat Salman Al Farisi yang diriwayatkan dalam shahih Bukhari. Walaupun ada pula yang berpendapat bahwa temponya kurang dari itu, sampai-sampai ada yang mengatakan bahwa selang waktunya hanya 125 tahun! Padahal kita menyaksikan bahwa selang waktu yang telah dilalui oleh umat Islam sejauh ini adalah lebih dari 600 tahun!

Ketiga, bila kita berpegang dengan pendapat bahwa yang dimaksud adalah perumpamaan panjang pendeknya tempo masing-masing umat (alias bukan banyak sedikitnya amal mereka), maka konsekuensinya waktu Ashar haruslah lebih panjang daripada waktu Dhzuhur; Karena masa ummat islam telah melampaui masa umat nasrani, padahal tidak ada seorang alim pun yang berpendapat demikian. Ini berarti bahwa yang dimaksud lewat perumpamaan tersebut sebenarnya ialah banyak-sedikitnya amalan. Wallaahu ta’ala a’lam (Fathul Baari, ibnu Hajar, 2/50-51, cet. Daarul Kutub Al Ilmiyyah).

Keempat, pendapat Imam As Suyuti tersebut dibantah oleh Imam As Shan’ani dalam risalah yang berjudul (كم الباقي من عمر الدنيا؟).  Selain As suyuti menggunakan dalil-dalil yang dlo’if, As Shan’ani menyebutkan atsar-atsar yang menjadi pijakan As Suyuti tersebut, yaitu:

1. Atsar Abdullah bin Amru bin Ash yang berbunyi:

يبقى الناس بعد طلوع الشمس من مغرهبا مائة وعشرين سنة

Setelah matahari terbit dari Barat, manusia akan tetap eksis selama 120 tahun.

2. Bahwasanya Isa akan tetap hidup selama 40 tahun setelah membunuh Dajjal.

3. Kemudian setelah itu Isa akan menggantikan kepemimpinan seorang lelaki dari Bani Tamim selama 3 tahun.

4. Dan bahwasanya manusia akan tetap hidup 100 tahun setelah Allah mengirim angin baik yang mencabut ruh setiap mukmin, akan tetapi mereka yang masih hidup tersebut tidak mengenal agama apa pun.

Setelah menyebutkan atsar-atsar tadi, As Shan’ani lantas berkata:

فهذه مئتان وثلاث وستون سنة، ونحن الآن في قرن الثاني عشر، ويضاف إليه مئتان وثلاث وستون سنة، فيكون الجميع أربعة عشر مئاة وثلاث وستون، وعلى قوله إنه لا يبلغ خمسمئة سنة بعد الألف، يكون منتهى بقاء الأمة بعد الألف: أربعمئة وثلاث وستين سنة، يتخرج منه أن خروج الدجال –أعاذنا الله من فتنته- قبل انخرام هذه المئة التي نحن فيها!

Berarti, jika mengikuti hitungan As suyuti, total temponya ialah (120+40+3+100) = 263 tahun, sedangkan kita saat ini berada pada abad ke-12 hijriyah (Masa imam As-Shan’ani), bila ditambah 263 tahun, berarti totalnya 1463 tahun. Dan menurut pendapat As Suyuti yang mengatakan “Bahwa penangguhan umur umat islam tidak lebih dari 500 tahun setelah berlalu seribu tahun”, berarti batas akhir eksistensi umat Islam setelah melalui 1000 tahun, adalah 463 tahun. Kesimpulannya, keluarnya Dajjal –semoga Allah melindungi kita darinya– adalah sebelum abad ke-12 H ini berakhir!!

Kita sekarang sudah 1440 H dan keluarnya dajjal tidak terjadi!

Jadi, ternyata atsar-atsar yang dijadikan pijakan oleh As Suyuti untuk menentukan batas umur umat islam maksimal adalah 1500 tahun, memiliki kalkulasi yang berbeda. Sebab: 1500 tahun itu masih dikurangi peristiwa-peristiwa berikut: 1-Tempo 120 tahun setelah matahari terbit dari barat. 2-Tempo 40 tahun dari keberadaan Isa Al masih setelah terbunuhnya Dajjal. 3-Tempo 3 tahun dimana Isa menggantikan kepemimpinan seorang lelaki Bani Tamim. 4-Tempo 100 tahun setelah semua orang beriman diwafatkan melalui berhembusnya angin baik.

Jadi totalnya ialah (120 + 40 + 3 + 100 = 263 tahun). Kesimpulannya, umur umat islam harus berakhir setelah melalui (1500-263 =) 1237 tahun. Alias semua peristiwa besar tadi mestinya telah muncul pada tahun 1237 H menurut kalkulasi As Suyuti, kenyataannya, sekarang memasuki 1440 H peristiwa-peristiwa besar tadi tidak muncul sama sekali!

 

Tidak ada Satu Makhluk pun yang Mengetahui Pasti Kapan Kiamat

Waktu terjadinya kiamat adalah perkara yang gaib, meskipun perkiraan itu berupa selang waktu tertentu, hal tersebut bukanlah suatu yang diberitakan oleh Alloh SWT. Apalagi sampai memastikan lalu menjadi dalil atas pembenaran kelompok tertentu, ini sudah kelewatan.

“Manusia bertanya kepadamu tentang hari berbangkit. Katakanlah: “Sesungguhnya pengetahuan tentang hari berbangkit itu hanya di sisi Allah”. Dan tahukah kamu (hai Muhammad), boleh jadi hari berbangkit itu sudah dekat waktunya.” (QS. al-Ahzab: 63)

hadis dari Umar tentang kedatangan Jibril, dinyatakan bahwa Jibril bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang kapan kiamat. Jawaban Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

مَا المَسْئُولُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنَ السَّائِلِ

“Yang ditanya tidak lebih tahu dari pada yang bertanya..” (HR. Bukhari 4777 dan Muslim 106).

Kita bisa perhatikan, dua makhluk terbaik, malaikat terbaik (Jibril) dan manusia terbaik (Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam), tidak diberi tahu oleh Allah kapan terjadinya kiamat, mungkinkah ada manusia yang jauh lebih rendah kedudukannya mengetahui kapan kiamat?

(AZ)

Baca juga,

ESKATOLOGI TELAH MENGGIRING UMAT PADA KESESATAN IMRON HOSEIN DAN ISIS