Duniaekspress.com (30/7/2019)- Dengan dalih dapat memudahkan warga Palestina yang memiliki izin kerja dari Tepi Barat untuk masuk ke Israel, militer Israel memasang alat pemindai wajah di penyeberangan Qalandia.

Pemasangan alat pemindai wajah bernilai jutaan dolar AS tersebut merupakan penegasan pendudukan Israel di Tepi Barat dan dapat menimbulkan masalah baru. Qalandia merupakan salah satu penyeberangan utama bagi warga Palestina yang memasuki Israel setiap harinya untuk bekerja, kunjungan keluarga, maupun janji medis dengan dokter.

Warga Palestina menilai, penyeberangan yang dijaga sangat ketat sebagai simbol pendudukan Israel. Sebelumnya, warga Palestina yang ingin bekerja ke Israel harus menunggu pemeriksaan selama dua jam untuk bisa masuk ke Yerusalem.

Baca Juga:

SYIAH HOUTHI SERANG PASAR DI SAADA

BAHRAIN EKSEKUSI DUA TERORIS SYIAH

Warga Palestina di sekitar Tepi Barat yang memiliki izin kerja di Israel harus bangun di tengah malam agar tiba di perbatasan sebelum fajar. Pintu masuk berpagar yang terbuat dari logam sudah penuh dengan warga Palestina yang akan bekerja ke Israel sejak sebelum fajar. Mereka mengantre dan menunggu pintu gerbang tersebut dibuka.

Kementerian Pertahanan Israel menggelontorkan lebih dari 85 juta dolar AS untuk meningkatkan pengamanan di Qalandia, dan beberapa pos pemeriksaan utama lainnya dalam beberapa tahun terakhir. Hal itu sebagai bagian dari strategi untuk menjaga keamanan dan memperbaiki kondisi rakyat Palestina.

Seorang warga Palestina, Jamal Osta (60 tahun) dari Kota Nablus di Tepi Barat utara bekerja sebagai pandai besri di Yerusalem timur, yang tidak jauh dari Qalandia. Dia mengatakan, sistem pengamanan baru secara substansial sudah lebih baik, namun itu merupakan indikasi bahwa pendudukan Israel di wilayah tersebut tidak akan berakhir.

“Qalandia hari ini terlihat seperti persimpangan internasional. Anda merasa seperti memasuki negara baru,” ujar Osta, Senin (29/7).

Badan militer Israel yang bertanggung jawab atas urusan sipil di Tepi Barat, COGAT, memberikan izin kepada lebih dari 83 ribu warga Palestina di Tepi Barat untuk bekerja di Israel pada Juni. Banyak warga Palestina yang mencari nafkah di Israel, karena lebih banyak peluang kerja dan upah yang lebih tinggi ketimbang di Tepi Barat.

COGAT mengkonfirmasi penggunaan alat pemindai wajah di perbatasan. Namun, mereka menolak menjelaskan lebih rinci terkait apakah basis data biometrik tersebut akan digunakan di luar perbatasan.

Dengan sistem pemindai wajah tersebut, warga Palestina yang bekerja di Israel mendapatkan kartu identifikasi biometrik. Kartu tersebut merupakan satu-satunya kunci untuk dapat melewati Qalandia. Setelah melewati pemeriksaan keamanan dan logam detektor, mereka menempelkan kartu identifikasi magnetik kepada alat pemindai dan menghadap ke kamera. Sistem pemindai wajah mengkonfirmasi identitas pemegang izin, dan pintu dapat dibuka.

Sebuah laporan oleh majalah bisnis Israel TheMarker menyatakan, milier Israel menggunakan teknologi pengenalan wajah dari AnyVision dan kamera yang menyoroti wilayah Palestina. Kamera tersebut digunakan untuk mengidentifikasi dan melakukan pelacakan jika terjadi penyerangan oleh Palestina.