Jama’ah Daulah (ISIS) kehilangan lebih banyak ulama dan penuntut ilmu senior

Baca sebelumnya, TABI’AT JAMA’AH DAULAH ISIS AKHLAK MEREKA LEBIH DOMINAN MYELEKIT DAN KERAS TERHADAP KAUM MUSLIMIN

Duniaekspress.com. (02/8/2019). Syaikh Abu Muhammad Al-Maqdisi berkata, “Jama’ah Daulah (ISIS) telah banyak kehilangan ulama terkemuka dan penuntut ilmu yang senior karena bersikeras di atas kesalahannya serta tidak mengindahkan nasehat dan arahan dari siapa saja yang mereka anggap Syaikh mereka.

Ketika melihat jama’ah Daulah (ISIS) bersikukuh pada kesalahan dan enggan menerima nasehat, mereka (para ulama itu) menarik diri dari memberikan dukungan kepada jama’ah daulah (ISIS). Ketika mereka melihat kerusakan dan jama’ah daulah (ISIS) bersikeras dalam penyimpangan-penyimpangan akidah dan manhaj yang telah mereka nasehatkan. Sampai akhirnya datanglah orang-orang bodoh misterius seperti Abu Khabab dan Raid Al-Liby yang mendukungnya dan menghimpunnya dalam kebathilan serta mendorong para pengikutnya untuk menumpahkan darah. “ (Siratul Hudah ma’a man lam yubayi’uhum laisat siratut thughah wal ghulah).

Syaikh Abu Muhammad Al-Maqdisi juga berkata, “Seruan mereka (ISIS/IS) untuk membunuh siapa saja yang menolak kepada khiafah versi mereka. Baik secara personal maupun kelompok adalah ptunjuk orang-orang zalim, seperti para pembunuh Husen (putra Ali r.a) juga cara orang-orang yang melampaui batas seperti Hajjaj dan orang-orang yang meniti jalannya dari kalangan orang zalim dan thogut hingga massa kita ini. Mereka membunuh, memusnahkan, menahan, menghukum siapa saja yang menyelisihi kekuasaan mereka, dan memaksa setiap orang untuk taat kepada mereka dengan menggunakan kekuatan senjata dan undang-undang.

Mereka itu menukil perkataan fuqoha dalam perkara al-Imamah al-‘Uzhma lalu memberlakukannya pada jama’ah mereka setelah mengubah nama pimpinan mereka menjadi Khilafah. Kemudian mereka menempatkan (khilafahnya) pada maqom imam yang berkuasa atas kaum muslimin secara keseluruhan, supaya dapat menerapkan konsekwensi nash-nash tersebut kepada siapa saja yang menyelisihinya. Mereka menerapkan dan merealisasikan nash-nash tersebut kepada orang yang menolaknya.

Sebagaimana halnya kaum Murji’ah saat menerapkan nash-nash untuk para pemimpin thogut dalam kethogutannya. Kaum Murji’ah juga menisbahkan kekuasaaan dan imamah (kepemimpinan) bagi mereka (thogut). Kemudian mereka memperdaya para thogut itu untuk menyerang siapa saja yang menyelisihi dan menentang ulil amri mereka, atau sebagaimana halnya para thogut yang menerapkan undang-undang mereka kepada siapa saja yang menyelisihi dan menentang.

Demikianlah, orang-orang yang lemah menjadi korban dan mujahidin diuji dengan kesewenang-wenangan para thogut dan kezaliman para ghulat. Orang-orang yang ghulat(ekstreme) membunuhi siapa saja yang  menyelisihinya dengan pedang “khilafah” mereka atau istilah lainnya, sedangkan Murji’ah membunuh mereka yang menyelisihinya dengan pedang para thogut.

Kedua kelompok ini menunggangi syari’at dan menggunakan dalil-dalilnya untuk membela para pemimpin mereka. Mereka memaksakan nash-nash syari’at dan istilah-istilah fiqih untuk dirinya dan pemimpinnya.

Adalah tidak dibenarkan menumpahkan darah yang suci dengan memberi stempel (kelompok penolak) bai’at seperti dalam fatwa mereka. Hal itu merupakan kerusakan Far’i (cabang) yang dibangun di atas kerusakan Ushul (aqidah). Sebagaimana halnya orang-orang Murji’ah dari kalangan ulama sulthon (penguasa) ketika menyifati para thogut mereka dengan Imamah kemudian menjatuhkan sifat khuruj (memberontak), muruq (menyeleweng), memerangi dan membuat kerusakan di muka bumi kepada siapa saja yang menentangnya.

Atau katakanlah hal itu adalah buah dari kesalahan yang dibangun di atas kesalahan awal, yaitu klaim tentang amir mereka bahwa hanya dengan menamainya khilafah kaum muslimin, maka berlakulah hak-hak Al-imamah Al-uzhma atas semua ummat, tanpa harus memenuhi kewajiban-kewajibannya kepada ummat. Selain itu, hanya dengan penamaan (khilafah ini), mereka juga membatalkan bai’at jama’ah-jama’ah jihadiyah lainnya, bahkan mereka mengancam dengan tegas siapa saja yang menyelisihinya. Hal seperti itu mereka sampaikan secara resmi dan diumumkan.

Praktek yang mereka (jama’ah daulah ISIS/IS) terapkan dilapangan menunjukan bahwa menurut mereka ancaman itu mencakup siapa saja yang menolak dengan kelompok dan yang lainnya. Banyak orang bodoh dari kalangan mereka (jama’ah daulah ISIS) yang tidak tahu dan tidak dapat membedakan makna Imtina’ (penolakan). Ia mencampur adukan dan tidak membedakan antara penolakan terhadap syari’at dan penolakan untuk taat dan berbai’at kepada mereka(ISIS/IS). Ia menyamaratakan semua perkara tersebut dalam ranah memerangi (Khilafah mereka) yang menyebabkan kekafiran. Dengan alasan tersebut menurut mereka-, Pelakunya boleh dipenggal lehernya. Dan realita di Lapangan menjadi saksi terbesar atas hal tersebut.” (Ibid).

Model ekstrimis yang dihimpun oleh Daulah (ISIS/IS) adalah khawarij yang berdampingan dengan pengikut Murji’ah dan Jamiyah”.

Bersambung … 

 

Baca juga, TANZHIM DAULAH ISIS TELAH MENYIMPANG DARI KEBENARAN DAN MERAMPAS HAK MUJAHIDIN