Duniaekspress.com (7/8/2019)- Sebuah organisasi pemantau kebebasan pers mengatakan, telah terjadi 45 pelanggaran kebebasan pers di Mesir sejak awal bulan Juli. Menurut Observatorium Arab untuk Kebebasan Media, 13 orang telah ditangkap dan ditahan

“Telah ada lima pelanggaran hak asasi yang tercatat dan empat persidangan tidak adil telah terjadi,” terang kelompok pemantau tersebut, seperti yang dikutip Memo, Selasa (6/8/2019).

Lebih lanjut laporan tersebut mengatakan, ada tiga kasus keputusan administratif yang sewenang-wenang, satu kasus ancaman penyerangan dan ancaman pembunuhan dan sembilan pelanggaran terhadap jurnalis perempuan.

Laporan tersebut menambah bahwa kekhawatiran yang semakin besar atas penyensoran pers di Mesir, yang memburuk di bawah presiden saat ini.

Baca Juga:

MESIR TUDUH SAYAP AL-IKHWAN DIBALIK TERBAKARNYA RS DI KAIRO

ISRAEL TAHAN 289 JENAZAH SYUHADA PALESTINA

Pada akhir Juni, wartawan Hisham Fouad dan Hossam Mounas ditangkap sebagai bagian dari kasus Hope Alliance, sebuah koalisi pemilihan pasukan sipil yang berencana untuk mencalonkan diri dalam pemilihan berikutnya dan dituduh sebagai anggota kelompok teroris.

Pada 23 Juni situs web El-Tahrir mengumumkan akan bangkrut, setelah semua upaya untuk membuka blokir situs webnya sejak Mei lalu. Tidak ada alasan resmi untuk blok tersebut diblokir.

Pada bulan Desember 2015 Al-Araby Al-Jadeed diblokir, dan sejak itu 500 situs web lainnya telah diblokir karena diduga menjadi ancaman bagi keamanan nasional. Undang-undang kemudian dikeluarkan yang menyebutkan bahwa orang Mesir yang mengakses situs yang diblokir akan dikirim ke penjara.

Pada tahun 2018, Komite untuk Melindungi Jurnalis telah mengklasifikasikan Mesir di antara empat negara yang termasuk dalam negara yang menahahan jurnalis terbanyak di dunia.

Mesir berada di peringkat 161 dari 180 negara dalam Indeks Kebebasan Pers 2018.

Ancaman sadis dari tindakan keras pemerintah Mesir terhadap orang-orang Mesir yang kritis datang dari Menteri Imigrasi Nabila Makram pada Juni, yang mengancam akan memotong tenggorokan setiap orang Mesir di luar negeri yang mengkritik negara tersebut.