Duniaekspress.com(8/8/2019)- Seorang pengunjuk rasa yang menolak pencabutan otonomi khusus Kashmir oleh pemerintah India dilaporkan tewas dalam pengejaran kepolisian selama jam malam berlangsung di wilayah bergolak itu pada Rabu (7/8).

Kabar tersebut dikonfirmasi oleh polisi beberapa hari setelah pemerintah India mengeluarkan dekrit presiden pencabutan status daerah istimewa Kashmir pada awal pekan ini.

Seorang pejabat kepolisian yang tak ingin disebutkan namanya mengatakan kepada AFP bahwa seorang pemuda tengah dikejar polisi tiba-tiba “melompat ke Sungai Jhelum dan meninggal.”

Insiden ini terjadi di Kota Srinagar yang telah lama menjadi sarang protes anti-pemerintah India. Wilayah itu juga menjadi pusat pemberontakan di Kashmir selama tiga dekade terakhir.

Baca Juga:

SERANGAN ISTISYHADIYAH THALIBAN SASAR MARKAS POLISI DI KABUL

AKTIVIS PEREMPUAN SAUDI SEBUT MBS SEBAGAI NABI DAN INGIN KUNJUNGI ISRAEL

Meski otoritas India telah menetapkan jam malam di wilayah Kashmir, demonstrasi untuk memprotes keputusan pencabutan status daerah istimewa tetap terjadi secara sporadis di Srinagar.

Seorang sumber mengatakan setidaknya enam orang telah dirawat di rumah sakit di kota itu akibat luka tembak dan cedera selama protes berlangsung.

Status istimewa yang diberikan India kepada Kashmir memberikan kewenangan bagi otoritas wilayah itu untuk membuat aturan hukum secara mandiri. Pencabutan status itu diduga dilakukan India sebagai dampak krisis keamanan yang terjadi di wilayah itu sejak akhir Juli lalu.

Situasi di Kashmir kembali bergolak setelah empat tentara India dan tiga militan tewas akibat ledakan bom mobil serta bentrokan lainnya pada Selasa (28/6). Insiden itu lantas memicu aksi baku tembak antara pasukan India dan pemberontak.

Akibat pergolakan ini, India melarang pergerakan sipil di kawasan Kashmir sejak Senin pekan ini. India juga telah mengerahkan 10 ribu tentara untuk bersiaga di wilayah yang masih menjadi sengketa dengan Pakistan tersebut.

Selain membatasi pergerakan warga, India juga memutus jaringan telepon dan internet di wilayah itu. Media lokal menyebut saat ini hanya jaringan milik pemerintah yang dapat beroperasi di Kashimir. [cnn]