Jubir Daulah ISIS (adnani) mengurai pintalannya sendiri, mengumumkan, dan berani bermubahalah di atas kemungkaran

 

Baca sebelumnya, PARA PEMIMPIN DAULAH (ISIS/IS) TIDAK MEMILIKI AKHLAK, DIEN, DAN TANGGUNG JAWAB

Duniaekspress.com. (14/8/2019). Syaikh Abu Muhammad al-Maqdisi berkata, “Al-Adnani mengklaim bahwa dalam rilisan jama’ah daulah ISIS/IS yang berjudul “ya qaumana ajibu Da’iyallah” ; ‘Tidak ada sejengkal tanah pun di muka bumi ini yang menerapkan syari’at Allah selain wilayah daulah Islamiyah’. Pernyataan awal seperti ini jelas tidak benar, karena pasti akan melahirkan kesimpulan-kesimpulan sesat lainnya.

Mengapa pijakan awal ini disebut tidak benar ? Sebab, Saudara-saudara kami di Taliban, mereka telah menegakan syari’at dan mampu melaksanakan tuntunan-tuntunan syari’at semampu mereka. Demikian juga dengan ahlul jihad lainnya, yang menegakkan syari’at semampu mereka. Kami melihat sebagian faksi seperti Jabhah Nusrah (HTS) juga telah menegakkan syari’at Islam sesuai dengan kemampuan yang mereka miliki dan tidak mencorengnya seperti yang dilakukan kelompok ekstrem (ghuluw) semacam mereka ini.

Mereka para ahlul ghulat (ekstreme) menuduh kafir pada orang yang menyelisihi mereka dan menghalalkan darah dan hartanya setelah vonis kafir itu. Lantas apakah ini yang disebut dengan hukum Allah ? Apakah ini yang dimaksud dengan penegakkan syari’at ? Apakah mengafirkan kaum muslimin yang terjaga kehormatannya serta menghalalkan darah dan hartanya termasuk hukum Allah atau hukum thogut ?

Demi Allah, siapa saja yang mengatakan bahwa ini adalah bagian dari hukum Allah maka ia telah berbuat dusta atas nama Allah dan mencoreng syari’at-Nya.

Dalam perkataannya yang lain, Al-Adnani juga mengawali dengan prinsip serupa. Sebuah prinsip yang dapat membuahkan kesesatan lainnya. Ia berkata, ‘Ingat! Jika ada yang mampu menguasai kembali sejengkal atau satu desa atau satu kota dari bumi yang dulunya dikuasai daulah (ISIS), Ia pasti akan menggantikan hukum Allah dengan hukum manusia.’

Prinsip yang rusak semacam ini secara otomatis akan mengenai semua orang bahkan Jabhah Nusrah (HTS) sekalipun, atau kelompok-kelompok mujahidin lainnya, yang mana mereka menyatakan dengan jelas bahwa tujuan perjuangan mereka adalah untuk menegakkan daulah Islamiyah. Generalisasi semacam ini penyebabnya adalah Ghuluw (ekstrem) dan keraguan terhadap keislaman orang yang tidak berbai’at kepada mereka (jama’ah daulah ISIS). Ini diluar vonis kafir mereka kepada siapa saja yang menyelisihi atau memerangi mereka. Setelah itu, mereka mengklaim bahwa tidak ada seorang pun yang menginginkan pemberlakuan syari’at Allah di muka bumi ini selain mereka. Merekalah daulah Islamiyah dan khilafah, dan selain mereka adalah hukumnya thogut.

Inilah eksplisit dari perkataan, Klaim dab pernyataan Al-Adnani (jubir ISIS) yang menyama ratakan setiap manusia, ‘Jika anda mampu menguasai sejengkal, satu kampung, atau bahkan satu kota dari kekuasaan daulah (ISIS/IS) maka hukum Allah akan diganti dengan hukum manusia.’

Ia mengatakan itu agar pada akhirnya sampai pada hasil pinal, yakni untuk menjatuhkan vonis kafir terhadap siapa saja yang memerangi mereka, bahkan meskipun itu adalah untuk membela diri (dari serangan mereka). Dengan kata lain, mereka hendak menyerang seluruh mujahidin dan menangkan siap saja yang membebaskan wilayah mereka (daulah ISIS) dan akan menyembelih siapa saja yang berhasil mereka tangkap. Kemudian, jika mujahidin itu membela diri dari serangan daulah (ISIS/IS) maka daulah langsung mengafirkannya. (yang demikian itu tentulah suatu pembagian yang tidak adil).

Sang Jubir Daulah ISIS (Adnani) ini berkata, “Kemudian tanyalah pada diri anda, apakah hukum orang yang menggantikan atau membantu pihak lain untuk mengganti hukum Allah dengan hukum manusia ? ya, tentu anda akan mengafirkan karena perbuatan tersebut.’

Tidak di ragukan lagi bahwa dengan perkataan itu ia telah membodohkan para pengikutnya. Pasalnya ia tahu bahwa kebanyakan dari mereka rata-rata adalah orang-orang bodoh yang dapat ditipu dengan seruan dan klaim-klaim seperti itu. Dengan pernyataan tersebut, Ia memengaruhi pikiran pengikutnya bahwa siapa saja memerangi daulah ISIS dengan cara apapun maka itu sama saja ia hendak menggantikan hukum Allah dengan hukum manusia!.’

Coba perhatikan, dengan pernyataan tersebut, Ia meletakkan semua orang yang memerangi mereka ke dalam keranjang vonis kafir, bahkan sekalipun itu orang yang membela diri, membela keluarga, atau menolak sikap ektrem dan serangan mereka, atau siapa pun yang berusaha menegakkan hukum berdasarkan sunnah bukan hukum bid’ah seperti yang mereka tegakkan. Mereka semua (statusnya) sama, yaitu berupaya untuk menggantikan hukum Allah dengan hukum manusia!.

Dengan gegeralisasi ini Ia masukan Jabhah Nusrah (HTS) dan faksi-faksi Mujahidin yang ingin memperjuangkan hukum Allah dalam satu posisi dengan rezim Nushairiyah, rafidhah, Shabihah, Amerika dan koalisi, dan faksi-faksi sekuler lainnya!

Kezaliman macam apa ini ? Permusuhan, ekstremisme, dan kebohongan macam apa ini ? Kalau hal ini bukan cara khawarij dan kelancangan dalam mengafirkan kaum muslimin, lalu apa ?

Jubir Daulah ISIS ini kemudian mencoba untuk menyenangkan para pengikutnya dengan perkataanya, sehingga mereka semakin terbius dengan ucapan dan kedustaannya. Apalagi setelah ia membuat pijakan dasar yang melahirkan kesimpulan yang berbahaya lainnya. Yaitu dalam pernyataan : ‘Waspadalah! Dengan memerangi daulah Islamiyah maka anda telah kafir, baik sadar maupun tidak’.

Coba perhatikan bagaimana ia menyamaratakan persoalan (takfir) ini serta menghilangkan setiap kaidah dan rambu-rambu syari’at yang ada. Ia memberikan pembenaran kepada para pengikutnya untuk membunuh siapa saja yang menyelisihi atau memerangi mereka, dan marah ketika ada yang menyifati mereka sebagai kaum ekstremis atau bermanhaj khawarij!

Jika vonis kafir yang serampangan dan memukul rata seperti ini bukan akidah khawarij, lantas seperti apa kelompok khawarij itu ? Jika sikap seperti ini tidak boleh disebut Ghuluw, Lantas seperti apa yang disebut ghuluw itu, seperti apa warna dan rasanya ?

Sungguh, para pengikut daulah ISIS telah melakukan pembunuhan terhadap siapapun yang menyelisihi mereka sebelum fatwa ini keluar, dan sebelum ada vonis kafir secara umum seperti ini. Lantas apa yang ada di dalam benak anda setelah orang yang mereka anggap pahlawan telah meneriakan sikap ghuluw-nya dan menghiasinya sedemikian rupa.

Sungguh, Ia telah membuka pintu bagi para pengikutnya untuk memerangi siapa saja yang menyelisihi daulah ISIS/IS sebagaimana memerangi kemurtadan dan kekafiran. Tidak tersisa peluang lain untuk segala bentuk perang yang terjadi antara kaum muslimin sebagaimana yang disebut di dalam al-qur’an dan Nabi dalam hadist beliau. Itu semua telah ia hapus. Ia perdaya para pengikutnya untuk memerangi siapa saja yang menyelisihi dan memerangi mereka karena kemurtadannya, kendatipun ia sebenarnya sedang membela diri. Seolah-olah orang yang sesat ini (jubir daulah ISIS) menginginkan siapapun yang diserang oleh tentara daulah ISIS, hendaknya mereka mempersilahkannya dan menyerahkan dirinya untuk di sembelih. Mereka tidak boleh melawan Daulah ISIS/IS. Kalo tidak begitu maka mereka murtad.

Pemikiran ekstrem dan takfir seperti ini tidak akan diterima kecual oleh orang bodoh dan lalai yang mengikuti arahannya seperti orang buta. Sedangkan mereka yang memilki kemuliaan dan akal yang memahami agama ini dengan benar, yaitu sesuai dengan penjelasan Rasulallah shallallahu’alaihi wassalam, maka tidak mungkin menerima generalisasi (takfir) semacam ini. Oleh karena itu, saya kira kerancuan (manhaj) mereka ini mulai tampak dimata semua orang. Fitnah mereka yang selama ini dijelaskan oleh para ulama dan fuqoha yang dulunya menjadi syubhat bagi orang-orang yang bodoh dan bersemangat, semakin hari semakin terungkap. Dan telah tiba saatnya bagi mereka yang memiliki akal untuk melakukan seperti yang dilakukan oleh Abu Walid Al-Maqdisi dan yang semisal dengannya.

Terutama terkait pemikiran takfir yang menghalalkan darah kaum muslimin yang berbeda pendapat dengan mereka, inilah yang justru di ingkari oleh jubir daulah ISIS/IS itu dan ia tolak sebelumya. Bahkan, dengan hal tersebut ia bermubahalah dengan Syaikh Abu Abdillah Asy-Syami, sebagaimana ia katakan dalam pernyataan yang berjudul ; ‘Tsumma Nabtahil Fanaj’al La’natallahi ‘alal kafirin (Mari kita bermubahalah dan menjadikan laknat Allah atas orang yang berdusta), Ia berkata ;

‘Wahai kaum muslimin, ucapkanlah amiin dan jadikanlah Laknat Allah itu atas orang yang berdusta. Ya Allah, sesungguhnya Abu Abdullah Asy-Syami telah mengklaim bahwa ; …-Dan seterusnya hingga perkataanya- Daulah (ISIS) berpendapat bahwa semua orang yang memerangi berarti telah memerangi Islam, sehingga keluar dari millah (agama) Islam.’

Ya Allah, saya bersaksi kepada-Mu bahwa apa yang disebutkan oleh Abu Abdullah Asy-Syami adalah dusta dan dibuat-buat untuk menjatuhkan daulah ISIS/IS. Dan bahwa itu bukanlah manhaj Daulah. Daulah ISIS tidak berakidah seperti itu, dan tidak bermaksud untuk melakukannya. Sebaliknya, daulah mengingkari orang yang melakukannya. Ya Allah, siapa diantara kami yang dusta, maka turunkanlah laknat-Mu kepadanya dan tunjukanlah kepada kami dalam hal ini suatu tanda, untuk dijadikan sebagai pelajaran’.

Maka perhatikanlah si pendusta yang telah mengurai pintalannya sendiri, Ia berkata, menegaskan, dan mengumumkan pengingkaran atas apa yang ia mubahalahkan sebelumnya. Maka dengan hal itu ia telah melaknat dirinya sendiri.

Jika para pengikutnya lupa atau lalai akan perkara ini maka orang lain tidak lupa atau lalai terhadap pernyataan itu.

Wahai para muqolid, sadarlah dari kelalaian! Jangan kalian ikuti si pendusta ini (adnani jubir ISIS). Ia telah berani menantang Allah dan menghalalkan darah kaum muslimin, dan berani bermubahalah diatas kebatilannya.

Sadarlah, Inilah permulaannya dan inilah akhirnya. Dan firman Allah adalah kebenaran. Dialah Robb yang Maha pemberi petunjuk jalan.” (Ihazaruu Da’iyal Ghuluw Nathiquhum Al-I’lami Yubihud Dima’ul Mukhalifin ba’da Takfirihim bi Muqqaddimatin fasidatin).

Bersambung …

 

Baca juga, INGGRIS PUTUSKAN LARANG ANAK-ANAK ISIS PULANG