Duniaekspress.com (16/8/2019)- Aliansi etnis Myanmar melancarkan serangan serentak di enam lokasi di negara itu, termasuk pangkalan militer, lansir Myanmar Times.

Serangan yang dilakukan pada Kamis pukul 5 pagi waktu setempat itu dilakukan oleh Aliansi Utara, yang terdiri dari Tentara Arakan (AA), Tentara Aliansi Demokrasi Nasional Myanmar, dan Tentara Pembebasan Nasional Ta’ang.

Baca juga:

ISRAEL TEMBAK MATI ANAK PALESTINA DI YERUSALEM

PEMUKIM YAHUDI CORET PROPERTI PALESTINA DENGAN GRAFITI RASIS

Serangan menargetkan Akademi Teknologi Layanan Pertahanan di Pyin Oo Lwin, Mandalay, pangkalan militer di Kota Nawngcho, Negara Bagian Shan, kantor polisi dan pos pemeriksaan narkoba.

“Kami mendengar suara keras di pagi hari yang terdengar seperti guntur, ternyata itu tembakan artileri,” ujar Ma Chu Satt, warga yang tinggal beberapa kilometer dari akademi.

Lewat pernyataannya, Aliansi Utara mengatakan bahwa itu merupakan serangan balasan karena Tatmadaw (militer) mengabaikan peringatan berulang agar berhenti menyerang AA.

Serangan itu, lanjut Aliansi Utara, dilakukan untuk mempertahankan diri.

Kantor berita militer True News mengatakan dalam serangan itu Aliansi Utara menggunakan senjata ringan dan berat, juga roket 107 millimeter.

Selain itu, militer juga menemukan enam roket yang digunakan aliansi di sebuah bukit di Pyin Oo Lwin-Lasho.

Serangan itu mengakibatkan sejumlah polisi dan warga sipil tewas, juga sederet lainnya terluka.

Serangan itu juga merusak sebuah gedung di akademi dan beberapa kendaraan.

Juru bicara True News, Brigadir Jenderal Zaw Min Tun, mengatakan serangan itu tak akan mempengaruhi gencatan senjata.

“Proses perdamaian akan berlangsung. Gencatan senjata tak akan dibatalkan,” ujar dia.

Gencatan senjata secara sepihak itu berlaku sejak 21 Desember 2018 hingga akhir bulan ini.

Alasannya, ujar militer, AA telah merampas obat-obatan senilai K21 miliar pada Juli dan Agustus tahun lalu di Shan dan Rakhine. [Anadolu Agency]