Duniaekspress.com (21/8/2019)- Aktivis di Sinai menuntut diakhirinya pembunuhan tanpa pandang bulu terhadap warga sipil oleh tentara dan polisi Mesir dan meminta dilakukannya penyelidikan siapa pelaku penembakan yang menewaskan Raghad.

Sebelumnya, Raghad Mohamed yang berusia 24 tahun tewas pada hari Sabtu (17/8) di sebuah pos pemeriksaan tentara Mesir saat berjalan di kota Al-Arish bersama ibunya, Al Jazeera Mubasher melaporkan.

Raghad terbunuh hanya beberapa hari sebelum dia akan menikah.

Kemudian, Musa Abu Jahir yang berusia sepuluh tahun, terkena tembakan di tulang belakang dan melumpuhkannya. Tidak ada perawatan yang ditawarkan oleh negara, sebaliknya penduduk setempat membayar transfernya ke rumah sakit di Kairo. Musa Abu Jahir akhirnya menghembuskan nafas terakhir setelah satu minggu bertahan.

Pada bulan Mei, sebuah laporan Human Rights Watch mendokumentasikan bagaimana kerabat secara teratur harus mengatur evakuasi warga sipil yang terluka meskipun tentara tanpa pandang bulu menembak kendaraan yang mengangkut mereka.

Baca Juga:

SERANGAN UDARA KEMBALI TEWASKAN WARGA SIPIL DI IDLIB

PERINGATI KEMERDEKAAN, JALALABAD DIHANTAM SERANGKAIAN LEDAKAN

Pada bulan Mei, sebuah laporan Human Rights Watch mendokumentasikan bagaimana kerabat secara teratur harus mengatur evakuasi warga sipil yang terluka meskipun tentara tanpa pandang bulu menembak kendaraan yang mengangkut mereka.

Pada minggu yang sama insinyur Abdul Rahman Shaaban dibawa ke perawatan intensif setelah sebuah peluru menghantamnya saat ia pulang ke Al-Arish dari Kairo.

Pada akhir Juli, Omnia Al-Tanger terkena peluru nyasar di belakang di Sinai Utara.

Aktivis Sinai Faisal Abu Hashem menyerukan pemogokan masal jika pembunuhan warga sipil yang membabi buta tidak berhenti.

Di bawah perang melawan teror di Sinai, tentara Mesir melakukan pelanggaran hak asasi manusia yang serius. Wartawan dan kelompok hak asasi manusia tidak mendapat akses informasi terkait Sinai.

Ribuan penduduk setempat telah diusir dari rumah dan tanah mereka dan harta benda telah diratankan dengan tanah. Dalam laporannya di bulan Mei, Human Rights Watch mendokumentasikan sejumlah kasus pembunuhan di luar proses hukum di Sinai Utara.

Beberapa tahun yang lalu Gerakan Anshar Bait Maqdis dan Dewan Permusyawaratan Mujahidin Sinai juga pernah menyebarkan sejumlah video yang memperlihatkan kebrutalan kampanye militer Mesir di Sinai Utara terhadap warga sipil. Video-video tersebut diunggah dan disebarkan melalui situs Markas Ibnu Taimiyah untuk pemberitaan khusus tentang risalah Jihad.

“Penyerangan yang dilakukan militer dengan menggunakan jet-jet tempur dan tank-tank militer. Video ini disebarkan untuk membantah pemberitaan media-media sekuler tentang apa yang terjadi sebenarnnya di Sinai. Militer membombardir rumah-rumah warga dengan tank dan jet tempur serta membakar mobil-mobil dan rumah penduduk sipil dengan dalih memerangi terorisme”