Duniaekspress.com (22/8/2019)- Dua personil militer Amerika Serikat tewas dalam aksi di Afghanistan, North Atlantic Treaty Organization (NATO) mengumumkan, tanpa menjelaskan lebih lanju bagaimana kedua tentara AS itu tewas.

“Kedua anggota layanan itu tewas pada hari Rabu,” kata NATO dalam sebuah pernyataannya, seperti yang dikuitip al Jazeera, Kamis (22/8).

“Nama-nama mereka ditahan sampai setelah kerabat mereka diidentifikasi,” tambah NATO.

Baca Juga:

MUSLIMAH DI DUBLIN JADI KORBAN SERANGAN GENG RASIS

BAKU TEMBAK DI PERBATASAN KASHMIR, PULUHAN ORANG TEWAS

Kematian itu membuat setidaknya 14 personel militer AS tewas dalam aksi di Afghanistan tahun ini.

Pengumuman itu datang ketika utusan khusus AS ke Afghanistan, Zalmay Khalilzad, menuju Qatar untuk melanjutkan pembicaraan damai dengan Taliban.

Dialog ini bertujuan untuk mengakhiri 18 tahun intervensi militer, yang diluncurkan setelah serangan 11 September 2001 di AS.

Sebuah terobosan dapat membuka jalan bagi penarikan pasukan internasional dari Afghanistan, termasuk sekitar 14.000 tentara AS.

Penarikan pasukan adalah tuntutan utama Taliban. Washington, pada gilirannya, menginginkan jaminan bahwa negara itu tidak akan kembali menjadi landasan untuk serangan global.

Setelah pembicaraan Doha, Khalilzad perlu meletakkan dasar bagi pembicaraan damai antara Taliban dan pemerintah Afghanistan, yang akan datang setelah ada kesepakatan dengan Washington.

Presiden AS Donald Trump, seorang kritikus vokal perang Afghanistan sebelum ia terpilih pada tahun 2016, mengatakan pasukan AS terjebak di sana bertindak seperti “pasukan polisi”.

Ia diyakini ingin melihat penarikan sebagian besar pasukan AS di Afghanistan sebelum November 2020, ketika ia akan mengusahakan pemilihan kembali.

Namun pemimpin Republik telah mengakui bahwa sebagian dari pasukan AS itu harus tetap tinggal.

“Kita harus hadir, ya. Taliban tidak menghormati pemerintah Afghanistan,” kata Trump awal pekan ini, menambahkan: “Itu adalah tempat yang berbahaya dan kita harus mengawasinya,” tambah Trump.