Daulah Abu Bakar Al-Baghdadi dan Penyimpangan Syari’atnya

Duniaekspress.com. (09/09/2019).  (Syaikh Al-Muhaddits Abdullah As-Sa’ad Hafizhahullah memberikan penjelasan seputar Jama’ah Daulah (ISIS/IS) dan perbuatan mereka di negeri Syam. Beliau berkata :

Pertama. Tidak mau berhukum kepada Mahkamah Syar’iyyah Independen untuk menyelesaikan pertikaian dan perselisihan yang terjadi antara beberapa faksi Mujahidin. Sikap jama’ah daulah ini memicu terjadinya pertempuran diantara Mujahidin. Allah telah berfirman ; “Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin bila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya, agar Rasul menghukum (mengadili) diantara mereka ialah ucapan, “Kami mendengar dan kami patuh”. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung”. (QS. An-Nur : 51).

Dalam Shahih Bukhari no. 2731 dan 2732 dari Az-Zuhri dari Urwah bin Az-Zubair dari Al-Miswar bin Makhramah dan Marwan, mereka berdua satu sama lain saling membenarkan, Bahwasanya Rasulallah shallallahu’alaihi wassalam bersabda : “Demi Zat yang jiwaku berada ditangan-Nya, tidaklah mereka meminta kepadaku suatu kesempatan yang mereka gunakan untuk mengagungkan kehormatan Allah (menaham peperangan di tanah haram) melainkan aku terima permintaan itu”.

Yang dimaksud didalam hadist ini adalah kabilah Quraisy, kendatipun mereka adalah kafir asli saat mengajak beliau melakukan suatu upaya yang di dalamnya ada kebenaran, beliau tetap menjawab ajakan tersebut. Hal ini juga dilakukan juga oleh Amirul Mukminin Ali bin Abi thalib r.a. ketika di undang untuk bertahkim pada masa fitnah (sengketa) antara beliau dengan Mu’aiyah r.a. Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib menyepakati hasil Tahkim tersebut meskipun beliau adalah seorang khilafah dan lebih mendekati kebenaran daripada yang lain. Lalu kenapa sebagian orang enggan dan tidak mau melakukannya?.

Kedua. Mereka terjatuh kedalam lembah takfir (vonis kafir) kepada orang yang tidak patut mendapatkannya. Jama’ah daulah juga menghukumi riddah (murtad) terhadap orang yang tidak patut mendapatkan vonis tersebut, hanya berdasarkan perbuatan yang syubhat (tidak bisa dipastikan). Sikap seperti itu tentu saja mengiring mereka kepada penghalalan darah sebagian orang yang mereka hukumi riddah tersebut. Tidak diragukan lagi betapa bahayanya perkara ini.

Telah disebutkan dalam kisah Malik bin Ad Dukhaisin atau Ibnu Ad Dukhsun sebagaimana terdapat dalam shahih Bukhari dari Ibnu Syihab dari Mahmud bin Ar-Rabi’ Al-Anshari dari ‘Itban bin malik r.a. Ia berkata ; “…Maka beberapa lelaki kembali ke rumah dari penduduk setempat yang berjumlah beberapa orang. Mereka berkumpul dan salah seorang berkata : “Dimana Malik bin Ad-Dukhaisin atau ibnu Dukhsun?” Sebagaian yang lain menjawab, ‘Ia adalah orang munafiq yang tidak dicintai Allah dan Rasul-Nya’. Maka Rasulallah shallallahu’alaihi wasssalam bersabda, “Jangan mengatakan seperti itu, Tidakkah kamu melihat ia mengatakan laailaha illallah, dengan mengharapkan wajah Allah”. Ia menjawab, ‘Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui’. Ia berkata lagi, ‘Sesungguhnya kami melihatnya menghadap dan memberi nasehat (keikhlasannya) kepada orang-orang munafiq’. Rasulallah shallallahu’ailahi wassalam menjawab, “Sesungguhnya Allah ta’ala telah mengharamkan neraka bagi orang yang mengatakan Laailaha illallah, dengan mengharapkan wajah Allah”.

Ketiga. Setelah memperhatikan beberapa tindakan jama’ah daulah ini yang paling tampak, terlihat betapa jauhnya mereka dari ilmu, bersikap serampangan dan kurang teliti. Tindakkan itu tidak didasarkan pada ilmu dan pemahaman. Tidak dapat dipungkiri bahwa perkara yang besar ini harus didasari dengan fiqih yang dalam dan pandangan yang teliti. Namun pada kenyataannya mereka tidak seperti itu, kelemahan mereka dalam hal ilmu tampak sekali, Allah ta’ala berfirman ;

“Katakanlah, ‘Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata. Maha suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyirik”. (QS. Yunus : 108).

“Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri diantara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan Ulil Amri) kalau bukan karunia dan rahmat Allah kepada kalian, tentu kalian mengikuti setan kecuali sebagian kecil saja (diantara kalian)”. (QS. An-Nisa : 83).

Segala sesuatu harus didasarkan dengan Ilmu, terutama perkara besar ini (takfir). Contohnya sudah kita sebutkan di depan. Al-Imam Abdul Abbas Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata dalam fatwa : 20/393, ‘Dalam Agama Islam hendaknya pedang itu mengikuti Al-Qur’an. Apabila Ilmu yang berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah itu telah wujud kemudian pedang mengikuti di belakangnya, maka urusan Islam akan tegak’.

Berdasarkan uraian di atas, saya katakan sembari mengharap taufiq dari Allah :

Pertama. Saya menyeru kepada siapa saja yang bergabung dengan jama’ah daulah supaya keluar darinya dan menjauhinya.

Kedua. Saya mengajak para pembesar jama’ah daulah untuk kembali kepada kebenaran, serta bertaubat kepada Allah atas apa yang terjadi karena mereka, mulai dari kesalahan yang fatal dan perkara-perkara besar yang telah kita sebutkan di depan.

Ketiga. Saya serukan kepada seluruh Mujahidin di negeri Syam untuk bertaqwa kepada Allah Ta’ala, untuk menyatukan barisan dan kalimat mereka, lalu menyibukan diri dengan berjihad melawan musuh mereka. Berkata Abdul Abbas Ibnu Taimiyyah sebagaimana disebutkan dalam Jami’ Ar-Rasa’il : 5/300, ‘Manakala ummat ini berjihad melawan musuhnya, Allah akan menyatukan hati mereka. Namun jika mereka meninggalkan jihad maka mereka akan disibukkan antara satu dengan yang lainnya’.

Saya juga menyeru mereka supaya tidak berkelompok (golongan), berta’asub dengan satu bendera. Atau faksi-faksi selain Islam. Hendaknya mereka menyandang nama yang agung ini, yang Allah berikan kepada hamba-hamba-Nya’.

 

Baca juga, ABU BAKAR AL-BAGHDADI BUKAN KHILAFAH KAUM MUSLIMIN, BAI’AT KEPADANYA TIDAK SAH