Siapa yang diperintah berbuat keharaman maka Dia tidak boleh patuh dan berbai’at

Baca sebelumnya, ORANG YANG MEMERANGI DAN MENGKAFIRKAN MUJAHIDIN PASTI TIDAK MENGHARGAI KEHORMATAN KAUM MUSLIMIN

Duniaekspress.com. (13/09/2019). Syaikh Abdul Azis Ath-tharifi berkata, “Janganlah kalian memenggal leher sesama kalian. Takutlah kepada Allah dalam urusan darah. Waspadalah terhadap Infiltrasi setan dalam mengesahkan dan membenarkan pembunuhan. Karenanya, kalian menculik seseorang dengan dalih ia seorang agen, atau mata-mata atau pengkhianatan yang masih diragukan. Bukankah Allah telah memperingatkan tentang perkara dhan (prasangka) yang merusak urusan ummat dan mencerai beraikan persatuannya, seperti disebut dalam ayat berikut :

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangkaan, karena sebagian dari prasangkaan itu dosa”. (QS. Al-Hujurat : 12).

Tidak boleh menaati pemimpin yang memerintahkan pembunuhan terhadap seorang muslim yang haram darahnya. Siapapun yang diperintah untuk berbuat haram seperti pembunuhan seseorang yang haram darahnya, maka ia tidak boleh patuh dan berbai’at (kepada orang yang memerintah tersebut), walaupun ia berbai’at untuk perang. Dan seandainya ia telah berbai’at maka bai’atnya batal.

Seseorang tidak diperbolehkan melaksanakan perintah yang secara lahir hal itu diharamkan sampai ia meyakini akan kebolehannya berdasarkan Ilmu. Apabila tidak tahu, hendaknya ia bertanya kepada yang tahu sehingga ia tidak berjumpa dengan Allah dengan membawa darah dan harta yang haram sehingga ia merusak akhiratnya karena kebodohan atau takwil yang salah. Sebab, Allah akan memberi balasan kepada setiap orang sesuia dengan apa yang ia kerjakan ; “Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya”. (QS. Al-Mudatsir : 38).

Bukankah tidak ada dosa yang lebih besar, setelah kesyirikan, daripada menumpahkan darah yang haram.”

Dan Dr. Abdullah Al-Muhaisini pernah bertanya kepada Syaikh Abdul Azis Ath-Tharifi tentang orang-orang yang menyebut An-Nushrah atau Jabhah Nusrah (yang sekarang menjadi HTS) dan Ahrar Syam sebagai orang-orang yang telah murtad, serta bermuamalah dengan mereka berdasarkan asas ini.

Syaikh Ath-Tharifi pun menjawab, “Mereka adalah Khawarij”.

 

Bersambung … 

 

Baca juga, DAULAH ABU BAKAR AL-BAGHDADI DAN PENYIMPANGAN SYARI’ATNYA