Yang dimaksud dengan Syuro adalah Syuro Jama’atul Muslimin bukan Syuro dari Jama’ah Golongan atau Pasukan tertentu

Baca sebelumnya, SIAPA YANG DIPERINTAH BERBUAT KEHARAMAN MAKA DIA TIDAK BOLEH PATUH DAN BERBAI’AT

Duniaekspress.com. (14/09/2019). Syaikh Abdul Azis Ath-Tharifi Hafizhahullah pernah ditanya tentang bai’at-bai’at yang ada di negeri Syam. Beliau pun menjawab, “Semua yang ada adalah bai’at untuk berperang. Adapun bai’at umum tanpa di dahului dengan Syuro dari sebagian besar faksi-faksi yang memiliki kekuatan adalah bai’at yang bi’ah dan tidak sah, bahkan dikatakan harus dicabut kembali.

Di riwayatkan dari Nabi Shallallahu’alaihi wassalam, ‘seandaikanya aku mengangkat seorang Amir tanpa Musyawarah dari kaum muslimin, maka aku akan mengangkat Ibnu Mas’ud’.

Barang siapa yang menganggap bai’at seperti ini sah maka ia menyeru kepada fitnah (sengketa), dan pertumpahan darah yang mana ia akan memikul dosanya. Di dalam shahih Bukhari disebutkan bahwa Umar bin Khatatb r.a. berkata ; ‘Siapa saja yang membai’at seseorang tanpa bermusyawarah dengan kaum muslimin maka ia tidak boleh dibai’at, begitu juga orang yang membai’atnya, karena keduanya rentan dibunuh’. Maksudnya baiat tersebut itu tidak sah karena ditakutkan memicu pembunuhan dan fitnah.

Kalau setiap jama’ah dibenarkan untuk membai’at setiap pimpinannya melalui syuro jama’ah itu sendiri , tanpa syuro dari (kelompok) pemilik kekuatan yang lain dari kaum muslimin secara umum, pastinya hal tu akan menimbulkan fitnah. Oleh sebab itu, bai’at tersebut tidak dibenarkan, baik secara naql (dalil) maupun aql (akal). Maka, yang dimaksud dengan syuro disini adalah Syuro Jama’atul Muslimin, bukan Syuro jama’ah suatu golongan dan pasukan tertentu”.

Bersambung …

 

Baca juga, TIDAK BOLEH SESEORANG BERPENDAPAT BAHWA BAI’AT ADALAH HAKNYA DAN IMARAH HANYA MILIKNYA