DUNIAEKSPRESS.COM (16/9/2019)- Wakil kepala biro politik Hamas di Gaza, Khalil al-Hayyah meminta Kelompok Oslo untuk kembali ke pangkuan Palestina, dengan agenda melawan penjajah dan berlepas diri dari perundingan dengan musuh.

Seperti diberitakan Pusat Informasi Palestina, Sabtu (14/9) Hayyah menyerukan untuk menghapus Oslo dari sejarah Palestina, dan pihak kelompok Oslo harus mengakui kekeliruan mereka, dan perundingan tersebut hanya melahirkan perpecahan dan memperpanjang penjajah Israel terhadap Palestina.

Kesepakatan Oslo menjadikan entitas kuat Israel, setelah sebelumnya lemah dan tidak diterima di kawasan, dan menjadi penyebab kriminalisasi terhadap sejumlah pihak yang melakukan perlawanan Palestina terhadap penjajah.

Baca Juga:

MAHMOUD ABBAS SEBUT ISRAEL TELAH AKHIRI PERJANJIAN OSLO

SEJAK KESEPAKATAN OSLO ISRAEL TAHAN 120.000 WARGA PALESTINA

Perundingan Oslo menjadi prahara baru bagi bangsa Palestina, dimana mereka harus mengakui keberadaan penjajah, dan menyerahkan 87 % wilayah Palestina, kehilangan hak-hak sebagai bangsa Palestina, mempertajam perselisihan internal, dan mendorong langkah normalisasi dengan penjajah, serta berani melakukan kejahatan terhadap rakyat Palestina. Perundingan Oslo menghasilkan pembagian wilayah Palestina yang dijajah tahun 1967 secara administrasi dan keamanan menjadi wilayah “A” “B” dan “C”, namun kota Al-Quds tak masuk dalam perundingan, namun ditunda bersama persoalan perbatasan, pengungsi Palestina, permukiman zionis dan perundingan final.

baca Juga:

TURKI: CAPLOK TEPI BARAT, REZIM ISRAEL RASIS, APARTHEID

Sebelumnya, Presiden Palestina Mahmoud Abbas menyatakan pada Minggu (14/1) bahwa Israel, lewat sejumlah aksi-aksinya telah mengakhiri Perjanjian Oslo yang ditandatangani kedua negara pada awal 1990-an.

“Saya bicara tentang Oslo, tak ada lagi Oslo,” kata Abbas menjelang rapat dengan sejumlah pemimpin Palestina untuk membahas pengakuan Presiden Amerika Serikat Donald Trump terhadap Yerusalem sebagai ibu kota Israel, seperti dilansir AFP.

“Israel telah mengakhiri Oslo,” ujar Abbas menambahkan.