duniaekspress.com, 19 September 2019. Pada Oktober 2018 lalu seorang wanita yazidi bernama Nadia Murad mendapat penghargaan Nobel karena kisahnya menjadi budak pejuang ISIS. Diperkosa oleh beberapa militan dan juga mengalami tindakan kekerasan lainnya sampai dia bisa meloloskan diri pada awal 2015 ke Jerman. Murad mengatakan kehadiran ISIS di Sinjar bukanlah tanpa tujuan, mereka telah merencanakan kejahatan ini untuk tujuan propaganda mereka tentang sabaya (budak wanita).

Cerita lain, bernama Farida, yang berusia sembilan belas tahun dijual kepada tiga orang yang berbeda dan melakukan tujuh upaya untuk bunuh diri. Karena dia awalnya menolak untuk  nurut, dia dipukuli parah, dan pada satu kesempatan perlakuan padanya sangat keras sehingga dia tidak bisa berjalan selama tiga hari.

Mereka diperjualbelikan di suatu tempat dimana para lelaki ISIS tertawa-tawa sementara mereka menjerit dan menangis.

Aneksasi Sinjar dan Perbudakan

Pada 2014 ISIS menyerang dan menduduki Sinjar, Irak. Daerah tersebut dihuni oleh mayoritas kelompok yazidi, yang memiliki kepercayaan campuran antara sufi dengan syiah, agama kepercayaan yang bukan Islam dan bukan ahlul kitab. Sebagai daerah yang ditaklukkan, sikap otoritas daulah baghdadi terhadap para wanita dan anak-anak yazidi adalah mengesahkannya menjadikan budak yang dapat diperjualbelikan dan melampiaskan nafsu seksual. Hal ini terlihat dari majalah resmi kelompok itu, Dabiq, edisi ke 4, di bawah judul “the revival of slavery before the hour”. Disitu dituliskan bahwa yazidi adalah kelompok musyrikun dan menurut surat attaubah: 5 mereka wajib diperangi sampai mereka menegakkan sholat dan membayar zakat.

Dalam artikel itu disebutkan penafsiran mereka (Daulah baghdadi) bahwa tindakan perbudakan terhadap yazidi ini diharapkan mereka masuk Islam melalui jalur perbudakan sesuai hadis :

“Sungguh Allah heran dengan orang-orang yang ditarik untuk masuk ke surga dengan menggunakan rantai.”

Kemudian mereka menafsirkan bahwa hadis shahih tentang salah satu tanda kiamat: “… ketika budak melahirkan tuannya…” sebagai maraknya perbudakan akibat penaklukan islam, sehingga sering terjadi kasus budak yang hamil. Dan status anak yang dilahirkan adalah muslim yang merdeka.

Screen shot dari video amatir menunjukkan suasana pasar budak sabaya, dimana beberapa pejuang isis melakukan trading

perbudakan ini menjadi salah satu daya tarik propaganda kelompok tersebut kepada kaum laki-laki di berbagai belahan dunia. Maka setelah penaklukan Sinjar segera kelompok daulah ini memisahkan antara para pria dan wanita. 1/5 dari wanita ini menjadi milik negara untuk dijual. Sisanya dibagikan kepada para pejuang, sebagian mereka menjualnya kepada yang lain setelah atau sebelum disetubuhi. Sehingga ada pasar untuk jual-beli ini, dan dikelola oleh pengadilan untuk diregistrasi setiap budak atas kepemilikan siapa.

Tindakan perbudakan ini belum pernah dilakukan oleh kelompok jihad modern sebelumnya, seperti mujahidin afghanistan, maupun Daulah Islam Irak sebelumnya. Pertimbangannya jelas salah satunya adalah menghindari mafsadat (keburukan) yang lebih besar.

Islam dan Perbudakan

Para orientalis kerap menghujat ajaran Islam menganjurkan perbudakan, padahal ketika ajaran Islam datang  kepada Nabi Muhammad shollallahu ‘alaihi wasallam praktik perbudakan sudah biasa dilakukan di dunia saat itu bahkan lebih kejam dari ajaran Islam. Justru Islam berupaya menghapusnya secara perlahan.

Yahudi, Kristen, Yunani, Romawi dan Persia semuanya mempraktikkan dan mengambil perempuan dari musuh-musuh mereka sebagai budak seks. Islam menemukan praktik ini dan berupaya menghapusnya,” ujar Dekan Fakultas Teologi Islam di Universitas Al-Azhar, Profesor Abdel Fattah Alawari.

Bahkan dunia saat itu melakukan kekejaman kepada para budak, seperti mengurangi hak-hak mereka bahkan penyiksaan.

Bukti-Bukti Bahwa Islam Berusaha Menghapus Perbudakan.

Sejumlah ayat-ayat Alquran, misalnya, menegaskan membebaskan budak adalah salah satu perbuatan terpuji.

Pada Surah al-Balad, misalnya, Allah memberikan dua pilihan jalan bagi manusia. Jalan mudah yang menjauhkan dari Allah dan jalan sulit yang merupakan jalan kebaikan. “Tahukah kamu apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu? (Yaitu) melepaskan budak dari perbudakan. Atau memberi makan pada hari kelaparan.” (QS 90:12-14).

Hal serupa juga disampaikan dalam surat al-Baqarah. “Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan salat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.” (QS 2:177).

Selain menganjurkan pembebasan budak sebagai kebaikan, sejumlah pelanggaran dalam Islam seperti berhubungan seks saat puasa Ramadhan atau melanggar sumpah juga bisa ditebus dengan membebaskan budak. Sementara zakat yang dikumpulkan negara juga salah satu penggunaannya yang dianjurkan adalah untuk membebaskan para budak (QS Attaubah 9:60).

Alquran juga menyatakan para budak boleh mengajukan “mukatabah” alias kontrak pembebasan mereka dengan sejumlah syarat-syarat yang diajukan ke majikan, seperti pemenuhan masa kerja atau beban kerja tertentu (QS Annur 24:33).

Sementara terkait para tawanan perang, Alquran menyatakan mereka boleh dibebaskan dengan tebusan maupun kebaikan hati pihak penawan (QS Muhammad 47:4).

Mereka yang memiliki budak perempuan kemudian mengajarkannya akhlak yang baik, memberikannya pendidikan, membebaskannya dan kemudian menikahinya akan mendapatkan dua kali pahala,” kata Rasulullah SAW  dalam Shahih Bukhari.

Perbudakan di Zaman Kini

Di mana pun di muka bumi ini kita tidak akan menemukan pasar budak yang legal dan diakui secara hukum resmi. Kalaupun ada, sebenarnya cuma perdagangan manusia (human traficking) liar yang diperangi oleh semua hukum yang ada. Dan tentu saja status hukumnya bukan budak.

Namun sebagian kalangan mengatakan bahwa hukumnya tidak dihapus, sebab penghapusan hukum syariah itu hanya boleh terjadi di masa Rasulullah SAW saja, yaitu selama wahyu belum berhenti turun. Yang terjadi adalah bahwa sistem perbudakan untuk zaman sekarang ini sudah tidak ada, oleh karena itu hukum-hukumnya untuk sementara tidak terpakai alias nganggur, tetapi bukan berarti hukum-hukum itu dihapus.

Lagi pula siapa yang bisa menjamin kalau sistem perbudakan tidak muncul lagi di dunia? Sebab peradaban-peradaban besar yang pernah ada di muka bumi datang silih berganti. Peradaban besar hancur lalu manusia memulai lagi peradaban itu secara primitif. Dan bisa saja suatu ketika perbudakan muncul lagi di muka bumi.

Umat Islam adalah umat terbaik, terdepan dalam akhlak yang baik dibanding manusia lainnya,

“Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah …” (QS Ali Imran [3]: 110).

Maka bagaimana disebut umat yang terbaik jika dalam akhlak saja dihujat oleh manusia? Ketika manusia sekarang sudah sepakat akan buruknya perbudakan, sementara dalil-dalil Dien ini banyak yang mengarah pada penghapusan perbudakan, lalu bagaimana bisa kita menjadi pelopor perbudakan saat ini?

Fiqih Maqosid

Dalam syari’at Islam, kebijakan hukum juga mempertimbangkan efeķ kemaslahatan dan kemudharatan. Contoh masalah ini misalnya Umar radiyallohu ‘anhu tidak memotong tangan pelaku pencurian saat paceklik. Utsman bin affan radiyallohu ‘anhu mengabaikan hukum jinayat—yakni dengan tidak mengqishash Ubaidillah bin Umar bin Khattab yang telah terbukti membunuh seorang muslim.

Termasuk dalam keputusan perbudakan, banyak pertimbangan buruk yang tidak bisa diabaikan, seperti dendam pembalasan dari seluruh orang pada suku yang diperbudak, atau hujatan buruk akhlak dari berbagai umat di dunia, sampai-sampai di  benak mereka, bahwa mereka memerangi mujahidin sebagai peperangan melawan kejahatan setan.

Dasar-dasar di atas menjadi pijakan mujahidin mengapa tidak mempraktikkan perbudakan di saat ini, tidak seperti kelompok takfiri yang tidak memiliki keluasan berfikir dan tidak peduli selain kejayaan fana kelompoknya.

(AZ)

Baca juga,

MENGAPA BAI’AT TANZHIM SEBAGAI BAI’AT KHILAFAH MERUPAKAN KEBODOHAN YANG BESAR TERHADAP ILMU DIEN