Beda ISIS (Jama’ah Abu Bakar Al-baghdadi) dan Al-Qaidah

Baca Sebelumnya, IKON JIHADIS MILENIAL DAN MASA DEPAN AL-QAIDAH

Duniaekspress.com. (23/09/2019). Reputasi Al-Qaidah sebagai kelompok jihad dunia dianggap memudar dalam dekade terakhir. Kemunculan ISIS yang di-blow up media Barat dan kampanye gencarnya di dunia maya membuat generasi hari ini lebih mengenal kelompok kedua. Apalagi ISIS terang-terangan mengklaim pendirian khilafah Islam dan mendaulat amirnya sendiri sebagai khalifah.

Namun demikian, cabang-cabang dan kelompok terkait Al-Qaidah tetap eksis di Afghanistan, Yaman, Suriah dan negeri-negeri lain di dunia.

Ada persamaan dan perbedaan dalam strategi dan taktik yang nampak dari Al-Qaidah dan ISIS. Persamaannya dalam sisi menjadikan Syam, terutama Suriah, sebagai jantung embrio khilafah. Hal ini nampak dalam “Strategi Dua Lengan” yang ditulis oleh Abdullah bin Muhammad untuk Usamah bin Ladin sebagai saran strategi jihad global.

Adapun perbedaannya ada pada pendekatannya. Al-Qaidah mengintrodusir gagasan “merebut hati dan pikiran umat.” Dalam rilis-rilis terbarunya, gerakan yang kini dipimpin oleh Dr. Ayman Az-Zawahiri ini lebih memilih meraih simpati dan menghindari operasi militer yang sulit dipahami dan menimbulkan umat.

Al-Qaidah bahkan membuka ide tentang diversifikasi gerakan jihad dalam nama-nama berbeda yang lebih bisa diterima oleh kaum Muslimin. Pendek kata, desentralisasi gerakan di seluruh dunia. Meraih simpati umat agar mendukung jihad dan meraih kemenangan agaknya menjadi falsafah Al-Qaidah.

Dengan agenda itu nampak bahwa Al-Qaidah lebih realistis dalam pelaksanaan program jihadnya. Mereka tak memaksakan sesuatu yang belum mampu mereka pertahankan, berupa kepemimpinan berbentuk khilafah internasional.

Peta Jaringan Global Al-Qaidah

Sebaliknya, ISIS menempuh langkah yang bertolak belakang. ISIS tak menutupi kehendaknya agar kelompok-kelompok jihad lain tunduk di bawah pengaruhnya. Agenda ini bahkan dipaksakan di Suriah sehingga memicu konflik dengan beberapa katibah jihad, termasuk Jabhah Nushrah yang berafiliasi pada Al-Qaidah.

ISIS seolah tak peduli pada hati dan pikiran umat. Mereka fokus pada penggelaran operasi militer yang secara taktikal meraih sukses di beberapa kawasan Irak. Namun sikap berlebihan, kadang brutal, membuat wajah ISIS tercoreng sebagai kekuatan jihad Islami. Hal yang dimanfaatkan betul oleh Barat hari ini dalam kampanye anti-ISIS yang juga merambah sampai ke Indonesia.

Ekspansi Pakistan

Sementara itu pada September 2016, tersiarnya kabar perpisahan Jabhah Nushrah (JN) dari Al-Qaidah memunculkan pertanyaan. Bagaimana perkembangan gerakan jihad yang pernah memukul Amerika tepat di kepalanya hingga kelimpungan itu?

Sebagian pengamat Barat menganalisis bahwa lepasnya JN dari kendali Al-Qaidah menunjukkan jamaah itu melemah. Sementara menurut sebagian lainnya itu hanyalah strategi defensif dari gempuran Amerika dan Rusia di Suriah. Muaranya sama, Al-Qaidah dianggap tak sekuat dulu dalam visi jihad global.

Namun, untuk memahami Al-Qaidah hari ini perlu mengikuti perjalanannya sejak era 9/11 hingga sekarang. Salah satu kepingan catatan perjalanan Al-Qaidah yang kurang terekspos di Indonesia adalah sepak terjangnya di Pakistan setelah invasi Amerika ke Afghan tahun 2001.

Sejak kegagalannya menyapu bersih Al-Qaidah dan Taliban di Afghanistan, Amerika Serikat memperluas front Afghanistan melampaui batas wilayahnya. Karena mujahidin dari kedua kelompok itu mengundurkan diri dan melancarkan operasi dari wilayah Pakistan, Amerika pun menggabungkan front menjadi Afghanistan –Pakistan atau biasa disingkat menjadi Afpak.

Seperti diketahui, ketika Inggris menjajah India dan gagal menjajah Afghanistan, kedua negeri dipisahkan perbatasan yang dijuluki Durand Line. Nama garis itu mengacu pada nama pejabat Inggris yang menciptakannya, Mortimer Durand.

Durand Line membuat suku terbesar di kawasan tersebut, Pashtun, terbelah. Sebagian menempati Afghanistan, sementara sisanya menjadi warga India. Setelah Pakistan memisahkan diri dari India, maka Pashtun menjadi suku yang menempati dua negara Muslim yang berbeda.

Kesamaan suku, agama, bahasa dan adat membuat Pashtun Afghan dan Pashtun Pakistan selalu terkait. Termasuk dalam jihad mengusir  Uni Soviet dari Afghanistan. Ratusan ribu Muslim Pashtun asal Pakistan mengalir ke negeri tetangganya untuk turut berjihad.

Ketika Soviet terusir dan terjadi perang saudara di antara faksi-faksi Mujahidin, muncullah kelompok baru bernama Taliban. Mereka adalah para santri Pashtun yang belajar di madrasah-madrasah Islam di Pakistan. Kelompok ini berhasil memenangkan perebutan pengaruh dan mendirikan Imarah Islam Afghanistan.

Kelak, setelah Invasi Amerika, Taliban menarik diri dari ibukota Kabul ke kawasan perbatasan yang didominasi etnis Pashtun. Maka Taliban tak hanya bermain di Afghanistan, melainkan juga Pakistan.

Muncullah Taliban Pakistan yang pasukannya direkrut dari penduduk Pakistan beretnis Pashtun. Mereka menjadi kekuatan pelindung Taliban dan Al-Qaidah di perbatasan sekaligus pengganggu kepentingan Amerika di wilayah Pakistan.

Maka konvoi perbekalan Amerika dan koalisinya kerap diserang di kawasan Pakistan. Suplai untuk militer pendudukan memang banyak dikirimkan via laut ke Pelabuhan Karachi di Pakistan. Untuk menghadapi itu, Amerika menggunakan jasa militer Pakistan.

Pasukan Pakistan juga membantu Amerika memburu Taliban dengan menjadi penyekat perbatasan. Ratusan ribu serdadu Pakistan, yang notabene Muslim dan dipompa spiritnya dengan doktrin jihad, justru menjadi predator bagi mujahidin.

Yang menarik, menurut analisis Saleem Shahzad, wartawan Pakistan yang terbunuh setelah menerbitkan buku “Inside Al-Qaeda anda Taliban, Beyond Bin Ladin and 9/11” ,Taliban Pakistan lebih dipengaruhi oleh Al-Qaidah daripada Taliban.

Merekrut Musuh

Taliban Pakistan lebih agresif daripada induknya di Afghanistan. Sikap itu diperparah oleh tunduknya pemerintahan Pakistan kepada Amerika. Memanfaatkan para anteknya di pemerintahan dan militer Pakistan, Amerika berhasil menyewa pasukan negeri itu untuk melibas Taliban. Hal ini menimbulkan kegelisahan di kalangan para perwira Islamis yang dikader sejak masa kepemimpinan Jendral Zia ul Haq.

Para perwira itu banyak terlibat dalam operasi bantuan militer Pakistan untuk mujahidin Afghan dan Kashmir. Seperti diketahui, Pakistan pada era Zia memang mendukung upaya Muslim Kashmir memisahkan diri dari kekuasaan India. Berbagai pelatihan dan bantuan teknis disalurkan kepada mujahidin.

Ketika pemerintah Pakistan di bawah Jenderal Pervez Musharraf berbalik memerangi mujahidin demi ridha Washington dan kucuran dolar, mereka pun berbalik. Beberapa perwira, berpangkat kapten hingga mayor, bergabung dengan mujahidin. Yang paling menonjol adalah Mayor Haroon Ashik.

Pada tahun 2008, sebuah plot dahsyat digelar oleh kelompok perwira militan ini untuk mengalihkan pengerahan pasukan Pakistan secara besar-besaran memerangi Taliban. Hubungan dengan mujahidin Kashmir dimanfaatkan untuk mengubah konsentrasi militer.

Maka digelarlah serangan ke Mumbai yang diawaki oleh para mujahidin Kashmir namun diotaki dan difasilitasi oleh para perwira militan tadi. Serangan tadi dirancang berdasar rencana operasi yang disiapkan oleh militer Pakistan untuk menyerang India.

Pihak India yang mencium bau keterlibatan militer Pakistan dalam serangan itupun murka. Hampir saja terjadi perang antara kedua negara yang berseteru sejak dahulu itu. Namun Amerika buru-buru memberikan data intelijen, bahwa pelakunya bukan militer Pakistan, kepada India. Bentrokan besar di antara kedua negara pun tercegah.

Andai India menggempur Pakistan, pasti militer Pakistan akan dikerahkan besar-besaran untuk menghadang laju pasukan tetangganya. Maka pasukan Pakistan yang sedang dikerahkan menggempur Taliban akan ditarik dari posisi awalnya.

Itulah yang menjadi target operasi Mumbai. Mengalihkan konsentrasi militer Pakistan dari menyerang Taliban dan mengadu mereka dengan kekuatan India. Perang besar bisa terjadi, dan karena dua negara mengembangkan nuklir, dampaknya sangat dahsyat untuk kawasan.

Kasus Mumbai ini menunjukkan perkembangan strategi jihad kawasan yang diarsiteki oleh Al-Qaidah. Posisi dikejar-kejar oleh pasukan koalisi Barat ternyata tak membuat mereka berhenti mengembangkan jihad strategis.

Perluasan front dari Afghan menjadi Afpak, bahkan ada upaya meluaskan jihad hingga ke India, menunjukkan Al-Qaidah masih memiliki visi jihad strategis yang canggih. Bahkan ketika mereka dalam pelarian dan terkepung.

Al-Qaidah bahkan merekrut perwira Pakistan yang notabene musuh dan menjadikannya peluncur dalam papan catur konflik Asia Selatan. Sebuah kemampuan yang langka buat kebanyakan manusia dan jamaah.

Kashmir, Pakistan dan Taliban

Musuh bebuyutan Pakistan adalah India. Sementara Perdana Menteri India yang baru, Narendra Modi, adalah seorang Hindu garis keras yang memusuhi Pakistan. Ia juga berkonfrontasi dengan 200 juta Muslim India yang merupakan 14 persen dari seluruh penduduk negeri.

Modi baru saja mencabut Pasal 370 Konstitusi India yang melarang orang non-Kashmir membeli tanah di negara bagian itu. Pencabutan pasal itu bermakna orang non-Kashmir bisa menguasai lahan di sana.

Penghapusan status daerah istimewa Kashmir sesuai Pasal 370 akan berpengaruh besar bagi situasi di Pakistan. Gesekan dengan India semakin memanas, Pakistan harus menjadikan ancaman perang dengan India sebagai prioritas utama.

Hal ini berpengaruh positif bagi Taliban dan Al-Qaidah. Karena menghadapi India di Kashmir, Pakistan terpaksa harus memindahkan ratusan ribu pasukannya dari perbatasan Afghan.  Padahal pasukan itu disewa oleh Amerika untuk membendung pergerakan kedua entitas jihadi di perbatasan.

Pemindahan terpaksa pasukan Pakistan itu akan membuat Taliban leluasa beroperasi di dua negara. Satu hal yang menjadi mimpi buruk Amerika dan bonekanya di Pakistan. Bersama Taliban, tentu Al-Qaidah akan meraih keuntungan strategis di kawasan. Sebuah pijakan untuk kembali melancarkan serangan pada kepentingan-kepentingan AS dan Barat di penjuru dunia.

Bagaimana pengaruh kematian Hamzah bin Ladin yang dipandang sebagai pengganti kepemimpinan sang ayah dalam Al-Qaidah? Mengutip Bruce Hoffman, “Jika Al-Qaidah bisa bertahan selepas kematian sang ayah,” kata Hoffman, “Saya yakin mereka bisa tetap bertahan dan mengelola dengan baik (organisasinya) setelah kematian Hamzah bin Ladin.” (RR).

Sumbwe : Kiblat.net

Baca juga, JENDRAL NATO AUSTIN MILLER : AL-QAIDAH SUDAH MERATA DI BUMI AFGHANISTAN