Ikon Jihadis Milenial dan Masa Depan Al-Qaidah

Duniaekspress.com. (22/09/2019). Seorang anak menuliskan untaian syair untuk ayahnya di negeri yang jauh. Syair itu menyiratkan kesedihan dalam pelarian;

Lingkaran bahaya terlihat

Ke manapun aku menatap,

Apa yang terjadi pada diri kita?

Selalu dikejar bahaya ke mana-mana?

 Kemudian, sang ayah menjawab syair anaknya yang baru berusia 12 tahun, tetapi telah terpisah dengan sang pelindung dan pembimbing keluarga. Ia menulis untaian syair balasan yang tak kalah getir, namun memuat sindiran yang menggugah keperwiraan dan kekuatan jiwa;

Aku hanya dapat melihat

Lorong sempit di depan

Sepuluh tahun telah berselang

Dengan safar tanpa naungan

Inilah kita dalam tragedi panjang

Seberapa jauh bekal yang kurang

Membuat pria sejati dapat bertahan?

 Anak itu adalah Hamzah bin Ladin, dan ayahnya adalah Syaikh Usamah. Buronan Amerika nomor satu di dunia yang diburu sepuluh tahun sebelum dibantai pasukan elit Navy SEAL. Gugur di rumahnya di Abbotabad, Pakistan, setelah melawan dengan AK-47-nya. Membela diri, kehormatan keluarga dan umat Islam.

Hamzah bin Ladin bersama ayahnya, Usamah,

Tanggal 14 September lalu, Gedung Putih mengkonfirmasi bahwa Hamzah bin Ladin telah terbunuh dalam operasi yang digelar di kawasan Afghanistan-Pakistan. Kematian Hamzah bin Ladin “tak hanya mencabut kemampuan kepemimpinan penting Al-Qaidah dan hubungan simbolis dengan ayahnya, namun merusak aktifitas operasional penting dalam kelompok itu,” demikian menurut pernyataan resmi Pemerintah Amerika Serikat.

Meski tidak disebutkan waktunya, pada bulan Juli lalu media Amerika NBC pernah melaporkan informasi dari pejabat intelijen AS bahwa Hamzah bin Ladin telah terbunuh, namun tanpa rincian waktu maupun lokasinya. Mengenai lokasi kematian Hamzah, jurnalis Afghanistan Bilal Sarwary mengklaim bahwa Hamzah kemungkinan besar terbunuh di Provinsi Ghazni, Afghanistan.

The New York Times juga melaporkan bahwa AS berperan dalam operasi tersebut, berlangsung dalam dua tahun terakhir. Namun pada saat itu Gedung Putih tak membenarkan ataupun membantah laporan kedua media itu.

Konfirmasi hari Sabtu itu dirilis tiga hari setelah peringatan 18 tahun serangan 11 September, AS menuduh Syaikh Usamah bin Ladin sebagai perancangnya, yang menewaskan sekitar 3000 warga AS. Syaikh Usamah sendiri meninggal dunia dalam operasi yang digelar pasukan AS di Pakistan bulan Mei 2011 silam.

Pada bulan Februari lalu, pemerintah AS menawarkan hadiah 1 miliar dolar bagi kepala Syaikh Hamzah bin Laden. Mereka menyebutnya sebagai “putra mahkota jihad” yang “muncul sebagai seorang pemimpin dalam waralaba Al-Qaidah.”

Syaikh Hamzah sebelumnya pernah merilis pesan suara dan video menyerukan serangan terhadap AS dan negara-negara pendukungnya, terutama sebagai balasan atas pembunuhan ayahnya.

Pada tahun 2017, AS menambahkan Syaikh Hamzah dalam daftar buronan terorisnya.

Dokumen yang ditemukan di rumah Syaikh Usamah di Abbottabad, Provinsi Khyber Pakhtunkhwa  utara, Pakistan, mengindikasikan bahwa Hamzah bin Ladin sedang disiapkan sebagai penerus kepemimpinan Al-Qaidah. Demikian menurut Departemen Luar Negeri AS.

Ia berada di sisi ayahnya sebelum serangan 11 September dan menghabiskan waktu bersamanya di Pakistan setelah invasi AS ke Afghanistan. Pasukan AS menemukan video pernikahannya dengan putri seorang pejabat senior Al-Qaidah.

Keberadaan Syaikh Hamzah bin Ladin tak pernah dikonfirmasi bagi publik. Ia dipercaya berada dalam tahanan rumah di Iran, namun laporan-laporan lain menyebutkan ia mungkin tinggal di Afghanistan, Pakistan atau Suriah. Pada bulan Maret lalu, Saudi Arabia mengumumkan pencabutan kewarganegaraan Syaikh Hamzah bin Laden, berdasarkan titah kerajaan bulan November 2018.

Bruce Hoffman, pengamat dari Council on Foreign Affair menyatakan kepada AFP bahwa berita kematian Syaikh Hamzah tak akan berpengaruh besar kepada Al-Qaidah. Di bawah kepemimpinan Syaikh Dr Aiman Az Zawahiri, kelompok itu pelan tapi pasti membangun kembali jaringan dari Asia Timur hingga Afrika Barat, mengisi ruang kosong yang ditinggalkan ISIS yang mengalami kemunduran sejak daerah-daerah basisnya dihancurkan koalisi Barat.

“Syaikh Hamzah adalah tokoh penting karena nasab keluarga dan usianya,” kata Hoffman. Sebagai anak muda, Syaikh Hamzah menjadi ikon yang menarik bagi sesamanya, generasi milenial yang lahir setelah era 1990-an dan awal 2000-an. Target yang sama juga dibidik oleh ISIS di dalam propagandanya.

Memang Syaikh Hamzah sejak anak-anak kerap muncul dalam rilis foto dan video Al-Qaidah. Ia muncul dalam video membacakan syair di hadapan ayahnya, berlari dan bermain dengan anak-anak sebayanya memegang senjata.

Setelah menghilang beberapa tahun, Syaikh Hamzah beberapa kali muncul dalam rilis dengan gaya khas sang ayah. Ia menyampaikan pesan jihad dengan mengutip ayat-ayat Quran, syair perjuangan dan ajakan menyerang kepentingan Amerika dan sekutunya. Gaya ilmiah, puitis sekaligus menyerukan aksi yang kontras dengan rilis ISIS yang diwarnai darah dan pemenggalan kepala.

“Syaikh Hamzah bukan tipe berdarah-darah dan galak,” kata Elisabeth Kendall, peneliti senior syair jihad dari Pembroke College di Universitas Oxford London. “Pesan-pesannya lebih sastrawi dan berpendidikan.”

Pemimpin Al-Qaidah, Aiman Al-Zawahiri

Pemimpin Al-Qaidah, Aiman Al-Zawahiri

Rilis Terbaru

Tiga hari sebelum konfirmasi terbunuhnya Hamzah, tepat pada hari Rabu 11 September 2019, pemimpin Al-Qaidah Syaikh Dr Ayman Az Zawahiri merilis pesan video yang diperkirakan direkam setelah bulan Maret. Indikasinya ia merujuk pada pengakuan Trump atas Dataran Tinggi Golan sebagai milik sah Israel tanggal 25 maret lalu.

Dalam rilisnya Syaikh Dr Ayman Zawahiri menyerukan pada umat Islam untuk menyerang sasaran AS, Eropa, Israel dan Rusia. SITE Intelligence Group, lembaga yang melacak aktifitas online kelompok-kelompok jihadi, melaporkan bahwa Syaikh Zawahiri juga mengkritik orang-orang yang “berpaling” dari jihad.

Kritik itu ditujukan pada para mantan jihadis yang berubah pandangan setelah dipenjara dan menyebut serangan 11 September tak bisa diterima karena mengorbankan warga sipil tak bersalah.

“Jika kalian ingin agar jihad difokuskan hanya pada sasaran militer, militer Amerika ada di seluruh dunia, dari timur hingga barat,” katanya. “Negeri-negeri kalian dinodai pangkalan-pangkalan Amerika yang dipenuhi orang kafir dan menyebarkan kemaksiatan.”

Syaikh Zawahiri tak menyebut-nyebut soal pendirian khilafah. Padahal khilafah adalah salah satu wacana konseptual Al-Qaidah dalam bentuk Master Plan, yang dinisbahkan pada para pemikirnya dan dipublikasikan oleh Fouad Hussein.

Hussein adalah wartawan Yordania yang pernah berkorespondensi dengan para petinggi Al-Qaidah dan pernah dipenjarakan bersama Syaikh Abu Mush’ab Al-Zarqawi di Yordania. Ia mengemasnya dalam bentuk buku berjudul Syaikh Abu Mush’ab Zarqawi, Generasi Kedua Al-Qaidah pada tahun 2002.

Dalam rencana kerja jangka panjang itu, agenda pendirian khilafah ditargetkan pada kurun 2016. Hal itu menjadi fase kelima dari tujuh fase yang disiapkan Al-Qaidah dalam agenda jihad globalnya. Sebuah agenda yang dilaksanakan oleh organisasi itu dibantu berbagai cabangnya di berbagai penjuru dunia.

Namun Al-Qaidah tak pernah memproklamasikan pendirian khilafah pada tahun itu. Dua tahun sebelumnya, ISIS malah mendahului dengan deklarasinya sebagai Islamic State alias Daulah Islam yang kemudian dibai’at oleh orang dan kelompok dari berbagai negeri Muslim.

ISIS berawal dari ISI (Daulah Islam Irak) yang awalnya adalah Al-Qaidah Cabang Irak. ISI dideklarasikan bahkan jauh lebih awal, pada tahun 2006.  Fakta ini menimbulkan pertanyaan menggelitik. Bisakah disebut bahwa proklamasi khilafah oleh ISIS tahun 2014 adalah pelaksanaan agenda Al-Qaidah? Ataukah gagasan khilafah memang orisinil dari ISIS dengan pola pikir yang sama sekali berbeda?

Agenda Khilafah

Pertanyaan pertama itu menjadi kajian dalam buku Master Plan 2020 yang ditulis oleh Fahmi Suwaidi. Penulis menganalisis bahwa proklamasi ISI pada tahun 2006 adalah percepatan agenda pendirian khilafah oleh Al-Qaidah.

Analisis ini tak berlebihan, karena pada saat itu ISI didirikan di bawah pengaruh kuat Al-Qaidah Cabang Irak. Hubungan antara kedua tanzhim jihad itu masih erat dan bersifat atasan-bawahan. Maka wajar jika proklamasi ISI dibaca oleh pengamat sebagai pelaksanaan agenda khilafah Al-Qaidah.

Masterplan 2020.

Namun ISI belumlah nampak sebagai embrio khilafah sejak ia berdiri. Tekanan militer berat yang dialami oleh daulah itu, dari kekuatan Amerika yang dibantu milisi Syiah Irak dan beberapa kabilah lokal, bahkan membuat ISI kehilangan amir pertamanya, Abu Umar Al-Baghdadi. Pengaruh ISI tak terlalu kuat di Irak, boro-boro untuk memperluas dan membebaskan wilayah lain di sekitarnya.

Wacana ISI sebagai embrio khilafah gagasan Al-Qaidah bahkan hampir dilupakan orang.

Memang ada beberapa pengamat dan media Barat terkesan mem-blow up ide ini. Namun, lebih terlihat sebagai sikap paranoid mereka terhadap semua yang berbau jihad dan Al-Qaidah. Hingga tahun 2013 lalu, apalagi setelah syahidnya Usamah bin Ladin, Al-Qaidah dipandang kehilangan kekuatan untuk mewujudkan gagasan global sekelas khilafah.

Sebuah analisis dari pengamat Barat tentang gerakan internasional itu bahkan menyatakan bahwa “Al-Qaidah sepeninggal Syaikh Usamah masih mampu menggelar serangan-serangan kecil di beberapa negara, namun tak lagi mampu menggelar operasi skala besar yang signifikan.”

Gagasan itu baru muncul lagi di panggung dunia dua tahun setelah revolusi Timur Tengah, sebuah fenomena yang diprediksikan oleh Master Plan Al-Qaidah sejak tahun 2000-an, melanda Suriah. Revolusi yang berkembang menjadi perang asimetris itu menjadikan Suriah daerah konflik dengan perbatasan yang jebol dari penjagaan rejim Assad. Akibatnya, aliran mujahidin pun bergelombang memasuki jantung Syam itu- salah satunya dari Irak.

Lalu lahirlah ISIS yang menambahkan wilayah operasi ISI dari sekedar Irak menjadi Irak dan Suriah. Gerakan baru ini segera berkembang di Suriah yang memang sangat kondusif bagi kelompok-kelompok jihad dalam revolusi melawan rejim Nushairi Assad. ISIS segera menjadi magnet bagi mujahidin asing yang mengalir ke Suriah.

Yang juga menjadi faktor pendorong percepatan ISIS adalah kebangkitan Sunni di Irak akibat pemberlakuan UU Antiteroris baru produk rejim Nuri Al-Maliki. UU itu dipandang zalim bagi Sunni dan memicu demo meluas yang dilibas dengan keras oleh rejim. Kawasan yang tadinya dikuasai rejim Syiah Maliki pun menjadi persemaian perlawanan Sunni.

Namun, melihat perkembangan terkini yang terjadi di Syam (meliputi Suriah, Palestina, Libanon dan Yordania) dan Irak, membaca Khilafah ISIS sebagai pelaksanaan agenda Master Plan Al-Qaidah tentu tidak lagi relevan. Perselisihan antara ISIS dengan Al-Qaidah mengenai persoalan jihad di Suriah memutuskan hubungan struktural ISIS dengan Al-Qaidah.

Hubungan itu bahkan memburuk menjadi bentrokan berdarah di lapangan. Karakter ISIS yang tak ramah pada kelompok jihadis lain tak menyumbangkan perbaikan. Namun strategi propagandanya yang agresif di internet menarik simpati dan dukungan, bahkan bai’at dari para pendukung ISIS di seluruh dunia. (RR)

Bersambung …

 

Baca juga, MASTERPLAN AL-QAIDAH 2020