duniaekspress.com, 24 September 2019. Eka Wulandari, dari Desa Mekar Sari di Provinsi Jambi, memoto langit merah darah, beberapa foto tersebut diambil pada sekitar siang pada hari Sabtu (21/9). “Kondisi kabut saat itu memang tebal,” katanya. Penampakan tersebut mirip di film-film kiamat atau suasana di planet Mars. Banyak yang meragukan dan bilang bahwa foto-foto tersebut adalah hoaks.

“Ini beneran, foto dan video asli yang diambil lewat hape ku,” katanya, menambahkan bahwa kabut polusi masih parah pada Senin ini.

Seorang warga di provinsi Jambi, yang mengambil foto langit, mengatakan kabut asap itu “melukai mata dan tenggorokannya”. Setiap tahun, kebakaran di Indonesia menciptakan kabut asap yang dapat menyelimuti seluruh wilayah Asia Tenggara.

Penjelasan BMKG

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) merespons fenomena tersebut melalui cuitan di akun Twitter resmi @InfoHumasBMKG pada Minggu (22/9).

Video yang beredar tersebut dikelaskan berlokasi di Kabupaten Muaro Jambi yang berjarak sekitar 35 km dari Kota Jambi. BMKG menyebut, langit yang menjadi kemerahan ini disebabkan oleh hamburan mie atau Mie Scattering.

Istilah tersebut berarti hamburan sinaran matahari oleh partikel mengapung di udara yang berukuran kecil (aerosol).

“Mie scattering terjadi jika diameter aerosol dari polutan di atmosfer sama dengan panjang gelombang dari sinar tampak (visible) matahari. Panjang gelombang sinar merah berada pada ukuran 0,7 mikrometer,” tulis BMKG.

langit menjadi merah darah disebabkan oleh partikulat dominan berukuran lebih dari 0,7 μm. Mata manusia hanya dapat melihat para spektrum visible yakni 0,4 hingga 0,7 μm. Panjang gelombang warna merah berkisar antara 0,6 – 0,75 μm.

Ilustrasi mie scattering, rayleigh scattering terjadi untuk partikel yang jauh lebih kecil

Ini berarti saat video itu dibuat partikel yang dominan di tempat itu berukuran 0,7 μm.

Fenomena langit merah darah bukan pertama kali di dunia, pada 2018 lalu langit di selatan Irak terlihat merah. Febomena ini mirip dengan yang di Jambi, hanya saja sumber partikulatnya berasal dari badai pasir.

(RF)

Baca juga,

FITNAH DAN BENCANA AKHIR ZAMAN