SELAMAT TINGGAL ISIS DAN NIKMATILAH KESOMBONGAN KALIAN

Duniaekspress.com, 25 September 2019. Runyam. Itulah ISIS. Sejak menjadi khilafah hingga sekarang dipenuhi kerunyaman dan kekacauan. Sekarang mereka hanya sekumpulan gerombolan yang tak terkordinasi. Sembunyi di tengah-tengah gurun atau menjadi sel rahasia di perkotaan. Atau sebagian mereka menjadi tawanan di penjara-penjara berbagai negara. Isteri dan anak-anak mereka menjadi pengungsi di kamp-kamp milik Kurdi yang difasilitasi dan didanai PBB.

Sombong adalah watak mereka dan mereka sekarang dihancurkan karena kesombongan mereka. Sekalipun mereka berapologi kalau kehancuran mereka adalah tamhish (penyaringan) dari Allah. Tapi itu hanya apologi untuk menutupi kehancuran yang mereka yang mereka pintakan melalui mubahalah sang jubir, Adnani.

Merasa paling benar sendiri dan yang lain kafir murtad sekalipun mengkufuri thagut yang sama. Thaliban murtad, mereka adalah shufi deobandi, Al-Qaeda murtad, mereka jihadi murjiah. Itu sebagian kecil dari ribuan sumpah serapah kesombongan mereka dan sekarang mereka sedang membayar kesombongan mereka. Dan masih banyak kelancangan lisan mereka yang tidak mungkin lagi untuk disebutkan. Kepada Allah kita berlindung dari kedunguan mereka dan kita memohon agar tidak tertimpa penyakit yang sama, sombong dan merasa benar sendiri.

Sekarang apa nasib mereka. Sebagian besar mereka telah mati terkepung musuh lalu dibantai dari udara. Mereka terpanggang oleh roket-roket pesawat musuh. Mereka dibakar di dunia dan di akhirat sudah menunggu hukuman atas kejahatan dan kesombongan mereka. Kasihan? Iya. Pasti. Tapi itulah hukuman yang mesti mereka rasakan. Ingat. Rasulullah mengingatkan. “Man la yarham la yurham”, orang yang tidak menyayangi maka ia tidak disayangi. “Kama tadinu tudan”. Sebagaimana kamu memperlakukan manusia maka seperti itu jugalah kamu akan diperlakukan. Sekarang tunai mereka mendapatkannya.

Para wanita mereka tertahan atau -mungkin- tertawan di kamp-kamp. Ukhuwah mereka tercerai berai. Karena memang mereka bukan orang yang tertarbiyah baik. Sebagian para wanita itu mendapatkan kiriman uang dari sanak keluarga di Indonesia. Kiriman tidak seberapa karena keluarga yang berkirim juga khawatir mereka akan dipantau PPATK. Lalu bagaimana dengan mereka yang tidak mendapatkan kiriman dari keluarga? Miris keadaan mereka.
Pernahkah mereka, para wanita itu merenung mengapa Allah menimpakan azab yang pedih ini. Azab yang disebut para ulama dengan azab “adna” atau azab duniawi. Sedangkan azab “akbar”, azab ukhrawi sedang menunggu mereka. Pernahkah para wanita yang meninggalkan para suami merenung betapa sakitnya apa yang dirasakan suami mereka ketika ditinggalkan lalu mereka menikah dengan lelaki lain tanpa ada proses cerai? Para wanita yang dengan semangat berapi-api mengkafirkan suami, keluarga dan lalu memilih ISIS berangkat ke Suriah dengan meninggalkan suami dan keluarga. Apakah mereka merenungi itu semua? Mungkin saja tidak, karena info terakhir mereka masih saja congkak dan bangga di kamp-kamp Kurdi sana.

Lalu bagaimana dengan ISISER yang ada di Indonesia? Mereka juga masih sombong besar kepala dan meneror kelompok lain dengan label dan vonis menyakitkan. Mereka menjadi sel-sel tidur yang “jemari” mereka sangat menyakit dengan komentar-komentar kasar di media sosial. Setelah Allah hancurkan ISIS dengan kehanduran yang belum pernah terjadi pada kelompok jihad sebelumnya, para ISISER ini masih saja sombong. Lisan mereka masih tajam. Vonis-vonis mereka masih saja ditiupkan. Si fulan antek BNPT. Si fulan kerja sama dengan DENSUS. Si fulan musyrik. Si fulan budak demokrasi. Masih banyak lagi vonis-vonis mereka. Namun satu hal yang harus disampaikan atau kita sampai. Selamat tinggal ISIS dan ISISER. Nikmatilah kesombongan kalian. Kalian sudah over, selesai. Kalian sudah hancur. Mubahalah yang kalian pintakan sudah dikabulkan.

[sontoloyo]

Baca juga,

ORANG-ORANG EKSTREM ITU AKALNYA TERTUTUP DAN KEPALA MEREKA DIPENUHI DENDAM