DUNIAEKSPRESS.COM (30/9/2019)- Perdana Menteri Malasyia Mahathir Mohamad mengatakan pembentukan Israel dengan merebut tanah Palestina dan mengusir 90 persen populasi etnis Arabnya adalah penyebab tumbuhnya akar terorisme.

“Sejak itu, perang telah terjadi di banyak negara, banyak yang terkait dengan penciptaan Israel. Dan sekarang kita memiliki terorisme ketika tidak ada sebelumnya, atau setidaknya tidak ada pada skala sekarang,” kata Mahathir dalam pidatonya di sidang PBB di New York, seperti yang dirilis Malaymail, Sabtu (28/9/2019).

“Aksi militer melawan aksi terorisme tidak akan berhasil. Kita perlu mengidentifikasi penyebabnya dan menghapusnya. Tetapi kekuatan besar menolak untuk berurusan dengan akar penyebabnya,” ketusnya dia.

PM Mahathir menambahkan bahwa Malaysia menerima negara Israel “sebagai fait accompli”.

Baca Juga:

RATUSAN YAHUDI RAYAKAN TAHUN BARU DI AL-AQSHA

Namun Mahathir menekankan bahwa Malaysia tidak bisa menerima perampasan terang-terangan atas tanah Palestina oleh Israel untuk permukiman mereka dan juga pendudukan Yerusalem oleh Israel. Orang-orang Palestina bahkan tidak bisa memasuki premukiman yang dibangun di tanah mereka.

“Karena penciptaan Israel, sekarang ada permusuhan terhadap Muslim dan Islam. Muslim dituduh terorisme bahkan mereka tidak melakukan apa pun. tegas Mahathir.

Negara-negara Muslim, kata Mahathir telah mengalami destabilisasi melalui kampanye untuk demokrasi dan perubahan rezim. “Muslim di mana-mana telah ditindas, diusir dari negara mereka dan ditolak suaka.”

“Ribuan orang mati di laut dan di musim dingin yang parah. Orang tidak dapat menyangkal bahwa di masa lalu tidak ada migrasi besar-besaran. Sekarang perang dan ketidakstabilan akibat perubahan rezim telah memaksa mereka untuk melarikan diri dari negara mereka,” tambahnya.

Mahathir juga mengatakan bahwa penerapan aturan hukum telah selektif.

“Teman-teman dapat melanggar hukum apa pun dan bebas dari hukuman. Dengan demikian, Israel dapat melanggar semua hukum dan norma internasional dunia dan itu akan terus didukung dan dipertahankan. Negara-negara yang tidak ramah tidak bisa berbuat apa-apa dengan benar. Tidak ada keadilan di dunia,” tambahnya.

“Bahkan penduduk asli dibantai, dibunuh secara brutal dan diperkosa dalam pandangan penuh dunia yang dilatar belakangi oleh rumah-rumah dan desa-desa korban yang terbakar,” ujar Mahathir.

“Mereka dipaksa untuk bermigrasi dan sekarang mereka tidak berani kembali ke Myanmar bahkan ketika ditawarkan. Mereka tidak dapat mempercayai militer Myanmar kecuali jika ada bentuk perlindungan non-Myanmar yang diberikan.

Mahathir menjelaskan bahwa ketidakberdayaan dunia dalam menghentikan kekejaman yang ditimbulkan terhadap Rohingya di Myanmar telah mengurangi perhatian terhadap resolusi PBB.

“Sekarang, terlepas dari resolusi PBB tentang Jammu dan Kashmir, negara itu telah diserang dan diduduki.”

“India harus bekerja sama dengan Pakistan untuk menyelesaikan masalah ini. Mengabaikan PBB akan menyebabkan bentuk pengabaian lain terhadap PBB dan Aturan Hukum,” katanya.